Jejak-Jejak di Dinding Kaimana

Lukisan purba yang menghiasi dinding karst menjadi salah satu daya tarik wisata alam di Kabupaten Kaimana, selain pesona alam dan pasir putihnya yang cantik.

Dewi Cholidatul

Sebuah telapak tangan menghiasi dinding gua di salah satu bukit karst di Pulau Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Lukisan itu tampak menyembul dari lautan. Warnanya yang kemerahan semakin berkilau diterpa cahaya senja, di ufuk barat.

Dinding tebing karst itu ibarat galeri alam yang mengabadikan lukisan dari masa yang telah lama berlalu itu. Sebagian besar lukisan masih dalam kondisi sangat baik dan jelas. Selain telapak tangan, ‘mural’ sederhana itu juga menggambarkan manusia, ikan, sejenis kadal, bentuk matahari, hingga rahim perempuan. Lukisan itu diperkirakan sudah berusia antara 3 ribu hingga 10 ribu tahun.

“Ada ribuan lukisan kuno di situs Maimai tersebut. Lukisan terpanjang, panjangnya mencapai 1 kilometer,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kaimana Marthen Feneteruma, beberapa waktu lalu.

Berbagai lukisan berusia ribuan tahun itu bukan tanpa makna. Gambar dua ikan berukuran besar dan kecil yang terletak dekat laut, misalnya, menjadi tempat yang kerap didatangi paus, lumba-lumba dan cumi-cumi besar. Daerah itu memang menjadi jalur migrasi paus byrde dan lumba-lumba. Meski begitu, warga setempat tidak mengetahui pasti makna dan asal-usul lukisan itu.

”Kami hanya meyakini lukisan itu berhubungan dengan makhluk laut, tetapi tidak tahu pasti apa maksudnya,” kata Tajudin, warga Desa Kayu Merah.

Sulit membayangkan bagaimana lukisan itu dulu ditorehkan. Letaknya berada di tebing terjal, 5-25 meter di atas permukaan laut, yang sulit dijangkau. Beberapa tersembunyi di ceruk berbatu-batu.

Sejumlah catatan menyebutkan, lukisan dinding tersebut merupakan ciri peradaban zaman epipaleolitik atau zaman batu tua akhir yang berlangsung 12.000-5.000 tahun Sebelum Masehi. Ia banyak ditemukan di sejumlah kawasan di Asia Tenggara. Apalagi, masyarakat di pulau kecil di Kaimana juga menyimpan sejarah kerajaan dari abad ke-18 hingga zaman penjajahan Jepang. Hingga sekarang, kerajaan itu masih berdiri. Para raja dan raja muda berperan sebagai penjaga adat di tengah masyarakat pesisir Kaimana dan Fakfak.

”Para raja dan raja muda itu berperan mewakili masyarakat terkait hak ulayat, misalnya dengan perusahaan atau pemerintah daerah,” kata Kepala Desa Kayu Merah Mohammad Jen Karafey.

Senja di pantai Pulau Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, beberapa waktu lalu. Pulau ini merupakan bagian kawasan konservasi laut Kabupaten Kaimana yang kaya keanekaragaman hayati bawah laut dengan jajaran bukit karst berhias lukisan dinding kuno di sekitarnya.

Kaimana terletak di bagian ”leher burung” Pulau Papua. Lokasinya yang berada di sisi barat menghadap Laut Arafuru. Kawasan ini menyajikan pesona alam yang eksotis, yang bisa dinikmati di hampir sepanjang jalan utama kota yang bersisian dengan pantai. 400 pulau-pulau kecil yang bertebaran, menambah pesona alam semesta.

Selain lukisan puba dan pesonal alam, kawasan ini juga menyajikan berbagai pesona budaya yang masih dijaga oleh masyarakat adat setempat. Salah satunya adalah tradisi buka sasi, yakni membuka laut untuk diambil hasilnya. Peristiwa ini mirip panen raya saat warga berkumpul dan bergembira.

Ritual buka sasi ditandai dengan peleasan pinang dan sirih ke laut. Warga yang datang beramai-ramai ke pantai akan memanen hasil laut berupa teripang, lola (kerang), dan kerang batulaga. Hasil laut yang diatur dalam sasi ini memiliki harga sangat tinggi.

Istiadat ini sekaligus menjaga laut dari eksploitasi berlebih oleh masyarakat. Di satu pantai tertentu, buka sasi hanya berlangsung sekitar dua pekan setiap beberapa bulan sekali. Beberapa warga datang dari desa yang jauh. Mereka rela tidur di tenda selama buka sasi. Bukan hanya pria yang menyelam, kaum ibu, mulai dari usia muda hingga usia senja, pun ikut menyelam tanpa alat sama sekali.

Berkunjung ke tempat ini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang berkunjug ke Papua, selain ke Raja Ampat yang sudah dikenal secara internasional. Namun, untuk mendatanginya, perlu persiapan yang matang. Ini karena berbagai fasilitas termasuk akomodasi masih jarang ditemukan. Walaupun, masyarakat sekitar sangat terbuka menyambut kedatangan para pelancong.

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.