Menyelamatkan Terumbu di Ujung Kulon

Selain menjadi tempat rehabilitasi populasi bagi Badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon juga tengah membenani terumbu karang yang melindungi kawasan itu dari hantaman abrasi dan ancaman tsunami.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan badut berenang-renang di antara terumbu yang telah cacat di perairan pulau Mangir, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Ia hilir-mudik mencari-cari anemon laut.

Kemarin, karibnya itu masih berdiri menempel di terumbu, tak jauh dari tempatnya berenang. Tapi sebuah ledakan potasium yang dilempar seorang nelayan membuatnya ‘tercerabut’ dari terumbu.

Keberadaan koloni ribuan hewan kecil pembentuk terumbu di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memang sangat mengkhawatirkan. Dari luasan 44.337 hektare area laut yang dimiliki Taman Nasional itu, hanya sekitar 20 persen tertutup terumbu karang, berdasar pengamatan di perairan.

“Saat ini tutupan karang sekitar 20 sampai 30 persen di kawasan TNUK dan sekitar kawasan penyangga. Idealnya tutupan karang ini di angka 40 sampai 70 persen,” kata Costal angpd Ecotourism WWF Project Ujung Kulon Andre Crespo.

Kerusakan ini akibat dari pengambilan biota laut dengan alat tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan potasium, bom ikan dan jaring kencring yang bisa merusak terumbu karang. Praktik ini terjadi sejak 2005 silam. “Kita lakukan monitoring coral trees pada 2010-2011 dan terjadi penurunan tutupan karang,” katanya.

Padahal, kumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga itu sangat berguna bagi keberlangsungan kehidupan laut maupun manusia di darat. Terumbu karang acap kali dijadikan sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, baronang, ekor kuning, selain untuk kepentingan wisata bahari. Keluarga Cnidaria daru kelas Anthozoa ini juga sangat bermanfaat sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.

Melihat besarnya kerusakan terumbu karang, pihak Taman Nasional maupun beberapa lembaga swadaya yang berkonsentrasi pada kerusakan lingkungan laut terus melakukan rehabilitasi, seperti penanaman terumbu karang di sekitar Pulau Badul, Pulau Umang, Pulau Mangir, dan perairan dangkal lainnya baik di dalam kawasan maupun luar kawasan Taman Nasional.

Agar tak sia-sia, aksi ini secara langsung melibakan masyarakat maupun wisatawan melalui program eco-tourism. Terumbu karang yang ditanam melalui media tanam substrat di atas meja beton berukuran 20 kali 15 meter. Dalam satu rak sub strat terisi 25 koloni terumbu karang jenis cemara dan jamur. “Sejak 10 tahun lalu, lebih dari 10.000 koloni karang telah ditanam, dari jenis cemara dan karang jamur,” kata Ketua Kelompok Masyarakat Pelindung Terumbu Karang Paniis Lestari, Doni.

Taman Nasional Ujung Kulon sendiri merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat. Tempat ini dikenal sebagai habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Taman Nasional yang memiliki luas wilayah lebih dari 120 ribu hektare itu memiliki tiga tipe ekosistem, yakni ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Kondisi ini membuat keanekaragaman tumbuhan dan satwanya sangat beragam. Sedikitnya 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti cerlang, ki hujan, dan berbagai macam jenis anggrek.

Sementara, keanekaragaman satwa di lokasi ini terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang.

Selain wisata pantai, tempat ini memiliki koleksi obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam. Berbagai keindahan tersebut berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, dan peninggalan budaya/sejarah. Tak heran, pada 1991, tempat ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO.*

Leave a Reply

Top