Si Puteri Duyung di Ujung Maut

Mitos tentang penguasa laut, puteri duyung, ternyata tak dibarengi dengan kenyataan. Ia diburu dan dibunuh demi minyak atau mitos pesugihan yang mengiringinya. Populasinya pun kian menurun, tanpa ampun.

Dewi Cholidatul

Nafasnya tersengal saat air laut mulai susut di bawahnya. Ia semakin dekat dengan daratan. Perutnya lapar bukan kepalang. Tapi, rumput-rumput di laut tak lagi mudah didapatkan. Tak cukup waktu enam menit untuk mendapatkannya, apalagi untuk ukuran bayi sepertinya. Ibunya belum lagi jenak mengajarinya mencari makan, sebelum ia tertangkap jejaring nelayan.

Ia tak punya pilihan lain. Tenaganya tak lagi kuat. Ia hanya berdiam sebelum ajal menjemputnya di pesisir pantai pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

“Ia ditemukan terdampar di pesisir pulau Komodo,” kata salah satu regu penyelamat bayi dugong dari Bali Safari & Marine Park dan Batang Dolphin Centre, Dr Nimal Fernando, belum lama ini.

Satwa bernama latin Dugong dugon ini ditemukan dalam kondisi luka-luka karena tergores karang tajam. Ia tampak kekurangan nutrisi dari air susu induknya. Ia duduga sudah kehilangan induk. “Secara statistik dapat diperkirakan bahwa kemampuan bertahan hidup anak dugong tersebut sangat kecil,” katanya.

Mamalia laut ini mempunyai tubuh yang besar. Panjang badan duyung dewasa sekitar 2,5-3 meter dengan berat 225-450 kg. Kulitnya tebal, keras dan licin dengan warna abu-abu agak kebiruan.

Satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae ini memiliki kepala yang bulat dengan mata kecil dan lubang hidung di bagian atas moncong. Ia memiliki bulu yang terletak di bibir atas yang berguna untuk membantu menemukan makanan. Penglihatan duyung terbatas tetapi memiliki pendengaran yang tajam.

Hewan nokturnal yang lebih banyak aktif di malam hari ini sering disebut sebagai lembu laut karena memamah berbagai tumbuhan laut seperti rumput laut, lamun dan akar-akar tanaman lainnya. Maun pemakan dedaunan ini sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber makanan, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat ia dilahirkan. Hewan ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang, seperti di kawasan teluk dan hutan bakau.

“Dugong menjadi indikator keberadaan lamun. Dan ekosistem lamun tidak hanya penting bagi dugong, tetapi juga makhluk laut lainnya juga manusia,” kata Sekretaris Jenderal Pemanfaatan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Dermawan.

Ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik, walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia.

Sayangnya, anggota Sirenia ini menjadi hewan buruan selama beribu-ribu tahun karena daging dan minyaknya. Kawasan penyebaran dugong semakin berkurangan, dan populasinya semakin menghampiri kepunahan. Keberadaannya kerap menjadi buruan masyarakat dan kerap terperangkap jaring nelayan. Ia bahkan dijadikan sebagai hewan peliharaan hingga belasan tahun. “Masih ada mitos di masyarakat mengambil air mata dugong dan taringnya untuk pesugihan,” katanya.

Lembaga konservasi internasional berbasis lingkungan, IUCN, mengklasifikasikan kerabat evolusi dari gajah ini sebagai spesies hewan yang terancam. Sementara, lembaga lainnya, CITES, mengharamkan perdagangan satwa ini, berikut barang-barang produksi turunannya.

Tapi, perlindungan tersebut ternyata belum cukup. Populasi spesies ini terus menurun, akibat pembukaan lahan baru, perburuan, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam menangkap ikan.

Padahal, usia satwa ini paling lama hanya sekitar 60 tahun. Sementara, angka kelahirannya pun sangat rendah, yakni sekitar 1 kelahiran dalam 7 tahun. Duyung juga terancam punah akibat badai, parasit, serta hewan pemangsa seperti ikan hiu, paus pembunuh dan buaya. Ia termasuk binatang yang setia dengan pasangannya dan bersifat monogami.

“Dugong sendiri adalah mamalia laut yang siklus hidupnya sangat singkat, usia paling lama 60 tahun. Dan populasinya sedikit karena masa reproduksinya cukup lama sampai tujuh tahun, dan hanya melahirkan satu bayi di setiap kelahiran,” kata

Untuk melindungi satwa ini, pemerintah bersama sejumlah negara lainnya mendapatkan dana hibah dari lembaga nonprofit internasional, dari GEF bekerja sama dengan The Mohamed bin Zayed Species conservation fund migratory species (UNEP-CMS), untuk pelestarian si puteri duyung dan habitatnya, padang lamun. Dana sebesar Rp 11 miliar rupiah itu juga diharapkan dapat melibatkan masyarakat agar bersinergi dan masyarakat mendapatkan manfaatnya.

“Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya melihat dugong dari gambar, kita harus bergerak cepat untuk melestarikannya,” kata Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan.

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.