Laut Sampah di Taman Laut Bunaken

Lautan sampah masih menjadi masalah serius di Taman Nasional Laut Bunaken.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan ila gasi mengendap-endap diantara kima raksasa, Tridacna gigas. Ekornya yang berwarna kuning terkekang seutas plastik yang melambai-lambai tersangkut di antara karang tepi. Di depannya, seekor kepe-kepe kuning juga berjuang melepaskan diri dari jeratan plastik.

Sampah plastik menjadi ancaman bagi terumbu karang yang ada di Taman Nasional Laut Bunaken, Manado, dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Timbunan sampah plastik itu terbawa arus dari teluk Manado, menjadi penyebab utama kerusakan.

“Kalau sampah ini tidak teratasi, habis sudah obyek wisata bawah laut yang terkenal itu,” kata peneliti lingkungan Laut Teluk Manado dan Taman Laut Bunaken, Dr Ferol Warow.

Sampah yang terbawah arus laut dari Teluk Manado berasal dari masyarakat kota Manado dan sekitarnya yang sembarangan membuang sampah ke sejumlah sungai yang bermuara di Teluk Manado. Sampah yang bermuara di laut itu tersangkut di antara karang, ganggang, padang lamun, hutan bakau, serta kima yang ada di kawasan tersebut.

Kondisi ini menyebabkan berbagai biota laut, mulai dari udang, kepiting, moluska, dan berbagai ikan karang yang ada di sana mengalami penurunan populasi. “Padahal, Taman Laut Bunaken sejatinya belum banyak memberikan peningkatan kesejahtraan bagi masyarakat Manado dan sekitar Bunaken.”

Pemerintah mencatat, wisatawan yang berkunjung ke Taman Laut Bunaken selalu kecewa karena banyaknya sampah. Ini terlihat dari kunjungan wisatawan ke Taman Laut Bunaken yang terus mengalami penurunan. Sejak awal tahun ini, baru sekitar 50 wisatawan asing yang datang ke Bunaken. Sementara, untuk wisatawan dalam negeri jumlahnya baru ratusan. “Angka ini sangat sedikit sekali. Bahkan, Bunaken tidak lagi menjadi destinasi utama wisatawan, baik turis lokal maupun asing,” kata Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Happy Korah, lewat Kepala Bidang kebudayaan, Ferry Sangian.

Permasalahan sampah di Taman Nasional dengan luas nyaris 90 ribu hektare itu memang menjadi masalah klasik yang tak pernah terpecahkan sampai sekarang, meskipun begitu banyak upaya untuk menangani sampah ini, baik diskusi maupun aksi pembersihan tapi akar dari masalah sebenarnya belum terpecahkan. Ini karena kesadaran masyarakat yang ada di Kota Manado dan sekitarnya masih kurang, masih banyak warga yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai dan pesisir pantai yang tetap membuang sampah di sungai dan bermuara ke laut dan pulau Bunaken.

“Taman nasional merupakan satu-satunya taman laut yang berada dalam kota. Permasalahan sampah yang belum terselesaikan hingga sekarang seringkali hanya menyalahkan kami pihak pengelola. Padahal ini merupakan tanggung jawab semua pihak. Seberapa besar upaya yang kita lakukan untuk membersihkan sampah yang mengapung di laut dan di darat, tidak akan membuahkan hasil yang maksimal apabila tidak ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata menurut Direktur Executive Dewan Pengelolaan Taman Nasional Bunaken Boyke Toloh.

Sejauh ini, program yang dijalankan adalah bank sampah. Namun program ini dinilai tidak berjalan dengan baik, karena para pengumpul tidak mengambil sampah sesuai perjanjian. “Untuk itu, harus ada program ulang yang lebih efektif agar lebih baik.”

Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir. Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi, rusa, dan kuskus.

Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken yaitu Rhizophora sp, Sonneratia sp, Lumnitzera sp dan Bruguera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.*

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.