Si Mola-Mola dari Taman Laut Pantar

Taman Laut Selat Pantar menjadi tempat favorit bagi ikan berukuran gigan, mola-mola.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan Mola-mola berenang-renang di jajaran karang taman bawah laut, Selat Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Warnanya yang kelabu serta tekstur kasar pada badannya yang bulat membuat kehadirannya tampak kontras dengan anemon dan beragam biota yang tersusun rapi seperti rak buku di antara tebing dan jurang taman laut itu.

Mulut mungilnya tak berhenti mengunyah kudapan berupa zooplankton yang tertangkap di antara karang. Ukuran tubuh yang mencapai 2,2 ton tak memberinya pilihan lain selain menikmati perjalanan dengan santai, tanpa tergesa, ke atas permukaan. Padahal, ikan berjulukan sunfish ini sudah rindu cahaya matahari untuk berjemur atau tiduran, serupa turis yang sengaja menggosongkan kulit.

Ikan bertulang terberat di dunia ini sangat memerlukan sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya. Sejumlah peneliti mencatat, kebiasaan ini merupakan metode pemanasan sebelum kembali menyelam ke laut yang lebih dalam dan dingin. Sang mola-mola, tidak akan bisa hidup di bawah suhu 12 derajat Celcius.

Catatan lain menyebutkan, tehnik berjemur ini digunakan Mola-mola untuk mengusir parasit yang kerap menempel di kulitnya. Untuk mengusir si parasit ini, ia akan dibantu oleh ikan-ikan terumbu dan burung-burung laut yang datang mengerubutinya saat naik ke permukaan.

Sejumlah pelancong yang tengah memancing sempat dibuat terkejut dan kalang kabut saat melihat sirip atasnya muncul ke permukaan. Mereka mengira sirip tersebut milik ikan hiu. “Tenang, itu hanya mola-mola,” kata seorang nelayan menenangkan.

Sirip yang menyambung dari atas sampai ke bagian bawah perut tersebut sangat mendukung bentuk badannya yang bulat dan pipih. Tidak seperti kebanyakan ikan, mola-mola memang tidak mempunyai sirip ekor.

Meskipun memiliki persebaran yang luas, namun, ikan lucu sahabat para nelayan ini menghadapi sejumlah ancaman dalam hidupnya. Ia sering ditemukan mati tersedak akibat sampah plastik mirip ubur-ubur yang bertebaran di laut. Selain itu, perburuan mola-mola masih terjadi karena dianggap sebagai makanan lezat meski sudah ada pelarangan oleh Uni Eropa. Rusaknya terumbu karang akibat pengeboman ikan ikut berpengaruh terhadap kehidupannya. Sementara, gerakannya yang lambat membuat ikan ini sering tersangkut baling-baling kapal cepat.

Selain di Selat Pantar, mola-mola bisa ditemukan di perairan Nusa Penida, Bali. Sementara di dunia, ia tersebar merata di seluruh perairan hangat, mulai dari Perancis, Jerman, Belanda, Portugal, dan Rusia.

Perairan sepanjang Selat Pantar sendiri disebut-sebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia, setelah Selat Karibia, Amerika Selatan. Perairan yang membentang seluas 65,70 km persegi ini diapit Pulau Pantar dan Pulau Alor. Deretan alga melambai-lambai di dasar laut, berwarna coklat, kemerahan, putih, dan hijau, menambah khasanah keindahan taman laut.

Tempat ini semakin mempesona dengan kolksi batu-batu karang berbalut lumut berwarna coklat, merah muda, kuning, putih, hijau, jingga, dan metal. Makin jauh dari dan ke arah timur, kondisi air laut dengan terumbu karang dan tumbuhan laut makin rimbun dan padat.

Di beberapa titik dasar laut terdapat cekungan-cekungan kecil dengan batu-batuan dibalut karang berwarna merah muda, hijau, biru, putih, dan kekuningan. Hampir semua warna yang ditampilkan karang, batu-batuan, dan tumbuhan laut tampak di perairan ini. Di beberapa titik tampak karang bercabang menumbuhkan karang laut berwarna putih menjulang. Tak heran, kawasan ini juga kaya akan ikan karang yang lezat, seperti kerapu, tuna, dan berbagai jenis lainnya.

Selain mengoleksi berbagai jenis terumbu dan mola-mola, kawasan ini juga terdapat ratusan ekor lumba-lumba. Jalur ini bahkan menjadi lintasan ikan paus dari perairan Pasifik menuju Papua, Laut Banda, Selat Pantar, terus ke Laut Sawu.*Seekor ikan buta meraba-raba dinding stalagmit gua Salukang Kallang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Mulut yang memanjang mengais-ais oksigen di permukaan air. Badannya yang semula berwarna terlihat putih pucat sehingga tampak jelas aliran darahnya.

