Ikon Baru Taman Wisata Alam Balekambang

Lima Merak Hijau yang diserahkan warga menjadi ikon baru di Taman Wisata Balekambang, Surakarta.

Dewi Cholidatul

Lelaki berbaju merah itu menarik nafas berat. Ditatapnya lima ekor Merak hijau secara bergantian. Meski ia merasa mampu memberi pakan secara layak, namun kandang sempit yang disediakannya tak lagi elok untuk bulu-bulu indah sang merak.

Dipeluknya salah hewan peliharaannya dengan penuh hikmad. Sambil mengelus bulu-bulu indah berwarna hijau keemasa, ia terus merenung. Ia merasa tak ada pilihan lain, selain menyerahkannya pada yang berwenang. Apalagi, ia mendengar selentingan bahwa kelima satwa itu salah satu hewan yang dilindungi.

“Kalau berada di BKSDA pasti perawatannya akan lebih bagus dan terjamin,” kata Endar Progresto, warga Desa Klego, Boyolali, Jawa Tengah, saat menyerahkan satwa koleksinya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Jawa Tengah. Ia berharap, dua merak jantan dan tiga betina itu mempunyai kandang dan pakan yang jauh lebih baik dari apa yang selama ini mampu disediakannya.

Kini, satwa yang juga dikenal sebagai Green Peafowl itu menjadi salah satu penghuni Taman Wisata Balekambang, Surakarta. Ini dilakukan karena pengelola kawasan wisata tersebut telah mendapatkan izin sebagai tempat penangkaran hewan langka, sekaligus pelestariannya.

Di tempat itu, kelima satwa itu akan bergabung dengan 5 ekor merak hijau lainnya yang menjadi koleksi pengelola wisata alam yang telah dibangun sejak 1921 tersebut. Selain merak hijau, taman seluas 9,8 hektare ini juga mengoleksi kijang dan monyet.

Satwa bernama ilmiah Pavu muticus adalah salah satu dari tiga spesies merak yang terdapat di dunia. Satwa ini mempunyai bulu-bulu yang indah, berwarna hijau keemasan.

Apalagi Merak Hijau jantan yang memiliki ekor panjang yang mampu mengembang bagai kipas. Ia berukuran sangat besar. meskipun begitu, ia bisa terbang dengan baik. Penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak.

Sementara, burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Mukanya memiliki aksen warna hitam di sekitar mata dan warna kuning cerah di sekitar kupingnya.

Perbiakan satwa dilindungi ini termasuk jarang. Ini karena betina hanya menetaskan tiga sampai enam telur setelah mengeraminya pada tumpukan daun dan ranting di atas tanah selama satu bulan. Anaknya akan terus berdekatan dengan induknya hingga musim kawin berikutnya, walaupun sudah bisa terbang pada usia yang masih sangat muda.

Dalam urusan makan, burung Merak Hijau doyan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.

Populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Cina, Vietnam, Myanmar dan Jawa, Indonesia. Sebelumnya Merak Hijau ditemukan juga di India, Bangladesh dan Malaysia, namun sekarang telah punah di sana. Habitatnya mulai dari dataran rendah hingga tempat-tempat yang tinggi.

Salah satunya habitat terbaik di Jawa bagi Merak jenis ini adalah Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Populasi keluarga Phasianidae ini terus berkurang. Ini diakibatkan oleh rusaknya habitat dan perburuan liar. Burung langka yang indah ini diburu untuk diambil bulunya ataupun diperdagangkan sebagai bintang peliharaan. Untuk menghindari kepunahan burung langka ini dilindungi undang-undang. Di Pulau Jawa kini jumlahnya tidak lebih dari 800 ekor.

International Council for Bird Preservation telah menetapkan burung merak ini sebagai spesies yang hampir punah. Penetapan ini juga dikuatkan dengan larangan memperjual-belikan satwa ini secara internasional, berdasarkan konvensi CITES, dan masuk dalam kategori Appendix II. Sedangkan Red List Authority-IUCN, pada data yang dirilis pada bulan Oktober 2009 telah menaikkan status satwa ini dari rentan menjadi genting.*

Leave a Reply

Top