Surga yang Tergusur

Suaka Margasatwa Rimbang Baling menjadi surga bagi Rangkong badak dan beragai spesies lainnya. Sayangnya, surga itu semakin tergusur oleh mesin-mesin pemotong kayu yang terus marak terjadi.

Dewi Cholidatul

Seekor burung berwarna hitam bertengger di tajuk tertinggi pohon Ara, kawsan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Balik, Riau. Paruhnya yang lancip begitu hikmad mematuk-matuk buah ara ranum. Di sebelah, seekor nokah yang sedang bertengger di salah satu dahan Ficus drupacea, berkeciap ribut minta jatah.

Ukuran tubuhnya yang gigan serta paruhnya yang panjang dan ringan menjadi ciri khusus bahwa burung legam itu bukanlah burung biasa. Ia adalah salah satu jenis rangkong terbesar di Asia, Buceros rhinoceros.

Satwa yang nyaris punah menurut IUCN Redlist ini mempunyai perilaku yang unik. Sang betina, misalnya, akan bersarang dalam lubang pohon yang kemudian ditutup dengan lumpur. Selama burung betina tinggal di dalam lubang tersebut ia diberi makan oleh burung jantan.

Makanan hewan pemakan segala ini sangat beragam, mulai dari buah-buahan, serangga, reptil kecil, hewan pengerat, dan burung-burung kecil. Meski begitu, mereka menempatkan bebuahan dari pohon Ara sebagai paling favorit.

Burung yang dijuluki petani hutan yang tangguh oleh peneliti rangkong dan hutan tropis, Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O’Brien ini, dikenal memiliki kesaktian menebar biji. Dengan kemampuan terbangnya hingga rentang 100 kilometer persegi, burung ini dapat menebar biji sejauh jarak tempuh tersebut. Dengan demikian, mereka telah meregenerasi hutan, tanpa disadari manusia.

Sayangnya, ancaman terhadap rangkong badak terus terjadi. Perburuan terhadap satwa ini cukup marak dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan investigasi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Yayasan Titian, tercatat sekitar 2.343 paruh rangkong gading berhasil disita dari pasar ilegal di Indonesia, Tiongkok, dan Amerika yang setelah ditelusuri semua paruh itu berasal dari Indonesia, pada 2015. Jika ditotal, dari 2012-2016 awal, sekitar 8.343 individu enggang gading yang dibantai dengan tujuan utama diselundupkan ke Tiongkok.

“Sejak abad ke-17 tepatnya zaman Dinasti Ming, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula rangkong gading untuk dijadikan hiasan. Cula yang berada di atas paruh ini beratnya sekitar 13 persen dari berat tubuhnya yang struktur materinya hampir sama dengan gading gajah. Bentuknya padat dan solid,” kata Yokyok Hadiprakarsa, dari Rangkong Indonesia.

Tingginya perburuan dan berkurangnya pohon spesifik untuk rangkong bersarang berdampak buruk bagi perkembangan rangkong. Seiring perkembangan teknologi, perdagangan burung ilegal pun, termasuk rangkong, ikut tren perkembangan zaman. Rangkong kini dijual secara online. “Situs e-commerce, jejaring sosial, dan grup di smartphone banyak digunakan para pelaku kejahatan karena lebih praktis, aman, dan jangkauannya lebih luas,” kata Wildlife Crime Unit Spesialist/Wildlife Conservation Society, Giyanto.

Cara-cara yang dilakukan pemburu untuk menangkap burung dari alam juga terus mereka perbarui. Ada yang menggunakan senjata api, pakai jaring atau lem, membuat perangkap kandang, memasang jerat, bahkan tanpa belas kasihan mengambil anakan dari sarangnya. “Konservasi burung, yang tak hanya rangkong, memang harus dilakukan bersama. Harus lintas personal dan instansi, bahkan lintas negara untuk menghadapi jaringan para pemburu yang skala internasional.”

Kehadiran keluarga Bucerotidae ini di Suaka Margasatwa Rimbang Baling menunjukkan bila rimba tersebut pastinya dipenuhi oleh pepohonan yang sehat. Ini karena rangkong membutuhkan pohon yang tegap dan kuat untuk digunakan sebagai sarangnya yang diperkirakan berdiameter 45 cm. Dengan begitu, pohon-pohon yang berpostur besar ini pastinya berada di hutan yang jauh dari kegiatan pembalakan.

Kawasan seluas 136 hektare ini memiliki hamparan hutan daratan rendah perbukitanyang berfungsi ekologis sebagai penyangga kehidupan dan pengatur tata air. Kawasan ini sebagai penyuplai oksigen serta habitat berbagai flora dan fauna langka. Kawasan ini juga merupakan hulu dan daerah tangkapan air berbagai sungai besar di Sumatera.

Kawasan yang sebagian besar berada di Riau dan sedikit di Sumatera barat ini memiliki kekayaan berbagai keanekaragaman hayati. Beberapa jenis satwa yang juga ditemui di kawsan tersebut seperti Nokah atau Surili sumatera, lutung, cigak, siamang, ungko/owa, dan beruk. Kawasan ini juga mengoleksi kangkareng perut putih, cucak sakit-tubuh, asi besar, dan cucak kelabu, elang ular bido selain rangkong badak.

Tidak hanya jenis fauna, flora yang ditemukan di rimbang baling juga sangat menarik. Sedikitnya terdapat 38 jenis jamur di kawasan tersebut, seperti Jamur tudung pengantin, jamur hati, jamur merah, Calvatia sp, Tremella fuciformis, Lentinus squarrosulus, cookeina tricholoma, dan Lentinus strigosus. Umumnya, mereka tumbuh di kayu keras, dan tidak dapat dimakan.

Berbagai kekayaan alam yang dimiliki Suaka Margasatwa ini tak luput dari ancaman kerusakan habitat flora dan faunanya karena perambahan hutan secara illegal, alih fungsi lahan dan maraknya perburuan liar. Suara mesin gergaji dan pohon tumbang terus terdengar, tanpa henti. Tanpa tedeng aling-aling, potongan-potongan kayu ilegal tersebut dibawa dengan perahu (piyou).

Kegiatan ini semakin marak dilakukan semenjak harga karet jatuh, beberapa tahun terakhir. Padahal, sebagian besar masyarakat yang berdomisili di Rimbang Baling merupakan penyadap karet dan mengandalkan karet sebagai sumber kehidupannya.