Akhir Kisah si Bujang Mandeh

Si Bujang Mandeh tak bisa lagi kembali ke hutan. Jerat Sling Baja memupus impiannya kembali ke alam bebas di Ranah Minang.

Dewi Cholidatul

Perut Bujang Mandeh keroncongan. Ia sudah berjalan naik-turun tiga bukit Mandeh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Tapi tak satupun hewan yang bisa dimangsa.

Ia terpaksa turun ke kebun cengkih milik warga. Berharap binatang yang bisa dimangsa. Tapi malang tak dapat dinanya. Kaki kanannya justru terjerat sebuah jerat sling baja di Bukit Karambia. Semakin kuat ia berusaha keluar dari jerat itu, semakin kuat tali mengekang kakinya. Beruntung, lenguhannya didengar oleh seorang warga masyarakat adat, sebelum akhirnya dievakuasi.

“Ia diperkirakan sudah terjerat sekitar tiga hari. Jika terlambat dilepaskan, kemungkinan besar akan mati karena infeksi dan dehidrasi,” kata salah satu tim dokter hewan dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, Bukit Tinggi, Idham Fahmi.

Salah satu anggota tim evakuasi harimau itu mengatakan sling baja penjerat merupakan jerat khusus harimau. Jeratan itu menyebabkan harimau berbobot 90 kilogram dan panjang dua meter itu infeksi parah hingga ke bahu. “Apa boleh buat, infeksi parah menyebabkan Harimau Sumatera berusia 5 tahun itu harus diamputasi.”

Keputusan ini diambil setelah tim dokter berkonsultasi dengan pakar harimau Sumatera dari Taman Safari Indonesia dan konsultan harimau. Setelah amputasi, harimau tak bisa lepas kembali ke habitat di hutan Taratak Mandeh karena kondisi tanpa tangan akan memudahkan konflik langsung antara harimau dengan manusia. “Harimau juga akan kesulitan berburu makanan.”

Satu-satunya masa depan bagi si Phantera tigris Sumatrae ini adalah dijadikan pejantan untuk dikembangbiakkan di Suaka Marga Satwa dan Budaya Kinantan. “Di Lembaga Konservasi ada pengembangan plasma nutfah satwa langka indonesia, jadi si Bujang mandeh ini akan jadi pejantan,” kata Kepala Bidang Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi, Ikbal.

Aksi penangkapan satwa yang pandai berenang ini dengan menggunakan jerat sling marak terjadi, belakangan ini. Berselang beberapa hari dari evakuasi harimau di Kenagarian Mandeh, tersebut, petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat kembali menerima laporan konflik harimau-manusia. Si raja hutan yang kelaparan itu dikabarkan masuk kampung dan muncul dekat pemukiman warga di Sungai Liku Ateh Kanagarian.

“Kami menduga harimau lapar lalu menerkam sapi warga. Sapi luka paha kanan membuat sapi tersungkur,” kata Kapolsek Ranah Pesisir Iptu Busrial.

Turunnya harimau hingga ke perkampungan warga diakibatkan oleh jumlah makanan yang semakin menipis di hutan. Ini terjadi karena hutan-hutan di Sumatera terus terkikis dan digantikan oleh hutan produksi.

Padahal, si pemangsa puncak dalam rantai makanan ini membutuhkan habitat yang khas sebagai tempat hidupnya, yakni adanya tutupan hutan yang luas untuk tempat berteduh, beristirahat, berlindung dari terik matahari dan hujan, ketersediaan air yang memadai untuk minum, mandi dan berenang serta ketersediaan mangsa (pakan) yang cukup.

Selain itu, maraknya perdagangan kulit harimau secara ilegal hingga kini masih marak dilakukan, mengingat harganya yang fantastis. Nilai perdagangan satwa ilegal sendiri mencapai 15–20 miliar dolar per tahun. Ini merupakan angka perdagangan ilegal yang sangat besar di dunia, dimana nilainya hampir sama dengan perdagangan narkoba.

Maraknya perburuan dan sempitnya ruang hidup bagi sang raja hutan ini menjadi penyumbang terbesar kemersosotan populasinya. Di Pulau Sumatera yang menjadi habitatnya hanya tersisa sekitar 300 ekor.

“Data dari BBNTGL Harimau Sumatera yang berada di kawasan TNGL sekarang hanya tinggal 30 ekor. Kalau untuk di Pulau Sumatera berkisar 300 ekor,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sapto Aji Prabowo.

Sistem reporduksi harimau sumatera yang dapat berbiak kapan saja dengan masa kehamilan sekitar 103 hari, seolah sia-sia akibat berbagai faktor eksternal tersebut. Apalagi, masa hidupnya tak lebih dari 20 tahun. Tak heran, berbagai organisasi berbasis lingkungan dunia, seperti IUCN menyematkan satatus terancam punah pada keluarga Felidae ini.

Harimau Sumatera adalah harimau terakhir Indonesia – setelah harimau Bali pada dekade 40-an dan harimau Jawa pada dekade 80-an dinyatakan punah. Menjaga kehidupannya sebagai penjaga keseimbangan ekosistem hutan, berarti melindungi kelestarian dan menyelamatkan hidupan liar lainnya yang pada akhirnya turut menjaga kesejahteraan manusia.

Leave a Reply

Top