Sang Pelindung yang “Diburu”

Pohon gaharu menjadi primadona karena kandungan resinnya yang berbau harum. Mitos tentang keangkeran pohon setan ini tak lagi mujarab, seiring semakin mahalnya harga di pasaran internasional. Ia pun kian langka, kian merana.

Dewi Cholidatul

Sebatang pohon gaharu berdiri tegak di antara pepohonan rimbun lainnya di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ia menjadi peneduh bagi Anhinga melanogaster yang akan memulai konsernya di salah satu percabangan horisontal yang melekat pada tajuk bulat nan lebat. Daunnya yang lonjong memanjang  dengan ujung runcing, mengkilap.

Tapi konser itu berantakan, saat si burung pecuk ular itu mendengar suara mesin pemotong kayu berderit. Saat menoleh ke bawah, ia telah mendapati seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan sedang berusaha menggesek gigi-gigi tajam gergajinya pada batang pohon malang itu. Sontak, ia dan beberapa penghuni hutan lainnya berlari, terbirit, tanpa bisa mengajak sang pelindungnya. Gaharu itu terluka. Gaharu yang “diburu”.

“Sukarli ditangkap bersama dua barang bukti dua kilo galih gaharu dan “peret” alat untuk mengambil galih gaharu di Seksi Kualapenet dalam Taman Nasional Way Kambas,” kata Kapolsek Brajaselebah, Lampung Timur, Iptu Marbun. Kala itu tim gabungan antara petugas Taman Nasional dan kepolisian sedang melakukan patroli.

Anggota keluarga Thymelaeaceae ini berukuran besar dan tinggi. Tingginya bisa mencapai sampai 40 meter dengan diameter batang lebih dari 60 cm. Batangnya lurus, tidak berbanir, dan berkayu keras. Kulit pohon halus dan berwarna coklat keputihan.

Batangnya yang berkualitas tinggi menjadi primadona dalam industri perkayuan, kosmetik dan obat-obatan. Ini karena ia juga memiliki gupal (galih) yang mengandung resin atau getah, yang menjadikan kayu ini semakin khas, unik, dan beraroma wangi.

Tak heran, salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia ini diperebutkan di negara-negara tetangga, seperti Saudi Arabia, Kuwait, Yaman, Turki, Singapura, Jepang, China, hingga Amerika Serikat. Khusus untuk bagian gupal kayu ini dihargai hingga puluhan juta rupiah perkilogramnya.

Sayangnya, mahalnya harga kayu gaharu berimbas pada semakin langkanya pohon ini. Pencurian terhadap pohon ini pun semakin marak terjadi. Nilai ekonomis yang sangat tinggi ini berdampak pada terancamnya kelestarian pohon gaharu di habitat aslinya.

Tidak sedikit masyarakat yang memilih menebang gaharu dari alam ketimbang membudidayakannya. Apalagi, pembudidayaan kayu ini membutuhkan waktu yang lama. Sementara, untuk menghasilkan gaharu yang mengandung resin pun tidak mudah.

Pencurian kayu gaharu di Taman Nasional Way Kambas sendiri baru terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Para pembalak bahkan rela masuk ke dalam hutan dan tinggal selama lima bulan demi menemukan si “pohon setan” ini.

Agar terhindar dari kepunahan, konferensi IX-CITES di Florida, Amerika Serikat, 1994 silam, membatasi perdagangan jenis kayu ini secara ketat dan di masukkan ke dalam daftar Apendix II.

Meskipun, anggota genus Aquilaria ini memiliki sedikitnya 20 spesies yang tumbuh dan tersebar di Asia, mulai dari China, Asia Tenggara, hingga India. Di Indonesia sendiri terdapat sedikitnya 6 spesies, salah satunya adalah Aquilaria malaccensia.*

Leave a Reply

Top