Siamang Kerdil dari Siberut

Habitat bilou semakin terancam menyusul semakin menyusutnya pohon penutup hutan primer di Taman Nasional Siberut

Dewi Cholidatul

Tiga ekor bilou bergelantungan di antara pepohonan Ara yang tumbuh menjulang di hutan primer Taman Nasional Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tangannya yang imut lincah memilih buah-buah ranum yang menonjol dari setiap pucuknya.

Bebuahan ara dari tanaman jenis Ficus Sp merupakan makanan favorit satwa bernama latin Hylobates klosii ini, selain nibung liana dan tangkai. Sejenak terdengar pekikan memanjang menyambut kendatangan seorang Sikerei dari Suku Sakaleo. Dokter tradisional itu khusyu mengumpulkan tetumbuhan herba di antara semak.

Siamang kerdil itu merupakan jenis primata yang paling terkenal di Kepulauan Mentawai. Ia memiliki bulu-bulu yang jarang berwarna hitam gelap dan terdapat selaput antara jari kedua dan ketiga.

Primata monogami ini hidup secara berkelompok yang terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anaknya yang belum dewasa, dengan satu keluarga rata-rata tiga sampai empat individu. Sedangkan jumlah anggota dalam satu kelompok dapat mencapai 11 individu.

Sebagai jenis arboreal tertua yang masih hidup, bilou merupakan jenis primata yang paling banyak menghabiskan waktu di atas pohon yang tinggi, di atas 20 meter. Ia terhitung jarang turun ke tanah. Ini karena termasuk satwa yang pergerakannya banyak menggunakan lengan-lengan yang panjang untuk berpindah atau melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan saat bergerak di permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat primata endemik Kepulauan mentawai ini sangat terpengaruh oleh kegiatan penebangan hutan. Pembukaan lahan untuk kepentingan komersial seperti dikeluarkannya izin Hak Pengusahaan Hutan oleh pemerintah pusat ataupun pemanfaatkan kayu oleh pemerintah lokal, beberapa tahun lalu, membuat populasi satwa ini terus merosot hingga terancam punah. Kondisi ini diperparah oleh konversi hutan menjadi lahan perkebunan seperti kelapa hibrida, kelapa sawit, dan nilam, serta perburuan liar yang terus terjadi.

Monitoring populasi yang dilakukan di enam titik dalam areal Taman Nasional Siberut pada 2014 lalu menemukan fakta bahwa meskipun masih ditemukan di daerah Bekemen, Matotonan, Kaleak, Sirisura, Sagalubek dan Saibi, namun populasi bilou cenderung menurun. “Sebaiknya harus ada kegiatan penelitian berupa studi populasi mengenai kualitas habitat dan ketersediaan pakan satwa ini di alamnya, agar memudahkan dalam melakukan monitoring terhadap perkembangan populasi primata endemik ini,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Yumarni, pemimpin penelitian itu.

Data penelitian lain menunjukkan hal yang tak berbeda. Hasil penelitian Chivers pada 1977, misalnya, menemukan populasi bilou mencapai 84.000 ekor. Sementara, penelitian terakhir pada 2009 dengan menggunakan metode Höing et al menemukan jumlah populasinya hanya berkisar 28-60 ekor per kilometer persegi. Kondisi ini membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan statusnya terancam punah atau andangered.

Taman Nasional Siberut ditetapkan sebagai salah satu Cagar Biosfir oleh UNESCO dalam Program Man and the Biosphere. Ini karena kondisi hutan yang masih baik dengan 60 persen kawasan ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, selain hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Hutan di taman nasional ini relatif masih alami dengan banyaknya pohon-pohon besar dengan tinggi rata-rata 60 meter.

UNESCO juga menilai Pulau Siberut sebagai kawasan yang fenomenal dan unik karena tingkat endemisitas yang sangat tinggi yaitu 15 persen flora dan mencapai 65 persen untuk mamalia. Dari 29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut terdapat 21 spesies endemik. Empat diantaranya jenis primata yang hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai yaitu bilou, simakobu (Simias concolor), bokkoi (Macaca pagensis), dan joja (Presbytis potenziani).