Pesut yang Kian Menyusut

Populasi ikan air tawar ini semakin menyusut, menyusul berbagai aktivitas tambang dan pencemaran lingkungan di sepanjang sungai Mahakam.

Dewi Cholidatul

Seekor Orcaella brevirostris berenang di air keruh muara sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sirip mungil yang menempel di belakang pertengahan punggungnya, sesekali menyembul, membentuk riak air berlumpur di kawasan tersebut. Sesekali, kepalanya mendongak seolah mengambil nafas, sebelum akhirnya tenggelam di antara lumpur yang kian pekat di kedalaman.

Bentuk kepala pesut bulat, menyerupai umbi. Kedua matanya tampak mungil. Tubuh bagian bawanya tampak lebih pucat tanpa pola tertentu. Dahinya tinggi dan membundar. Perawakannya semakin tampak unik dengan sirip dada yang lebar membundar.

Saat dewasa, ukuran tubuh satwa ini bisa mencapai panjang hingga 2,3 meter dengan berat mencapai 130 kg. Pesut bernafas dengan mengambil udara di permukaan air. Mamalia ini dapat juga menyemburkan air dari mulutnya.

Lumba-lumba air tawar ini bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam, namun ia sangat ahli dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Ini karena mereka masih memiliki gelombang ultrasonik untuk melakukan lokasi gema, seperti kerabatnya di laut.

Selain di sungai mahakam, kawasan inti pesut diketahui berada di Muara Pahu di Kutai Barat, Sungai Kedang Kepala dan Sungai Belayan di Kutai Kartanegara, juga ada Sungai Kedang Rantau, Sungai Pela, dan Muara Muntai. Namun keberadaannya di alam makin terdesak, menyusul makin sibuknya lalu lintas perairan, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya.

Aktivitas penambangan batu bara di sekitar sungai Mahakam semakin mempersempit tempat hidup mamalia air tawar ini. Aktivitas ini semakin mempercepat sedimentasi di muara, polusi air akibat sampah, kebun sawit yang menggerus kawasan mangrove, hingga kemunculan stockpile.

“Sekarang muncul ponton yang melintas anak sungai-anak sungai atau parkir di muara yang jadi tempat pesut cari makan, bermain dan kawin,” kata Peneliti sekaligus penasihat ilmiah Rare Aquatic Spesies for Indonesia (RASI), Danielle Kreb.

Setidaknya, tiga dari enam kawasan inti pakan pesut di sepanjang Sungai Mahakam rusak. Kerusakan terparah terjadi di Muara Pahu, menyusul kemudian di Kedang Kepala dan Belayan.

Padahal, satwa ini menjadi salah satu hewan air yang dilindungi dan dianggap nyaris punah. Populasinya diperkirakan hanya tersisa 86 ekor di sejumlah muara sungai terpanjang di Kalimantan Timur ini. Sementara, tingkat kematiannya mencapai 5-6 ekor di 1995-2005, per tahun. Tapi jumlah tersebut meningkat menjadi tiga ekor per hari sebelum 2014.

Pesut ini pernah mengalami masa puncak pada 1990-an. Mereka hidup di bentang Mahakam dan anak-anak sungainya dalam rentang 80-600 kilometer dari muara sungai atau dari kabupaten Kutai Kartanegara hingga Kutai Barat. “Kini, pesut ditemui di rentang 180 km hingga 350 km dari muara.”

Tapi, kondisi ini tak membuat pemerintah setempat susut memberikan izin tambang terhadap sejumlah perusahaan. Ini terlihat dari pemberlian izin peningkatan produksi batubara dari 4 juta ton menjadi 20 juta ton serta pengangkutan lewat Sungai Kedang Kepala. Padahal, kondisi tersebut mengakibatkan terganggunya habitat Pesut Mahakam.

“Studi genetis juga telah membuktikan bahwa DNA pesut sudah berbeda secara signifikan dengan jenis terdekat yang berada di pesisir seperti muara Mahakam, Teluk Balikpapan dan daerah atau negara lainnya.”

Kondisi ini semakin diperparah dengan pencemaran berbagai limbah, termasuk sampah rumah tanga. Padahal, air sungai ini tidak saja sebagai lahan kehidupan biota air, melainkan juga sebagai air baku bagi manusia.

Berbagai ancaman tersebut sangat mengancam keberadaan sang legenda dari Kalimantan ini. Rendahnya populasi lumba-lumba air tawar ini menjadikannya sebagai salah satu binatang paling langka di Indonesia. Satwa ini masuk sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999.

IUCN Redlist pun menyatakan status konservasi pesut mahakam berada pada tingkat keterancaman tertinggi.

Selain menyebabkan populasi pesut menyusut, berbagai pencemaran Sungai Mahakam juga dikeluhkan para nelayan. Mereka menyatakan ikan hasil tangkapan ikan terus merosot jumlahnya sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Ikan sungai berupa haruan, patin, jelawat, dan lainnya didatangkan dari Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara.

“Sekitar 10 tahun lalu, kalau memancing di Sungai Mahakam mudah mendapatkan ikan. Sekarang sulit dan harus menggunakan perahu ke sungai kecil,” kata Muhlis, seorang nelayan.

Hingga kini, masyarakat menunggu kebijakan konkrit terkait penyelamatan sang legenda hidup dari sungai Mahakam.

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.