Pesona Krakatau, Wisata Mahal yang Kaya Sejarah

Sejarah panjang yang mengikuti Kepopuleran Cagar Alam Gunung Anak Krakatau pintu kunjungan ke kawasan itu tak dibuka seluas-luasnya untuk umum. Setiap pengunjung wajib mengantongi izin khusus dari pengelola.

Dewi Cholidatul

Jajaran pohon setinggi 7-15 meter menyambut para pelancong saat mendaratkan kakinya di pesisir pantai Cagar Alam Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan. Batangnya yang agak bengkok membentuk cabang-cabang rendah di dekat tanah, membuatnya nyaman dijadikan sandaran sekedar melepas lelah, setelah menempuh perjalanan dengan speedboat selama 90 menit. Dedaunannya yang unik seolah bulan telur terbalik sangat rimbun, memberi kesan teduh dari sengatan sinar matahari.

Tanaman bernama lokal Butun atau keben ini sejenis pohon yang tumbuh di pantai-pantai wilayah tropika, di Samudra Hindia, kawasan Malesia, hingga ke pulau-pulau di Pasifik barat. Ia adalah tumbuhan pertama yang ditemukan di kawasan ini, pasca erupsi maha-dahsyat pada 1883. Ia ditemukan di dataran permanen pulau yang terbentuk dari letusan gunung purba, bersama ketapang, cemara laut, dan katang-katang.

Berbagai vegetasi unik ini bukan satu-satunya yang dapat dinikmati di pesisir pantai kawasan cagar alam Gunung Anak Krakatau ini. Setelah melepas lelah sejenak di rerindang pepohonan pantai, menyusuri setiap jengkal lereng gunung menjadi aktifitas primadona berwisata di tempat ini. Apalagi, kontur tanah yang berpasir di sepanjang jalur pendakian menjadi tantangan tersendiri yang harus ditaklukan.

Di atas sana, para pecinta alam akan disuguhkan kemegahan puncak Gunung Anak Krakatau beserta sisa aliran lava yang telah mengeras di sekitarnya. Untuk menuju puncaknya, berbagai pepohonan yang merimbun di bibir pantainya akan semakin jarang terlihat. Sehingga terik panas matahari yang sesekali bercampur dengan udara belerang akan tercium selama melakukan pendakian.

“Butuh keahlian khusus untuk naik ke kepunden GAK, fisik yang prima, mental yang kuat,” kata Polisi Hutan yang bertugas berjaga di Gunung Anak Krarakatu, Ikbal.

Pemandangan akan berbalik 180 derajat saat kita membalikkan pandangan ke arah laut. Pasir legam yang menghampar di pesisir pantai pulau vulkanik, yang tidak dapat disandingkan dengan pantai manapun. Hamparan air biru, menyejukkan mata. Dari dalamnya muncul pulau-pulau berwarna hijau alami, Rakata dan Sertung.

Berbagai keindahan alam di darat tersebut masih ditambah dengan keindahan alam bawah laut di sekitar Selat Sunda. Snorkeling dan diving adalah dua aktifitas yang biasa dilakukan pengunjung untuk mengagumi keindahan tersebut. Sejumlah destinasi yang kerap menjadi rujukan wisatawan diantaranya adalah Pulau Sebesi, Pulau Sebuku Besar, Pulau Sebuku Kecil, dan Pulau Umang-Umang.

Keindahan empat pulau tadi masih ditambah dengan Legon Cabe yang terdapat di salah satu sisi Pulau Rakata. Kawasan berbentuk melengkung seperti cabai ini juga menyuguhkan kehidupan bawah laut yang cantik di Krakatau. Perairan hangat kepulauan vulkanik ini menjadi sarana terbaik untuk pertumbuhan terumbu karang dan biota laut lainnya.

Namun, meski menawarkan keindahan alam bawa laut yang cantik, para petugas tidak merekomendasikan para wisatawan untuk melakukan aktifitas bawah laut di lokasi ini. Sebab Pulau Rakata merupakan wilayah yang dikelilingi dengan arus laut yang cukup kuat. Selain itu, di beberapa titik terdapat palung laut dalam Selat Sunda yang bisa berbahaya bagi keselamatan. “Kegiatan menyelam hanya dilakukan di empat pulau tersebut, tidak di pantai sekitar Gunung Anak Krakatau.”

Berbagai pesona alam yang disediakan Cagar Alam ini tidak mudah untuk dinikmati. Setiap pelancong harus mengantongi izin khusus berupa Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Ia hanya bisa didapatkan di Badan Konservasi Sumber Daya Alam, Lampung, seharga Rp 1 juta.

“Tapi setiap pekannya selalu ada saja pengunjung yang datang dan treking ke kepunden Gunung Anak Krakatau. Mau orang lokal atau bule,” katanya.

Cagar Alam Gunung Anak Krakatau sendiri memiliki sejarah yang panjang, hingga terkenal di berbagai belahan dunia. Ia pernah menjadi penyebab perubahan iklim secara global, menyusul letusan maha-dahyat dari gunung setinggi tiga ribu meter, pada 1883. Puncak Danan dan Perbuatan lenyap seketika. Diikuti dua per tiga pulau Rakata, di sebelahnya. Awan panas menggumpal di langit. Gelombang tsunami mengamuk di lautan.

36 ribu penduduk yang berada di sepanjang pesisir Selat Sunda tak terselamatkan, kala itu. Gemuruh letusannya bahkan terdengar hingga Alice Springs-Australia, India, dan Pulau Rodrigues-Afrika. Sementara, gelombang pasangnya terdeteksi hingga Kagoshima, Jepang.

Letusan kedua dalam catatan sejarah gunung purba berdiameter 11 km itu menyebabkan dunia berubah, perubahan iklim global. Dua setengah hari bumi gelap akibat debu yang berhamburan di angkasa menutupi atmosfer. Terik matahari pun ibarat lampu 5 watt yang menyala di kegelapan malam. Hanya cahaya redup ini berlangsung hingga setahun setelahnya.

Berbagai aktivitas penelitian terus dilakukan di gunung tersebut, hingga kini. Ini karena keunikan letak serta vegetasi dan ekosistem yang terbentuk di dalamnya, setiap kali terjadi erupsi.

“Krakatau merupakan pulau gunung berapi alias gunung berapi yang berbentuk pulau. Bila Krakatau meletus, kiamatlah semua. Tiada kehidupan apapun, tumbuhan, hewan, dan manusia akan lenyap tak tersisa. Ini yang membedakan dengan gunung lainnya, termasuk Tambora,” kata seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Tukirin Partomihardjo.