Danau Limboto Melindungi Burung ini

Danau Limboto adalah lahan basah terpenting yang menjadi persinggahan bagi burung migran, selain jaminan ketersediaan air bagi masyarakat sekitar Gorontalo.Dewi Cholidatul

Seekor burung seukuran 15 cm mematuk-matuk bekicot di danau Limboto, Gorontalo. Segerombolan eceng gondok yang merimba menutupi permukaan danau, seolah menjadi penjajah yang sedikit menyulitkannya mencari makanan favoritnya.

Bulu burung bernama latin Calidris ruficollis ini berwarna cokelat-kelabu dengan bintik-bintik dan garis tak beraturan. Ia memiliki pusat tungging dan ekor coklat gelap. Sisi ekor dan bagian bawah putih. Sementara, paruh dan kakinya berwarna hitam. Iris matanya berwarna cokelat gelap, sementara parunya lebih kelam. Alisnya yang putih seolah menjadi gurat penanda panjangnya perjalanan yang telah ditempuh dari negeri asalnya.

Anggota keluarga Scolopacidae ini adalah salah satu pengunjung tetap danau berlumpur ini. Daratan yang berlumpur kaya akan nutrisi dan invertebrata sehingga menjadi sumber pakan burung penetap maupun migran, seperti krustasea dan moluska. Struktur danau yang dangkal dan berlumpur menyebabkan danau ini menjadi lokasi yang baik bagi habitat burung-burung air dan perancah.

“Itu sebabnya sangat penting untuk mempertahankan kawasan dan fungsi ekosistem di danau ini,” kata peneliti dan ahli biodiversitas dari Burung Indonesia, Panji Fauzan.

Tempat ini memang menjadi tempat persinggahan utama bagi sedikitnya 49 jenis burung migran, berdasarkan catatan Burung Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan metode jalur transek di tanggul yang membelah danau dan metode hitung di sejumlah area danau, sebagian besar burung yang terpantau di kawasan tersebut merupakan suku Scolopacidae, seperti kedidi leher merah, kedidi golgol, trinil lumpur asia dan mandar kelam, dara-laut sayap-putih, elang bondol, dan blekok sawah.

Danau ini ramai dikunjungi para burung migran sejak pertengahan tahun. Bulan Agustus hingga September merupakan waktu tertinggi kunjungan burung migran ke kawasan tersebut. Mereka datang dari belahan bumi utara, seperti Madagaskar, Pakistan, China hingga Rusia. Mereka singgah di Danau Limboto sebelum melanjutkan perjalanannya ke daerah selatan seperti Benua Australia.

“Namun, sampai saat ini tidak ada data yang cukup baik mengenai status burung-burung di Danau Limboto. Bahkan, berdasarkan sensus burung air Asia yang dilaksanakan pada 1987 hingga 2007, tidak ada data dari danau tersebut.”

Meski memiliki potensi besar terhadap burung migran, namun kondisi Limboto yang dangkal dan dipenuhi eceng gondok merupakan persoalan yang sangat meresahkan.

Perambahan perkebunan sawit yang telah menguasai hutan di kabupaten Gorontalo temasuk menjadi salah satu penyebab semakin berkurangnya kualitas habitat danau Limboto. Ini karena aliran sungainya bermuara ke Danau Limboto, sehingga pada musim kemarau tempat ini menjadi kering kerontang. Tanah berlumpur yang merupakan dasar danau terbelah. Bibir danau pun semakin jauh.

“Hutan di hulu sudah gundul. Ini persoalan utama yang harus diselesaikan,” kata Badan Lingkungan Hidup Gorontalo, Fadly Alamri. Selain itu, wilayah sekitar danau tersebut bersinggungan langsung dengan lima kecamatan yang didiami oleh sekitar 2.000 jiwa.

Padahal, danau danau Limboto merupakan salah satu oase terbesar yang ada di Gorontalo. Ia juga menjadi penyumpai ikan air tawar, transportasi, permukiman perdesaan, lahan pertanian sawah, lahan pertanian hortikultura, ruang terbuka hijau, permukiman perkotaan, sejarah, pariwisata dan rekreasi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah setempat berusaha merevitalisasi danah Limboto dalam rencana besar bernama sabuk hijau Limboto. Salah satunya dengan cara membuat zonasi danau dan jaring apung ramah lingkungan. Ini dilakukan untuk mengatasi eceng gondok yang sudah 70 persen merambat dan menguasai danau, serta mengatasi problem sedimentasi. Sebelumnya, pemerintah juga berusaha melakukan pengerukan untuk mengatasi pendangkalan yang juga menghantui danau tersebut.

“Ini penting dilakukan karena kawasan tersebut menjadi salah satu tempat persinggahan terpenting bagi burung migran di Semenanjung Sulawesi bagian utara.”