Banda Neira: Dari Sejarah hingga Surga Taman Laut

Banda Neira memiliki daya tarik mulai dari wisata sejarah, alam, hingga surga taman laut.

Dewi Cholidatul

Satu buah pala jatuh ke bumi. Ia terus menggelinding, menuruni anak tangga benteng Holandia yang ada di Desa Lonthoir, Pulau Banda Besar, Maluku. Ia berhenti saat terantuk sepasang kaki berbalut sepatu boot yang mulai lelah menaiki anak tangga.

Sesaat, tangan sang pemilik sepatu boot itu meraih buah berwarna kuning pucat yang telah terbelah itu. Memperlihatkan biji ranum berwarna cokelat kehitaman yang dilapisi pelindung lainnya berwarna merah. Di atas sana, masih banyak buah lain yang bergelantungan, minta dipanen.

Buah bernama latin Myristica Fragrans Houtt ini yang mengubah wajah pulau ini. Dari pulau yang penuh damai, menjadi pulau merah darah.

Demi menguasai pulau seluas seorang petinggi VOC, Jan Pieterzoon Coen, memanggil algojo samurai dari Jepang. Para Samurai itu khusus diperintahkan membantai 44 orang kaya banda yang enggan takluk pada perintahnya. Peristiwa itu terjadi pada 1621. Yang tersisa, dibuang ke Batavia.

“Harga satu kg biji pala, bisa membangun satu buah rumah di Eropa,” kata almarhum Des Alwi, dalam bukunya berjudul Banda Neira. Tak heran, Coen menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Mendengar pembantaian mengerikan di pulau Neira, orang-orang Banda mulai susut. Satu-persatu, mereka mulai mengambil jalan aman dengan menyepakati sebuah perjanjian monopoli perdagangan nutmeg, oleh Belanda. Perjanjian dengan meneteskan darah masing-masing orang ini belakangan dikenal dengan Bloedsteen. Ia diabadikan dengan sebuah batu alam jenis andesit berukuran 164 x 195 cm.

Tapi, pertumpahan darah tetap tak berhenti. Pulau ini terus diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa, mulai dari Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis. Untuk mengamankan kepentingannya, Belanda membangun benteng Holandia ini, pada 1642. Benteng ini langsung berhadapan dengan rumah besar Gubernur Jenderal VOC (Istana Mini) di pulau Neira.

Benteng yang sebelumnya bernama Fort Lonthoir ini dibangun untuk mengendalikan lalu lintas laut yang melintas selat antara Naira dan Lonthoir, terutama untuk memonitor aktivitas perdagangan pala dan fuli di desa/kampung sepanjang pantai pulau Lonthoir. Tak ada yang bisa lewat dari pengawasannya.

Benteng yang dibangun dari susunan batu andesit, batu karang dan bata ini menghadap ke Gunung Api dan selat Zonnegat. Kondisi benteng seluas 450 meter persegi ini masih tampak utuh, kecuali dinding pada sisi timur yang tidak ada lagi.

“Material dinding digunakan oleh penduduk untuk membangun rumah tinggal,” kata seorang penduduk setempat.

Untuk mencapai benteng ini harus berjalan memutar dari kampung Lonthoir dan kemudian menaiki tangga sekitar 260 buah anak tangga.

Tak jauh dari tempat ini, terdapat sebuah sumur tua, Parigi Lonthoir. Ia terletak pada sebuah lereng bukit, kearah atas perkebunan dari Perk Kelle. Sumur ini berbentuk persegi pada bagian luar dengan ukuran 220 x 173 cm, sementara itu pada bagian dalam berbentuk bulat dengan diameter 280 cm. Konon air dari sumur ini pernah menjadi penyuplai air bersih ke pemerintahan Belanda di Batavia yang diangkut dengan kapal. Saat ini air dari sumur ini dikhususkan untuk kepentingan upacara ritual.

Selain benteng di Banda besar, pulau-pulau yang menjadi anggota Kepulauan Banda ini juga menyimpan sejarahnya masing-masing yang tak kalah menarik. Jauh sebelum Belanda membangun benteng Holandia, Portugis membangun benteng lainnya, bernama Benteng Belgica. Benteng berbentuk persegi lima ini bahkan telah tercatat sebagai salah satu “World Heritage” oleh UNESCO.

Benteng yang dibangun tahun 1621 ini memiliki dua lantai yang bisa dilihat secara menyeluruh. Bagian bawah beberapa ruangan tahanan wanita dan pria dengan alat pasung dan juga alat pemenggal kepala, tempat tiang bendera juga dua buah sumur yang konon sebagai terowongan menuju benteng Nassau dan satu lagi menuju pelabuhan.

Lima buah meriam berlogo VOC berjajar di lantai dua. Lantai ini juga dilengkapi dengan ruangan terbuka dengan 5 buah menara. Selain persaingan Pala, pulau ini juga menjadi tempat pengasingan dua pahlawan Indonesia, Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.

Selain kaya akan sejarah dan pesona alam yang indah, pulau ini juga menyuguhkan surga bawah laut yang indah. Pesona Laut Banda bahkan sudah dikenal pelancong dunia. Perairan Banda diapit oleh pulau-pulau kecil yang cantik seperti Pulau Gunung Api, Pulau Keraka, Pulau Neira, Pulau Hatta, Pulau Ai dan Pulau Sjahrir.

Rute menyelam biasanya mulai dari Banda Neira hingga tembok vertikal di Pulau Hatta. Semua pulau punya viariasi ciri khas masing-masing kecantikan alam Banda. Barisan karang-karang bercelah akan menyapa, disertai gerombolan ikan warna-warni yang lucu dan berenang bebas.

Kawasan ini juga menjadi surga bagi para pemancing ikan cakalang dan tuna. Selain itu, atraksi lumba-lumba dan ikan paus dapat disaksikan dari dekat.

Kawasan ini juga menawarkan wisata budaya. Salah satunya adalah Timba uli, yakni tradisi masyarakat Banda menangkap hewan laut semacam ulat laut hijau panjang dengan serokan. Hasil tangkapan tadi dimasak dan dimakan ramai-ramai.

Untuk mencapai pulau ini, para wisatawan dapat menggunakan dua cara, laut dan udara. Keduanya hanya bergerak dari Ambon.

Jalur udara ke kawasan ini hanya dilayani dengan menggunakan pesawat Cassa bermuatan 10-12 orang. Pesawat ini hanya melayani tiga kali perjalanan pulang-pergi dalam seminggu, pada pagi hari.

Sementara, perjalanan laut dilayani dengan kapal cepat dan pelni. Sama halnya dengan pessawat, kapal cepat Ambon-Banda Neira hanya melayani rute 2x seminggu, dengan lama 5 jam perjalanan. Tapi, apabila musim ombak, kapal tidak beroperasi.

Sementara, kapal Pelni yang melayani rute banda neira ada 2 yaitu KM TIDAR dan KM KELIMUTU. Memilih moda transportasi ini akan memakan waktu yang lama, karena masih singgah di beberapa daerah sesuai rute dan jadwal perjalanan.

Leave a Reply

Top