Si Kepala Pipih Tanpa Paru-Paru

Satwa endemik Kalimantan ini semakin terancam kehidupannya, menyusul penambangan emas yang menyebabkan pendangkalan sungai serta deforestasi hutan yang terus terjadi.

Dewi Cholidatul

Seekor Barbourula kalimantanensis berenang-renang di tepian Sungai Kelawit, Nanga Pinoh yang mengalir deras di tengah-tengah hutan hujan tropis, tak jauh dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat. Kepalanya pipih mendatar dengan moncong yang lembar membundar. Sementara badan gempalnya diselimuti kulit berwarna hijau lumut mendekati kelabu.

Kulitnya yang licin membuatnya semakin lihai berenang di sungai perairan dangkal nan berbatu itu. Kulit ini sekaligus menjadi tempatnya bertumpu untuk bernafas. Ya, salah satu makhluk unik ini adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak mempunyai paru-paru. Untuk bernafas, amfibi khas Kalimantan ini sepenuhnya bergantung pada kulitnya. Meskipun, memiliki lubang hidung yang terletak di ujung moncong dan rata dengan kulit, namun ia tak memiliki celah tekak (glottis) sebagai muara saluran udara.

Kondisi tersebut juga sekaligus mengklasifikasikan hewan terrestrial ini sepenuhnya merupakan makhluk akuatik. Para ahli memperkirakan, ketiadaan paur-paru pada anggota ordo Anura ini sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungannya yang berair deras dan kaya oksigen. Dengan kondisi tersebut, ia memanfaatkan permukaan kulitnya untuk menyerap oksigen, dan menghilangkan paru-paru yang menjadikan tubuh katak sukar menyelam dan mudah dihanyutkan arus.

Katak temuan pakar herpetofauna Djoko T. Iskandar ini berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 6,6 cm, untuk jantan, dan 7,7 cm untuk betina. Tungkai depan dan belakang gemuk dengan selaput renang yang penuh hingga ke masing-masing ujung jarinya. Pada punggungnya, terdapat bintil runcing kecoklatan atau kehitaman.

Sejumlah peneliti mendeskripsikan satwa ini tak memiliki gendang telinga. Kondisi ini diperkirakan akibat kompensasi adaptasi yang dilakukannya agar bisa berenang dengan leluasa di arus yang deras dan kaya oksigen.

Ia juga digolongkan sebagai hewan yang pemalu. Ini karena kebiasaannya yang senang bersembunyi di balik bebatuan di dalam air.

Salah satu satwa endemik Kalimantan ini menjadi satu diantara 9 amfibi langka yang berstatus terancam punah di Indonesia. Pun menjadi salah satu katak endemik kalimantan yang sebarannya sangat terbatas. Daerah sebarannya sangat terbatas di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, yakni di daerah Anak Sungai Kapuas di Nanga Sayan dan Sungai Kelawit, Nanga Pinoh.

Sayangnya, hingga kini, populasi salah satu keluarga Bombinatoridae ini belum diketahui secara pasti. Beberapa peneliti memperkirakan distribusinya kurang dari 500 km persegi serta memiliki tren penurunan.

Ancaman terhadap spesies ini sangat tinggi karena adanya aktivitas penambangan emas ilegal dan rusaknya sungai-sungai akibat endapan dan pencemaran limbah merkuri. Dipengaruhi juga akibat deforestasi yang terus terjadi di Kalimantan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, status kritis disematkan pada katak jenis ini oleh IUCN Redlist, meskipun ia belum termasuk satwa yang dilindungi oleh Pemerintah.*

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.