Cerita Sedih dari Laut Pulau Dewata

Kematian beberapa jenis mamalia raksasa di berbagai belahan dunia, belakangan ini, menjadi gambaran penting betapa cerobohnya manusia dalam mengkonsumsi sampah plastik.

Dewi Cholidatul

Tubuhnya raksasa itu diam tak berdaya. Membujur kaku di Pantai Tumpeng, sekitar 43 km timur Kota Denpasar, Bali. Kepalanya yang botak tak lagi mampu menyemburkan air dari lubang tubuhnya. Tak ada yang menjadi saksi saat sakaratul maut menjemput. Hanya deburan ombak pasang yang menampar-nampar tubuh seberat 10 ton itu.

Dua nelayan tradisional segera mengenali tubuh satwa bernama latin Physeter macrocephalus itu, saat fajar mulai muncul di ufuk timur. Berita itu pun cepat tersiar, secepat kedatangan ratusan warga Klungkung yang berduyun-duyun menyaksikan jasad satwa dilindungi itu.

Belakangan, sejumlah petugaspun bun berdatangan. Mulai dari polisi yang mengamankan keriuhan warga, sampai pada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Dinas Kelautan setempat untuk meneliti penyebab kematian paus berukuran 16,2 meter itu.

“Paus ini lebih dikenal dengan sebutan paus kepala botak,” kata Kepala Resor Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gianyar Seksi Wilayah II, I Wayan Sumertha.

Kematian sang ulam agung dari famili cetacen, beberapa waktu lalu, bukan satu-satunya berita sedih dari laut. Sebelumnya, 13 paus sperma mati terdampar di beberapa pantai di Jerman.

Meski para ilmuwan berspekulasi penyebab yang paling mungkin adalah kegagalan cardiovascular akut, namun apa yang ditemukan di perut paus tersebut sungguh mengerikan. Di perutnya, ditemukan gumpalan-gumpalan pastik.

Sang mamalia raksasa itu biasanya makan cumi-cumi, udang, kepiting, dan ikan. Namun, paus-paus ini tanpa sengaja memakan barang-barang aneh mulai dari bagian mobil yang terbuat dari plastik, pecahan ember, hingga jaring ikan sepanjang 15 meter.

Kematian paus-paus yang diperkirakan masih berusia 10-15 tahun tersebut memang karena mereka terdampar di perairan yang terlalu dangkal. Jika seekor paus tak berada di perairan yang dalam, sehingga berat tubuhnya menghancurkan organ-organ internalnya. Namun temuan isi perut sang paus menjadi bukti nyata kesembronoan manusia dalam menghamburkan sampah plastik.

“Satwa-satwa tak mungkin lagi mengomsumsi plastik tanpa sengaja, yang menyebabkan mereka menderita. Paling mengerikan adalah, mereka kelaparan namun perutnya penuh gumpalan plastik,” kata menteri lingkungan hidup di negara bagian Schleswig-Holstein, Robert Habeck.

Peristiwa serupa juga terjadi di sebuah pantai di Yunani. Seekor paus sperma ditemukan dalam kondisi mati di dengan perut membengkak. Kala itu, para peneliti mengira paus ini makan cumi-cumi raksasa, tapi saat mereka membedah perutnya, lebih dari 100 tas plastik berikut sampah plastik lain ditemukan di dalamnya.

“Sampah plastik yang ditemukan di perut paus-paus di atas adalah kejahatan manusia yang mengerikan,” kata peneliti paus dari Dalhousie University, Kanada, Hal Whitehead.

Sampah plastik dengan mudah dapat mencapai lautan dan mencemari lautan. Sampah yang dibuang sembarangan, tidak dikelola dengan baik, akan terbawa air hujan ke sungai yang akhirnya sampai ke laut.

Dalam hal konsumsi sampah plastik, Indonesia menjadi ranking kedua negara dari 192 negara penyumbang sampah plastik di lautan. Sebuah hasil penelitian dari Ilmuwan kelautan dari University of Georgia menemukan fakta bahwa sekitar 4,8 hingga 12,7 juta metrik ton sampah plastik telah memasuki lautan pada tahun 2010. Ini setara dengan kurang lebih antara 4.762.000.000 – 12.700.000.000 kg. Jika dibandingkan, beratnya mencapai 1,3 kali berat Piramida Besar di Giza, Mesir.

Tim Ilmuwan yang dipimpin oleh Jenna R. Jambeck ini pun menelusuri asal mula sampah-sampah plastik yang berada di lautan tersebut. Hasilnya, tim Ilmuwan menyebutkan bahwa total sampah plasti dari Indonesia yang dibuang ke lautan mencapai 1,29 juta metrik ton per tahun.

Indonesia hanya kalah dari Tiongkok yang menghasilkan sampah plastik ke lautan sebanyak 3,53 juta metrik ton per tahun. Mengungguli Filipina dan Vietnam yang masing-masing menyumbang 0,75 dan 0,73 juta metrik ton sampah plastik per tahun.

Sementara itu, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik, dalam waktu satu tahun saja. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

“Total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada,” kata Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana, Tuti Hendrawati Mintarsih.

Untuk itu, pemerintah menarget pengurangan timbunan sampah secara keseluruhan sampai dengan 2019 adalah 25 persen, sedangkan 75 persen penanganan sampahnya dengan cara ‘composting’ dan daur ulang bawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ia mengatakan belum dapat memperkirakan berapa penurunan penggunaan kantong plastik dengan adanya uji coba plastik berbayar diterapkan pada Februari lalu. Perkiraan hanya terlihat dari target pengurangan sampah plastik yang ditetapkan hingga 2019 tersebut.

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.