Tahura Juanda, Wisata Sejarah Berbasis

Selain menjadi jantung bagi kawasan Bandung, Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Bandung, menjadi pusat edukasi, sejarah, sekaligus wisata berbasis alam.

Dewi Cholidatul

Tangan kanan lelaki itu mengetuk-ngetuk ke dinding goa Jepang yang ada di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Sebelah tangannya memegang gambar hasil pencitraan geolistrik. Senyumnya sedikit mengembang, memperlihatkan gurat-gurat lesung pipit yang menghiasi dua pipinya.

“Tak diragukan lagi, ada ruang lain di sekitar sini,” kata pemimpin peneliti dari LabEarth-Pusat penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu Danny Hilman Natawidjaja.

Indikasi penemuan goa atau ruang bawah tanah yang besar di dalam kawasan Tahura tersebut sebenarnya telah terungkap setelah para peneliti tersebut melakukan eksperimen uji alat geolistrik di atas tiga Goa Jepang, empat tahun yang lalu. Penelitian ini dilakukan sebagai perbandingan respon alat dengan ekperimen serupa di Gunung Padang Cianjur, di mana tim mendeteksi keberadaan ruang-ruang besar di bawah situs megalitik yang berada di atas bukit.

Pada hasil uji coba tersebut membuktikan bahwa peralatan geolistrik Multi-Channel Resistivity SuperSting R8 dari American Geophisical Instrument itu mampu memetakan keberadaan Goa Jepang yang berada di bawah permukaan area survey. Saat itu hasil citra bawah permukaan memperlihatkan empat buah goa. Padahal, goa yang dapat dilihat secara langsung dengan mata telanjang hanya terdapat tiga goa.

Goa yang terrekam hasil pencitraan namun belum ditemukan tersebut posisinya sejajar dengan tiga goa yang sudah terbuka namun statusnya masih tertutup, tersembunyi dalam tanah yang disinyalir sangat lembab atau sudah banyak terisi tanah. “Satu di antara menjadi kejutan.”

Alat tersebut mendeteksi adanya indikasi tubuh goa yang masih tertimbun itu terkoneksi dengan Goa Jepang yang saat ini terbuka. Dugaan goa yang tersembunyi tersebut disinyalir merupakan ruang utama goa sebagai tempat penyimpanan logistik penjajah Jepang atau bahkan peradaban sebelum Tahura tersebut dijadikan tempat persembunyian penjajah. Namun, terkait isi dan barang-barang yang kemungkinan ikut tertimbun di dalamnya, belum terpetakan.

“Dua gua yang tertimbun tersebut berdekatan dengan anomali di ruang bawah tanah yang kemungkinan besar berada di tengah perbukitan ini.”

Peninjauan ulang ke lokasi Goa Jepang Tahura yang dilakukan saat ini bersama unsur Balai Pengelolaan Tahura, warga, dan LSM lingkungan, memperkuat kemungkinan tersebut. Belum lagi, dalam tinjauan lokasi goa di permukaan Tahura Rabu kemarin itu, terdapat dua goa yang tertimbun sebagian.

“Dua gua yang tertimbun tersebut berdekatan dengan anomali di ruang bawah tanah yang kemungkinan besar berada di tengah perbukitan ini. Dan ini menarik untuk diteliti lebih lanjut,” katanya.

Temuan ini diperkuat dengan cerita penduduk lokal yang memiliki kakek yang mengalami penjajahan Jepang. Penduduk setempat pun menyatakan terdapat goa lain yang tidak terlihat dan tertimbun dan hal itu pun harus dibuktikan.

“Destinasi wisata Tahura akan bertambah, dan Tahura sendiri akan menjadi tempat penelitian,” kata Kepala Balai Pengelolaan Tahura, Lianda Lubis.

Goa-goa yang ada di Taman Hutan Raya Ir. H Juanda, Bandung, penuh dengan legendan dan sejarah yang mengikutinya. Di zaman penjajahan Jepang dan Belanda, daerah Dago Pakar menjadi sebuah basis perlindungan yang aman bagi pasukan dari kedua negara tersebut. Awal sejarah terbentuknya Goa Belanda ini pada tahun 1941 pada masa Perang Dunia II.

Selain digunakan sebagai markas perlindungan, Goa Belanda ini digunakan sebagai stasiun radio komunikasi pasukan Belanda. Lokasi yang tertutup oleh pegunungan dan hutan-hutan menjadi tempat strategis bagi pasukan Belanda.

Di tahun 1942, Belanda menyerah kepada Jepang. Kemudian Goa Belanda yang ada di taman ini diambil alih oleh pasukan Jepang. Selain mengambil alih Goa Belanda, pasukan Jepang juga membuat goa perlindungan baru untuk basis pertahanan yang kini di sebut sebagai Goa Jepang.

Kondisi Goa Belanda dan Goa Jepang ini masih terawat dan tidak ada bekas coretan tangan-tangan jahil pengunjung. Untuk pengunjung yang ingin mencoba masuk ke dalam gua ini, diharapkan menyewa senter dari pedagang di luar gua. Sebab kondisi gua yang sangat gelap dan tidak ada sela untuk cahaya masuk.

Selain goa-goa bersejarah tersebut, Tahura menjadi jantung bagi kota Bandung, di tengah hiruk pikuknya sebagai kota metropolitan dan pusat belanja.

Taman ini menjadi pusat konservasi dengan jenis pohon pinus yang mendominasi. Selain pinus, pohon-pohon yang masih terjaga di kawasan ini diberi mengoleksi sejumlah pohon yang berasal dari empat benua, yakni Asia, Australia, Afrika, dan Amerika. Selain itu, Tahura Djuanda memiliki museum herbarium yang dihasilkan dari sejumlah penelitian.

Ia terletak di daerah aliran sungai Cikapundung dan di DAS Cikawari. Sehingga Taman ini juga merupakan tempat penampungan cadangan air untuk Kota Bandung dan sekitarnya.

Lokasi taman ini yang berada di daerah cekungan Bandung ini juga menyajikan keindahan Curug Dago dan Curug Omas. Curug Dago yang berasal dari hasil aliran Sungai Cikapundung memiliki ketinggian kurang lebih 15 meter. Di Curug Dago ini terdapat dua buah batu prasasti yang merupakan peninggalan Kerajaan Thailand di Indonesia.

Sedangkan Curug Omas yang memiliki ketinggian dua kali lipat dari Curug Dago berasal dari aliran Sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terbentang sebuah jembatan. Pengunjung bisa merasakan sensasi ketegangan ketika menyeberangi air terjun tersebut.

”Kawasan ini bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, seperti edukasi, pariwisata, yang menghasilkan nilai ekonomi, riset, dan lainnya. Jadi, tak perlu merusak hutan untuk mendapatkan nilai ekonominya,” kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Leave a Reply

Top