Mengenal Penyu Sisik di Pulau Pramuka

Pulau Pramuka menasbihkan dirinya sebagai tempat wisata konservasi penangkaran satwa purba, Penyu Sisik.

Namun, keberadaannya yang tak jauh dari Jakarta masih kalah ramai dengan tempat wisata lainnya yang lebih nge-pop.

Dewi Cholidatul

Tiga puluh ekor tukik berenang-renang di sebuah ember berdiameter 1,5 meter. Bentuk kepalanya yang memanjang dengan mulut yang meruncing menyerupai paruh burung elang menandakan kumpulan tukik ini dari jenis Eretmochelys imbricata. Informasi ini semakin diperkuat dengan susunan skat yang saling tumpang tindih seperti sisik ikan pada bagian karapasnya.

Penyu-penyu mungil berusia belum genap sebulan itu merupakan penghuni kawasan konservasi alam pulau Pramuka, yang merupakan bagian dari Kepulauan Seribu. Mereka menetas semi alami. Petugas daru Taman Nasional Kepulauan Seribu akan mengambil telur dari pulau-pulau tempat bertelur, seperti Pulau Penjaliran Timur, Peteloran Timur, Penjaliran Barat, dan Pulau Belanda. Setelah menetas, mereka akan ‘diamankan’ untuk dilepas-liarkan atau dipelihara untuk kepentingan edukasi.

Tindakan ini diperlukan karena peran penyu yang dapat tumbuh hingga satu meter ini dinilai signifikan di ekosistem laut, terutama terkait pengendalian laju pertumbuhan bunga karang yang dapat mengganggu pertumbuhan terumbu karang.

Di alam bebas, anak-anak penyu yang baru menetas menghadapi ancaman kematian dari hewan seperti biawak, burung, dan kepiting. Tak heran satwa langka ini dinyatakan terancam punah oleh Organisasi Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam, IUCN.

Akan tetapi, ancaman terbesar penyu adalah manusia. Pembangunan daerah pesisir, termasuk sejumlah gugusan pulau di Kepulauan Seribu, kian mengimpit habitat satwa pengelana ini.

Pulau Pramuka sendiri memproklamirkan dirinya sebagai tempat konservasi penyu sisik. Kawasan yang tak jauh dari Ibu Kota Jakarta ini diharapkan lebih mudah memberikan pendidikan dan edukasi pada masyarakat luas, sekaligus menggaungkan kampanye perlindungannya.

Sayangnya, para wisatawan yang datang ke tempat ini rata-rata hanya untuk bertamasya atau berpiknik, ketimbang untuk mengenal lebih dekat satwa purba ini. Dari target tiga juga wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Seribu, tahun lalu, tak lebih dari sepuluh persen pengunjung yang berkunjung ke kawasan konservasi ini.

Padahal, untuk berkunjung ke area lokasi tempat wisata konservasi di tempat penangkapan penyu sisik ini, pengelola sama sekali tak memungut biaya. Wisatawan yang ingin memberikan donasi hanya disediakan sebuah kotak tanpa target tertentu.

“Faktor cuaca ekstrem yang terus berubah-ubah dan pembatasan jumlah penumpang terkait penertiban kapal juga menjadi faktor gagalnya pemenuhan target,” kilah Bupati Kepulauan Seribu, Budi Utomo, beberapa waktu lalu.

Hasil penelitian Center For Destination Studies (CTDS) menyatakan bahwa minat turis lokal berwisata konservasi sangat rendah. “Lebih dari 80 persen wisatawan lokal memilih wisata umum, daripada wisata konservasi,” kata Ketua Organisasi pusat kajian destinasi pariwisata yang berpusat di Bandung, Wisnu Rahtomo.

Konservasi dalam konteks pariwisata ada di ekowisata dengan memberikan ruang orang mempelajari kehidupan habitat satwa dan lain-lain. Tapi selama ini, sosialisasi wisata alam dan konservasi belum meluas akibat kurang gencarnya promosi yang dilakukan pengelola. “Hanya pada lingkungan-lingkungan tertentu, seperti pecinta alam.”

Edukasi tentang konservasi di sekolah-sekolah pun sangat rendah, sehingga tak mendongkrak minat para pelajar untuk mengetahui lebih jauh. Sementara, pengelolaan destinasi juga berorientasi pada kunjungan dan pendapatan daerah.

Padahal, obyek wisata konservasi seharusnya dapat menciptakan aktivitas-aktivitas konservasi untuk mendidik wisatawan atau pengunjung. “Jadi yang harus dibuat itu aktivitas, bukan menjadi tempat konservasi diam yang membuat orang tak betah berlama-lama.”

Untuk menuju pulau berair jernih dan berpasir putih ini, para wisatawan dapat menggunakan kapal speedboat dari Pantai Marina Ancol. Lama perjalanan dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Berbagai fasilitas umum tersedia dengan baik di tempat ini, mulai dari penginapan kelas ekonomi hingga VIP yang dikelola masyarakat.*