Yang Kian Tersisih dari Pulau Dewata

Burung khas Pulau Dewata ini kian tersisih di antara industrialisasi pariwisata besar-besaran yang dilakukan. 

Dewi Cholidatul

Seekor burung berwarna putih sedang bertengger di tajuk pohon pilang, di Taman Nasional Bali Barat. Gerombolan buah burahol yang menjuntai di pohon sebelahnya, tak menarik perhatiannya. Matanya yang berwarna legam sedang awas menangkap pergerakan seekor serangga. Saat serangga itu mendekat, paruhnya yang pendek segera menangkap dan menelannya.

Satwa seukuran 25 cm itu adalah Jalak bali. Bulunya yang didominasi warna putih dan sedikit warna hitam pada bagian ekornya terlihat kontras dengan sekitarnya yang didominasi warna cokelat dan hijau. Bagian pipi burung ini tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Di sela kesibukannya memamabiak, ia memperdengarkan suara merdunya ke semesta.

Taman Nasional Bali Barat merupakan habitat alami bagi burung bernama lokal Curik ini. Mereka mencari makan, tidur dan berkembangbiak hanya di hutan itu, dan tidak ada satupun tempat di dunia ini yang ada Jalak Bali selain di hutan Taman Nasional seluas nyaris 20 ribu hektare itu. Sementara, pohon pilang menjadi tempat favoritnya untuk bertengger, karena menyediakan banyak serangga dan ulat untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Sesekali ia memakan bebuahan yang disediakan oleh alam.

Saat bertelur untuk memperbanyak keturunannya, satwa cantik yang ditemukan pertama kali pada 1901 ini lebih sering menggunakan lubang di pohon bekas sarang Burung Pelatuk yang sudah ditinggalkan penghuninya. Sayangnya, populasi burung ini kian menyusut akibat adanya perubahan habitat alaminya di sepanjang barat laut pantai Bali. Kondisi ini diperparah dengan maraknya perburuan liar yang tentunya ilegal, guna memenuhi permintaan pasar dunia untuk dijadikan burung peliharaan. “Jalak bali terancam punah karena perburuan yang masih banyak terjadi ditambah pula ancaman predator dan kompetitor,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tachrir Fathoni.

BirdLife International mencatat, populasi burung khas ini di Taman Nasional Bali Barat mencapai 72 individu, pada 2008. Namun jumlah tersebut tersisa 49 individu, pada tahun lalu.

Organisasi internasional berbasis lingkungan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, IUCNm menetapkan statusnya Kritis. Sementara konvensi perdagangan internasional untuk satwa liar, CITES, memasukkan jalak bali dalam Appendiks I yang artinya terlarang untuk diperdagangkan.

Untuk itu, pemerintah bersama berbagai pihak menjadikan kawasan Taman Nasional yang terletak di sebelah barat pulau Dewata ini sebagai fokus utama dalam upaya pelestarian populasi Leucopsar rothschildi ini. Terutama, melalui pelepasliaran jalak bali yang berhasil dikembangbiakkan di penangkaran.

“Sejak 3 tahun terakhir, kondisi alam sangat mendukung perkembangbiakan jalak bali. Namun, pencurian masih terjadi, karena jalak bali banyak diminati pengemar burung. Selain itu, ada juga yang mati dimakan predator seperti musang dan ular,” kata Kepala Balai TNBB, Tedi Sutedi. Upaya ini bahkan dilakukan dengan memasang microchip atau transponder, guna memudahkan monitoring pergerakannya.

Taman Nasional Bali Barat terdiri dari beberapa tipe vegetasi yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan hujan dataran rendah, savana, terumbu karang, padang lamun, pantai berpasir, dan perairan laut dangkal dan dalam. Ia memiliki 175 jenis tumbuhan dan 14 jenis diantaranya merupakan tumbuhan langka seperti bayur, ketangi, burahol, cendana, dan sonokeling.

Kawasan ini menyimpan berbagai keistimewaan satwa. Selain memiliki satwa burung yang endemik dan langka yaitu burung jalak bali, tempat ini juga menjadi surga bagi burung lainnya, seperti jalak putih, terucuk, dan ibis putih kepala hitam.

Kawasan ini juga mengoleksi berbagai biota laut yang terdiri dari 45 jenis karang seperti Halimeda macrolaba, Chromisspp, Balistes spp, Zebrasoma ssp, dan Ypsiscarus ovifrons. Berbagai jenis ikan juga juga banyak tersimpan di tempat itu, seperti ikan bendera, ikan sadar, barakuda, 9 jenis molusca.*

Leave a Reply

Top