Generasi Baru Gajah Sumatera

Kelahiran seekor gajah Sumatera memberikan harapan baru bagi dunia, terutama bagi populasi mamalia terbesar di darat itu.

Dewi Cholidatul

Keningnya mengeluarkan keringat dingin. Mulas yang dirasakannya sejak semalam semakin menjadi-jadi. Isi perutnya minta keluar.

Sekuat tenaga ia mengejan, seolah buang air besar. Saat sisa tenaga ia dedikasikan seluruhnya, kehidupan baru keluar dari jalan lahirnya. Memberi pengharapan sekaligus tantangan bagi dunia.

“Alhamdulillah, kami kembali kedatangan tamu baru penguhuni Taman Nasional Tesso Nilo,” kata petugas dari Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, Didin Hardoyo.

Tim dokter dan petugas kesehatan pun terus memantau keduanya, 24 jam penuh. Nutrisi seperti vitamin dan makanan sehat terus diberikan. Induk dan bayi diperiksa bergantian.

Ini adalah bayi ketiga yang pernah dilahirkan Lisa, seekor gajah Sumatera. Berat bayi betina ini mencapai 119 kilogram. Tingginya mencapai 90 cm. Sementara panjangnya 108 cm. Sebelumnya, ibu tiga anak ini melahirkan bayi jantan dengan bobot yang sama.

Kelahiran bayi Lisa memberikan pengharapan baru bagi spesies bernama latin Elephas maximus ini. Ini karena statusnya yang dinyatakan terus merosot dan terancam punah. /Ancaman ini terjadi akibat aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan.

Di Taman Nasional Tesso Nilo, misalnya, konflik gajah dan manusia masih terus terjadi. Habitat gajah rusak hingga mereka muncul ke perkebunan dan perkampungan sekitar taman nasional.

Dari 83 ribu luas Taman Nasional, lebih separuh daerahnya dijarah untuk dijadikan pemukiman dan perkebunan kelapa sawit. Sementara, data WWF Riau pada 2015 menyebutkan, vegetasi areal TNTN yang masih tertutupi pepohonan hutan diperkirakan tinggal 15.000 sampai 18.000 hektar. Nyaris seluruh areal yang dirambah itu kini sudah ditanami kelapa sawit.

“Sebenarnya bukan kesalahan gajah liar. Secara turun temurun, mereka sudah memiliki wilayah jelajah sendiri, yang berubah lahan jadi kebun sawit dan perkampungan. Konflik terjadi, manusia membunuh baik menembak, menombak, maupun menjerat.

Data ini diperkuat setelah Tim Ekspedisi Taman Nasional Tesso Nilo yang berisikan komponen dari unsur Balai Taman Nasional Tesso Nilo, TNI, World Wildlife for Fund Riau, Green Radio, dan unsur Masyarakat, menyusuri kawasan hutan tersisa sejauh 39 kilometer selama 12 hari dari satu garis utara ke selatan, Maret lalu.

“Hari pertama kami berjalan masih banyak terlihat vegetasi tertutup, meski nampak juga pohon akasia dari konsesi perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri). Di hari kedua, kami melihat hutan terbuka sejauh mata memandang, yang saya perkirakan lebih dari 1.000 hektar,” kata salah seorang anggota Tim Ekspedisi, Nur Ainun.

Kondisi tersebut menjadi gambaran jelas penyusutan populasi gajah Sumatera berikut konflik yang terus mengiringinya bersama dengan manusia.

Kajian organisasi berbasis lingkunga WWF-Indonesia menunjukkan bahwa estimasi populasi gajah Sumatera yang menjadi benteng terakhir bagi populasi gajah menurun sebesar 84 persen, dalam seperempat abad terakhir ini. Populasi Gajah Sumatera Elephas maximus sumatranus di kawasan Taman Nasional ini berdasarkan hasil monitoring tahun 2009 diperkirakan mencapai 200 ekor. Data perjumpaan langsung di lapangan mencapai 58 ekor di kantong gajah Tesso Tenggara.

Pada tahun 2010 sampai 2013, gajah di Taman Nasional ini masih bertahan dengan kisaran populasi 150–200 ekor. Tim patroli gajah pada bulan Juni 2013, menjumpai 76 individu gajah di kantong Utara Tesso Nilo.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau mencatat sebanyak 11 ekor kematian gajah Sumatera sepanjang tahun 2015. “Untuk angka kematian gajah Sumatera sampai pertengahan 2016 ini sebanyak tiga ekor. Dua di antaranya karena konflik dan satu ekor mati baru lahir,” kata Humas BKSDA Riau, Dian Indriati.

Kondisi ini semakin diperburuk dengan kenyataan bahwa Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan laju deforestasi hutan terparah di dunia. Pengembangan industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit sebagai salah satu pemicu hilangnya habitat gajah di Sumatera, mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang semakin hari kian memuncak.

Padahal, mamalia terbesar di darat ini merupakan ‘spesies payung’ bagi habitatnya. Ia mewakili keragaman hayati di dalam sebuah ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Kemerosotan populasi satwa ini berarti kemerosotan kualitas hidup, keragaman hayati dan integritas ekologi dalam sebuah ekosistem.

Dalam satu hari, gajah mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan membantu proses regenerasi hutan alam.

Kelahiran bayi Lisa di taman nasional wilayah Sumatera ini, diharapkan mampu menekan keterancaman satwa langka ini. Apalagi, Lisa adalah anggota patroli Flying Squad yang bertugas menekan konflik dan membantu tim patroli menjaga kawasan dari pemburu dan pelaku pembalakan liar.

“Kita harus bersyukur dengan kehadiran penghuni baru Taman Nasional Tesso Nilo. Mengingat saat ini populasi gajah sumatera sangat memprihatikan terutama di Taman Nasional Tesso Nilo. Kita berharap negara harus benar-benar melindungi habitat gajah Sumatera yang terancam punah akibat perburuan termasuk di Taman Nasional Tesso Nilo,” kata Humas WWF, Syamsidar.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *