Menjaga Biota Goa di Bantimurung

Berbagai ancaman mengintai kawasan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, mulai dari menyusutnya populasi biota goa hingga menurunnya debit air di Air Terjun Bantimurung.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan buta meraba-raba dinding stalagmit gua Salukang Kallang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Mulut yang memanjang mengais-ais oksigen di permukaan air. Badannya yang semula berwarna terlihat putih pucat sehingga tampak jelas aliran darahnya.

Mata hewan bernama latin Bostrychus macrophthalmus semula tajam. Tapi tak lagi berfungsi di kegelapan ‘kolam kecil’ sepanjang 10 meter itu. Dinding batu kapur yang ada di samping kanan-kirinya seolah bercahaya bagaikan kristal memberikan sedikit pantulan cahaya. Kondisi ini membuat satwa air ini bisa merasakan kehadiran dua tetangganya, udang khas dan planaria.

Ketiga satwa itu merupakan biota khas gua yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Mereka adalah wujud evolusi mahluk hidup yang bertahan dengan alam dan lingkungan. “Di goa gelap, mata mulai tak berfungsi. Akhirnya ikan ini, mengembangkan upaya bertahan lain misal indra perasa dan peraba,” kata Peneliti Biota Goa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi.

Satwa lainnnya, seperti jangkrik, misalnya, juga berubah bentuk. Antena depan makin panjang melebihi ukuran badan hingga empat kali lipat. Mereka memiliki siklus hidup lamban, karena persediaan makanan minim. “Berbeda dengan satwa atau spesies kerabat mereka di luar, dengan makanan berlimpah.”

Sitem goa Salukang Kallang adalah goa paling kaya biota yakni sebanyak 28 jenis. Jumlah tersebut paling banyak dibanding sejumlah sistem goa lain di Asia Tenggara. Sistem air ini memiliki delapan buah pintu masuk. Lima diantaranya dapat dilalui. Di beberapa titik, kedalaman air mencapai 12 meter.

Sistem air Salukang Kallang dikenal dengan nama Sistem Towakala. Ia bermula dari Sungai Gallang, menuju Sungai Kallang, lalu Gua VCM, mengalir ke Goa Salukang Kallang, ke Goa Lubang Kabut, Lubang Batu Neraka, Goa Tanete, Wattanang, hingga Bantimurung. Dalam kondisi normal, debit air dari sistem ini mencapai 500 liter per detik.

Namun, aliran pertama yang membuat sistem Towakala ini bermula, bersumber dari luar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yakni Sungai Gallang. Di sekitar Sungai Gallang tersenit begitu marak perkebunan dan pembukaan lahan yang terjadi hampir sepanjang waktu. Tumpukan sampah plastik yang sulit diurai tanah juga menimbun di sepanjang aliran sungai maupun goa. “Saya kira persoalan rumit. Dalam kawasan taman nasional, semua terjaga baik. Namun kawasan penyangga di sekitar tidak terkontrol baik,” kata Andi Mulatauwe Hamrullah dari Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin.

Padahal, kawasan kars ini adalah tangki raksasa penampung air yang jatuh di wisata air terjun Bantimurung. Pembukaan lahan, maupun penebangan pohon akan membuka tutupan kawasan. Erosi hingga terjadi penumpukan sedimen. “Jadi proses tidak alami akan membuat beban lingkungan bertambah.”

Kondisi kawasan ini semakin runyam dengan mulai menjamurnya kawasan eksploitasi karst baik untuk keperluan penambangan marmer maupun bahan baku industri semen. Padahal, kawasan karst merupakan material yang tidak dapat diperbaharui, sehingga merusak sistem tatak air yang masuk ke Taman Nasional. “Kawasan kars yang masuk dalam zona perlindungan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sebagiannya adalah kawasan kars yang merupakan kawasan hutan serta area penggunanaan lain,” kata Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan Asmar Exwar.

Di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sendiri terdapat lebih dari 80 gua alam dan gua prasejarah. Kawasan Karst ini merupakan bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Kawasan ini merupakan yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Tiongkok.

Selain memimiliki koleksi goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, kawasan ini juga dikenal sebagai surga kupu-kupu. Alfred Russel Wallace pada 1857 bahkan menjuluki tempat ini sebagai The Kingdom of Butterfly, kerajaan kupu-kupu. Ini karena, berdasarkan identifikasinya, terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu. 20 jenis diantaranya dilindungi, seperti Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana.*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *