Juru Kunci Taman Bukit Raya Bukit Baka

Masyarakat Adat suku Dayak Lambai dan Ransa menjadi ‘penjaga tanpa tanda jasa’ bagi kelestarian Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Sayangnya, keberadaannya justru sering dinilai biang keladi perusakan hutan.

Dewi Cholidatul

Lelaki tua itu berdiri di tepi aliran Sungai Ella di Desa Belaban Ella, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kakinya yang kurus seolah dijalari daun kolohtung yang mencuat dari tanah. Sejurus kemudian ia berjongkok. Memandang air yang mengalir jernih. Beberapa ikan seukuran kepalan tangan melintasinya.

Tugas ‘pengamatannya’ belum usai. Bersama beberapa tetua adat Suku Dayak Limbai dan Ransa, lelaki yang didapuk menjadi Temenggung Belaban Ella itu masih harus mengamati gerak-gerik pohon di Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka. Tugas pengamatan ini menjadi penentu bagi masyarakat terkait musim tanam. “Jadi kami tahu kapan ikan-ikan akan memijah, dan kapan waktunya tanah-tanah di perbukitan menjadi subur,” kata Manan, sang Temenggung.

Masyarakat adat yang sering disebut sebagai orang Sungkup ini percaya hutan telah memberikan segalanya bagi kehidupan. Dengan caranya sendiri, mereka memiliki pengetahuan yang mendalam tentang alam dan lingkungan hidupnya. Orang Sungkup menjalankan aktivitas kesehariannya melalui tanda-tanda alam. Warga tahu kapan masa membuka ladang atau memasok protein dari hutan.

“Semua itu sudah diatur dalam hukum-hukum adat. Misalnya, kapan orang boleh membuka ladang. Kalau dibakar, caranya bagaimana? Atau, kapan masa berburu yang tepat serta jenis-jenis hewan yang boleh diburu,” katanya.

Ia mengakui bahwa kebiasaan masyarakat masih adat membuka lahan dengan cara membakar. Tapi, tindakan itu selalu dilakukan atas persetujuan adat, sebagai bentuk kehati-hatian mereka memanfaatkan kawasan hutan. “Prinsipnya gotong-royong, dan dilakukan pada siang hari. Kemudian, batas api juga mesti dibuat,” katanya.

Sejumlah literatur menyebutkan bahwa areal hutan dan kantong-kantong air dikunci dengan tata cara adat yang ketat. Untuk mengambil kayu atau hasil hutan lainnya, masyarakat harus mendapatkan persetujuan adat dan mengadakan upacara. Begitu pula dengan perburuan binatang, dibatasi dengan penuh perhitungan agar binatang tersebut dapat kembali lagi di titik-titik tempat berburu pada musim selanjutnya. Larangan-larangan akan diberikan di areal-areal kramat. “Oleh karenanya, tidak ada alasan yang cukup untuk menuding komunitas Dayak Limbai dan Ransa penghuni Kampung Sungkup ini mengelola hutannya secara tidak berkelanjutan.”

Masyarakat adat dayak berbatasan langsung dengan wilayah Taman Nasional ini sering dianggap sebagai biang keladi kerusakan hutan, akibat sistem tanam berpindah yang masih dikembangkan. Konflikpun tak bisa dihindri yang berujung di meja hijau. Sedikitnya 5.000 hektar areal disengketakan antara masyarakat dan pengelola Taman Nasional.

Sejauh ini, baik pemerintah maupun masyrakat adat terus mengadakan dialog untuk mencari titik tengah. Direktur Eksekutif Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Agustinus, mengatakan pihaknya mendorong Desa Belaban Ella menjadi wilayah adat yang luasnya mencapai 13.183,29 hektar dan menjadi salah satu model pengelolaan wilayah adat yang bisa dikembangkan sebagai wilayah ekowisata adat dan budaya. “Sejauh ini sedang didialogkan dengan Menteri LHK, BPN dan menteri terkait untuk dibuat kebijakan khusus tentang pengakuannya,” katanya.

Taman Nasional yang terletak di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah itu juga menjadi rumah yang nyaman bagi orangutan kalimantan. Kawasan tersebut menjadi salah satu tempat pelepasliaran orangutan hasil sitaan maupun penyelamatan, setelah sebelumnya direhabilitasi.

Kondisi alam kawasan konservasi seluas 181.090 hektar ini dinilai masih baik dan memenuhi syarat untuk habitat orangutan. “Aksesnya mudah dan potensi pengembangan ekowisatanya menjanjikan,” kata Ketua Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Tantiyo Bangun.

Kawasan hutan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya didominasi oleh puncak-puncak pegunungan Schwaner yang merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan. Kawasan ini memiliki koleksi 817 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 139 famili diantaranya Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, dan Ericadeae.

Selain orangutan, kawasan konservasi ini merupakan rumah yang nyaman bagi kuau kerdil Kalimantan, yakni satwa endemik pulau Kalimantan yang paling terancam punah akibat kegiatan manusia di dalam hutan.*

 

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.