Mata hewan bernama latin Bostrychus macrophthalmus semula tajam. Tapi tak lagi berfungsi di kegelapan ‘kolam kecil’ sepanjang 10 meter itu. Dinding batu kapur yang ada di samping kanan-kirinya seolah bercahaya bagaikan kristal memberikan sedikit pantulan cahaya. Kondisi ini membuat satwa air ini bisa merasakan kehadiran dua tetangganya, udang khas dan planaria.

Ketiga satwa itu merupakan biota khas gua yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Mereka adalah wujud evolusi mahluk hidup yang bertahan dengan alam dan lingkungan. “Di goa gelap, mata mulai tak berfungsi. Akhirnya ikan ini, mengembangkan upaya bertahan lain misal indra perasa dan peraba,” kata Peneliti Biota Goa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi.

Satwa lainnnya, seperti jangkrik, misalnya, juga berubah bentuk. Antena depan makin panjang melebihi ukuran badan hingga empat kali lipat. Mereka memiliki siklus hidup lamban, karena persediaan makanan minim. “Berbeda dengan satwa atau spesies kerabat mereka di luar, dengan makanan berlimpah.”

Sitem goa Salukang Kallang adalah goa paling kaya biota yakni sebanyak 28 jenis. Jumlah tersebut paling banyak dibanding sejumlah sistem goa lain di Asia Tenggara.

Sistem goa ini memiliki delapan buah pintu masuk. Lima diantaranya dapat dilalui. Di beberapa titik, kedalaman air mencapai 12 meter.

Sistem air Salukang Kallang dikenal dengan nama Sistem Towakala. Ia bermula dari Sungai Gallang, menuju Sungai Kallang, lalu Gua VCM, mengalir ke Goa Salukang Kallang, ke Goa Lubang Kabut, Lubang Batu Neraka, Goa Tanete, Wattanang, hingga Bantimurung. Dalam kondisi normal, debit air dari sistem ini mencapai 500 liter per detik.

Namun, aliran pertama yang membuat sistem Towakala ini bermula, bersumber dari luar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yakni Sungai Gallang. Di sekitar Sungai Gallang tersenit begitu marak perkebunan dan pembukaan lahan yang terjadi hampir sepanjang waktu. Tumpukan sampah plastik yang sulit diurai tanah juga menimbun di sepanjang aliran sungai maupun goa.

“Saya kira persoalan rumit. Dalam kawasan taman nasional, semua terjaga baik. Namun kawasan penyangga di sekitar tidak terkontrol baik,” kata Andi Mulatauwe Hamrullah dari Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin.

Padahal, kawasan kars ini adalah tangki raksasa penampung air yang jatuh di wisata air terjun Bantimurung. Pembukaan lahan, maupun penebangan pohon akan membuka tutupan kawasan. Erosi hingga terjadi penumpukan sedimen. “Jadi proses tidak alami akan membuat beban lingkungan bertambah.”

Kehadiran wisatawan di goa-goa penampung air ini juga sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup habitat yang terbentuk. “Bayangkan, berapa orang yang memasuki goa sekadar jalan-jalan. Mereka menginjak air dan menjejak lumpur. Padahal di tempat itu bisa saja ada biota,” kata Cahyo.

Kondisi kawasan ini semakin runyam dengan mulai menjamurnya kawasan eksploitasi karst baik untuk keperluan penambangan marmer maupun bahan baku industri semen. Padahal, kawasan karst merupakan material yang tidak dapat diperbaharui, sehingga merusak sistem tatak air yang masuk ke Taman Nasional. “Kawasan kars yang masuk dalam zona perlindungan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sebagiannya adalah kawasan kars yang merupakan kawasan hutan serta area penggunanaan lain,” kata Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan Asmar Exwar.

Di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sendiri terdapat lebih dari 80 gua alam dan gua prasejarah. Kawasan Karst ini merupakan bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Kawasan ini merupakan yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Tiongkok.

Selain memimiliki koleksi goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, kawasan ini juga dikenal sebagai surga kupu-kupu. Alfred Russel Wallace pada 1857 bahkan menjuluki tempat ini sebagai The Kingdom of Butterfly, kerajaan kupu-kupu. Ini karena, berdasarkan identifikasinya, terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu. 20 jenis diantaranya dilindungi, seperti Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana.

Secara geografis, Taman Nasional seluas 43.750 hektare ini berlembah dan berbukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis. Kondisi ini membuat kekayaan hayati, baik flora maupun faunanya sangat beragam.*

Leave a Reply

Top