Sisi Lain Taman Nasional Takabonerate

Selain mengoleksi terumbu karang terbaik ketiga di dunia, Taman Nasional Takabonerate menyimpan berbagai kekayaan alam dan budaya yang sayang untuk dilewatkan.

Dewi Cholidatul

Seekor kepiting terjebak di antara akar Avicennia sp yang tumbuh di pulau Tarupa Kecil, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Takabonerate, Sulawesi Selatan. Akar-akaran yang berpilin-pilin membuat si kepiting berwarna jingga itu sulit keluar dari jeratannya. Pasrah, menunggu dipanen oleh para nelayan yang beruntung.

Si mangrove dari marga Avicennia ini biasa tumbuh di tepi atau dekat laut sebagai bagian dari komunitas hutan bakau. Akar napasnya serupa paku yang panjang dan rapat, muncul ke atas lumpur di sekeliling pangkal batangnya.

Daun-daunnya yang berwarna keputihan pada sisi bawahnya dilapisi kristal garam. Ia mencuat di permukaan bawahnya. Ini cara tumbuhan tersebut untuk membuang kelebihan garam yang dihasilan dari salah satu kelenjar yang dimilikinya.

Biji tumbuhan dari suku Acanthaceae ini sedianya berkecambah tatkala buahnya masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.

Tapi, ajaibnya, anakan tetumbuhan ini sama sekali tak ditemukan di antara tegakan mangrove yang tumbuh di pulau kecil ini. Meskipun, tegakan indukan tetap mempunyai buah yang semestinya dapat menjadi anakan secara generative. Di bawah tegakan pohon ini hanya ada akar paku yang muncul disekitar pohon mangrove.

Pohon tegar yang biasa dijdikan sebagai tameng penangkal abrasi dan ombak itu semakin tampak kokoh dengan diameter yang besar, sekitar 90cm. Ini sekaligus menunjukkan usia si Mangrove yang sudah tua. Hal lain menunjukan bahwa jumlah tegakan mangrove di Tarupa Kecil ini hanya sebanyak 20 pohon.

“Pohon ini dikeramatkan oleh masyarakat. Tak ada yang berani mengambil rantingnya, apalagi menebang,” kata salah satu warga lokal.

Ini terbukti dengan tidak ditemukannya bekas parang atau tebangan. Masyarakat percaya, pepohonan ini sudah ada sejak nenek moyang yang pertama berlabuh di tarupa kecil ini. Dulu pohon mangrove ini tersebar memanjang kearah laut. “Tapi sekarang sudah terpisah dengan daratan tarupa kecil akibat abrasi.”

Masyarakat sekitar justru merasa terbantu dengan keberadaan pepohonan bertajuk renggang ini, karena menyimpan ‘kekayaan’ laut yang langsung bisa dinikmati. Selain kepiting dan lobster, tempat ini juga menjadi tempat berteduh bagi beberapa spesies burung, seperti kuntul putih dan burung camar.

Berdasarkan data informasi database pemerintah, seluruh wilayah Taman Nasional Takabonerate tak pernah ditemukan pohon bakau yang memagari pantai, hingga empat tahun terakhir. Vegetasi daratan pulau-pulau yang ada dikawasan ini hampir seluruhnya ditanami dengan kelapa dan beberapa jenis perdu dan tanaman lain seperti santigi.

Namun kemudian, beberapa batang pohon bakau terpantau hidup di sekitar Taka Bonerate. Sayangnya hingga kini belum banyak penelitian terkait mangrove tua tersebut.

Taman Nasional Taka Bonerate merupakan kawasan konservasi laut yang mempunyai ekosistem dominan adalah gugusan atol. Tutupan terumbu karang masih baik dan lembat. Luasan daratan kawasan ini tidak lebih dari satu persen dari luas kawasan, yaitu sekitar 526 hektare, dari total luas kawasan 530.765 hektare.

Selain menawarkan keindahan taman laut dan keindahan pantai yang menawan, kawasan yang terletak di Kepulauan Selayar ini juga menawarkan berbagai keindahan lainnya. Pagelaran tarian adat dari warga Taka Bonerate yang menempati beberapa pulau di wilayah ini kerap dilakukan untuk menyambut tamu.

Pagelaran ini biasa diisi oleh dua suku yang menempati kawasan ini, yakni Bajo Daratan dan Bugis. Ini salah satu upaya taman nasional untuk menggerakkan perekonomian masyarakat tanpa harus mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di dalamnya.

“Takabonerate terancam perusakan alam yang sering dilakukan masyarakat. Beberapa di antara mereka ada yang menangkap ikan dengan cara meledakkan bom,” kata petugas taman nasional, Nadzrun Jamil.

Kawasan ini juga memamerkan koleksi penyu yang kerap mampir untuk berlabuh atau bertelur, di bulan-bulan tertentu. Selain itu, kawasan ini juga memiliki tempat konservasi satwa langka berusia ratusan tahun tersebut, yakni di Desa Lotundo.

Perjalanan ke Takabonerate bisa ditempuh melalui Makassar menuju ke Bulukumba. Jika menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam. Perjalanan akan dilanjutkan dengan naik kapal ke Kepulauan Selayar dengan waktu 2 jam perjalanan. Beberapa hotel dan resort mulai dibangun di kawasan ini.*

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.