Penghuni Baru di Taman Nasional Manusela

Bunga Begonia galeolepis Ardi & D.C. Thomas merupakan jenis baru dari genus Begonia yang ditemukan di Taman Nasional Manusela.

Dewi Cholidatul

Sekuntum Begonia merekah di Taman Nasional Manusela, Maluku. Mahkota bunganya berwarna merah jambu yang lembut. Kepala sarinya yang berwarna kuning bergoyang-goyang mengikuti irama sepoi angin. Akarnya menempel pada dinding batu. Seekor serangga datang mendekatinya, ingin menghisap madunya.

Bunga dari genus begonia ini merupakan jenis baru yang ditemukan di Kepulauan Maluku. Penemunya memberinya nama Begonia galeolepis Ardi & D.C. Thomas. “Jenis ini merupakan endemik Pulau Seram di Kepulauan Maluku,” kata Wisnu H Ardi, Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya LIPI.

Dari hasil studi herbarium, Bunga jenis baru ini ditemukan di tiga lokasi di Pulau Seram. “Jenis baru ini merupakan material koleksi hasil eksplorasi Kebun Raya Bali dari Pulau Seram,” katanya.

Meski secara garis besar ia memiliki ciri yang sama, tetapi jenis baru ini sangat berbeda dari semua jenis Begonia yang sudah ada di kawasan Kepulauan Maluku. Ia memiliki karakter yang unik diantaranya memiliki sisik merah tebal menyerupai sisik ikan hiu pada bagian batang dan tangkai daunnya. “Tangkai bunga jantan yang sangat panjang,” katanya.

Tanaman yang cantik dan mempesona dari hutan tropis Indonesia ini adalah tanaman lantai hutan tropis yang bisa ditemukan di ketinggian 0 sampai 2.500 meter di atas permukaan laut. Habitatnya berada di perbukitan, hutan, pegunungan. Ia akan tumbuh dengan baik di tempat yang lembab, seperti pinggiran sungai, air terjun dan mulut gua.

Begonia adalah satu dari sepuluh genera angiosperma terbesar. Ia ditemukan mulai dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, Afrika hingga Asia Tenggara dan Selatan. Di Indonesia, begonia hampir bisa ditemukan di seluruh hutan tropis, mulai dari Aceh sampai Papua.

Saat ini, tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias. “Ada satu dua jenis sebagai tanaman obat, ada juga yang dimanfaatkan sebagai lalapan dan sayuran,” katanya.

Begonia galeolepis Ardi & D.C. Thomas menambah kecantikan dan kekayaan hayati Taman Nasional Manusela. Taman Nasional seluas 189.000 hektar ini merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.

Selain Begonia, Taman Nasional ini memiliki beberapa jenis tumbuhan khas seperti tancang, api-api, pulai, matoa/kasai, berbagai jenis anggrek, dan pakis endemik, Chintea binaya.

Keaneka ragaman hayati itu diikuti oleh keragaman fauna yang hidup di tempat itu. 14 dari 117 jenis burung yang ditemukan di sana endemik seperti kesturi ternate, kakatua Seram, dan burung madu Seram besar.

Taman Nasional Manusela dikenal sebagai salah satu Taman Nasional yang terindah di Indonesia. Ia mencakup 20% dari keseluruhan luas pulau Seram. Ia memiliki pemandangan alam yang indah dan terjaga dengan baik, serta pemandangan berbukit besar seperti tepi Markele, lembah Manusela.

Setidaknya terdapat delapan gunung dan bukit di tempat ini. Salah satunya adalah gunung Binaya yang merupakan puncak tertinggi di Maluku. Sebagian besar kawasan ini memiliki lereng yang sangat terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Kondisi ini dipercantik dengan adanya sungai-sungai yang mengalir deras, dengan konfigurasi topografi terjal.

Selain itu, Kawasan ini juga banyak memiliki keunikan. Di daerah Sawai, misalnya, mengoleksi aneka karang laut yang indah, sementara di atasnya terdapat pemandangan tebing sawai yang indah.

Masyarakat di kawasan desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, dan Kanike, hidup menyatu di dalam kawasan Taman Nasional. Masyarakat tersebut telah lama berada di desa-desa tersebut, dan percaya bahwa gunung-gunung yang berada di taman nasional dapat memberikan semangat dan perlindungan dalam kehidupan mereka. Kepercayaan mereka secara tidak langsung akan membantu menjaga dan melestarikan taman nasional, selain dijadikan sebagai lokasi wisata budaya.*