Mengenal Mangrove Tak Jauh dari Jakarta

Menghabiskan liburan sembari menambah pengetahuan tentang tanaman penangkal abrasi menjadi salah satu destinasi yang ditawrkan Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Dewi Cholidatul

Dereta tanaman setinggi betis orang dewasa seolah barisan tentara sedang apel pagi di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara. Ia ditata sedemikian rupa pada sebuah bedeng yang terbuat dari bambu. Selembar jaring tipis melindunginya dari sengatan terik matahari.

“Ini adalah bibit mangrove siap tanam,” kata Santo, salah satu pemandu wisata di kawasan seluas 99 hektare ini.

Tanaman yang juga dikenal dengan sebutan bakau ini adalah nama sekelompok tumbuhan dari marga Rhizophora. Ia memiliki ciri-ciri yang menyolok berupa akar tunjang yang besar dan berkayu, pucuk yang tertutup daun penumpu yang meruncing, serta buah yang berkecambah serta berakar ketika masih di pohon.

Tinggi tanaman ini bisa mencapai 4-30 m, dengan tinggi akar mencapai setengah sampai 2 meter, di atas lumpur. Sementara, diameter batang mencapai 50 cm.

Bibit ini berasal dari buah tanaman mangrove yang jatuh dari pohonnya. Untuk menjadi bibit, buah-buah itu harus diseleksi, sebelum akhirnya ditanam di dalam polybag sampai usianya 3 bulan. “Setelah 6 bulan atau lebih, mangrove siap ditanam di lahan yang sudah disediakan.”

Cara menanamnya pun tidak sembarangan. Pengelola kawasan ini telah menyediakan bronjong yang terbuat dari bambu. fungsinya untuk melindungi mangrove dari pasang surut. Bibit mangrove tidak boleh terendam semuanya, cukup sebagian. “Nanti ketika sudah besar, bronjong ini akan hancur karena pertumbuhan mangrove,” katanya.

Pertumbuhan tanaman air payau ini sendiri cukup lambat. Setiap tahunnya hanya tumbuh sekitar beberapa puluh sentimeter saja. Diperlukan kesabaran untuk bisa membentuk hutan mangrove yang lebat, mungkin hingga puluhan tahun lamanya baru bisa terbentuk hutan mangrove yang asri.

Berbagai tehnik dan cara penanaman bibit itu juga menjadi salah satu destinasi wisata yang ditawarkan di Taman Wisata Alam ini. Tujuannya, agar para pengunjung tak sekedar mengagumi keindahan wisata, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang pentingnya tanaman penahan abrasi di utara Jakarta itu.

“Banyak perusahaan, maupun pengunjung biasa yang ikut menanam mangrove di sini. Biayanya untuk 1 bibit mangrove sekitar Rp 500 ribu, nanti kita bantu menanamnya,” katanya.

Kawasan konservasi hutan mangrove yang dikelola oleh swasta ini menjadi alternatif pengisi waktu akhir pekan para penghuni Jakarta Raya. Jadi bagi warga Jakarta, mengisi libur akhir pekan tak harus dihabiskan dengan berpergian ke luar kota. Selain dihiasi hijaunya rimbunan hutan mangrove, kawasan ini menjadi tempat tinggal bagi beragam satwa mulai dari burung hingga biawak air.

Salah satu destinasi yang juga menjadi favorit bagi para pengunjung adalah gardu pandang, yakni menara setinggi lebih dari 5 meter untuk menyaksikan pemandangan apik taman wisata secara keseluruhan. Tempat ini bahkan bisa digunakan untuk melihat kawasan Pantai Indah Kapuk lainnya.

Hanya saja, informasi-informasi yang tersedia untuk pengunjung terbilang masih sangat minim. Selain itu, pengelolaan kawasan ekowisata ini kurang baik, karena kurangnya pemeliharaan beberapa fasilitas yang ada, serta banyak sampah-sampah bertebaran khususnya di sungai mangrove. “Tapi sampah di mana-mana,” kata Dinda, salah satu pengunjung.

Untuk masuk ke taman wisata Angke Kapuk ini pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 25.000. Tersedia akses jalan setapak untuk berkeliling kawasan ini, untuk menikmati keindahan alam sekaligus olah rata jogging.

Selain berkeliling lewat jalan papan setapak, pengunjung bisa juga mengitari sungai hutan mangrove seluas 30 hektare menggunakan kapal yang disewakan pihak pengelola. Terdapat beragam armada yang disewakan, mulai dari perahu dayung, kano atau kayak, dan juga perahu bermotor. Harga sewanya pun beragam mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 400.000. Jika ingin menginap, kawasan ini juga menyediakan pondokan-pondokan yang disewakan untuk para pengunjung.*

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.