Nasib Miris Digilas Emas dan Sawit

Pohon tengkawang tak lagi populer setelah tanaman ekspansionis sawit menjarah hutan-hutan lebat di Kalimantan. Berbagai aktivitas penambangan emas turut menggusur keberadaannya di hutan hujan tropis.

Dewi Cholidatul

Sebatang pohon Shorea stenoptera berdiri tegak di Cagar Alam Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pohonnya tinggi menjulang ke atas langit. Cabangnya banyak, daunnya rimbun.

Pohon bernama lokal Tengkawang Tungkul ini merupakan salah satu flora yang tumbuh di hutan Kalimantan Barat dan telah dibudidayakan sejak 1881. Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat bahkan menyebutnya sebagai pohon kehidupan.

Tanaman khas iklim tropika basah ini menjadi penyangga inti hutan hujan tropis di Kalimantan. Rimbun lebatnya pohon yang juga disebut sebagai Borneo tallow nut ini berkontribusi besar bagi umat manusia melalui kemampuannya menyerap karbon CO2, di tengah kesibukan masyarakat dunia menghadapi ancaman perubahan iklim. Selain itu, keberadaan pohon besar itu juga menjamin ketersediaan satwa, ikan di sungai, madu, dan lainnya.

Meskipun buahnya tidak tiap tahun berbuah, tetapi buah meranti merah yang dihasilkan pohon ini dapat diolah menjadi minyak nabati. Turunannya juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan, mentega, cokelat, pelumas, obat, lilin, dan kosmetik.

“Saat panen raya, tiap pohon dapat menghasilkan biji kering hingga 400 kilo,” kata Deputi Direktur Perkumpulan Sahabat Masyarakat Pantai, Deny Nurdwiansyah.

Sayangnya, berbagai ekspansi yang menjarah Kalimantan beberapa dekade belakangan ini turut menggusur keberadaan pohon dari keluarga Dipterocarpaceae ini. Sebuah Perkumpulan Sahabat Masyarakat Pantai Kalimantan mengidentifikasi bahwa era keemasan pohon khas Kalimantan itu, kini telah memudar seiring laju investasi perkebunan kelapa sawit.

Kondisi ini tidak terlepas dari ekspansi minyak nabati kelapa sawit yang sudah mengubah kebutuhan minyak nabati masyarakat. Sehingga, tengkawang yang sudah dikeringkan kemudian dijual kepada para penampung yang datang ke kampung-kampung. Pada masa panen raya tengkawang, hukum pasar berlaku. Akibatnya, harga biji tengkawang kering sangat rendah, berkisar Rp.3000 per kilogram.

Permasalahan alamiah rendahnya produktivitas tengkawang yang tidak rutin tiap tahun berbuah, belum dipecahkan secara optimal dengan kemajuan ilmu dan teknologi pertanian. Malah kecenderungannya, potensi luar biasa hutan Kalimantan sebagai bahan baku lemak nabati itu diabaikan dengan mengedepankan tanaman kelapa sawit.

Sementara, pemerintah pun kurang mengambil peran terutama dalam intervensi teknologi untuk memisahkan daging dan minyak tengkawang. “Bahkan membiarkan masyarakat bergumul dengan pengetahuan yang sangat sederhana. Hal itu pun menjadikan olahan biji tengkawang kurang optimal.”

Padahal, saingan langsung minyak nabati tengkawang ini, kelapa sawit, adalah tanaman ekspansionis-monokultur yang dikembangkan dalam skala besar. Praktik dari sistem tersebut telah terbukti membongkar hutan alam Kalimantan berikut kekayaan biodiversity dan fungsi ekologisnya. “Bahkan, kelapa sawit yang dikembangkan seperti sekarang, turut menyingkirkan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat,” katanya.

Lebih tragis lagi, pohon tengkawang menjadi sasaran tebangan untuk dijadikan industri kayu. Apalagi kayu tengkawang dikenal sebagai kayu meranti merah, memiliki kualitas baik sebagai bahan baku pembangunan rumah dan industri kayu.

Menjawab kebutuhan tersebut, baru-baru ini, sejumlah pihak mulai melirik kembali komoditas alami ini. Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), misalnya, bekerja sama dengan Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional memberi bantuan peralatan press pembuat minyak buah tengkawang dan tepung kepada sejumlah Kelompok Tani Tengkawang di Kalimantan Barat.

Cagar Alam Mandor sendiri memiliki luas 3.080 hektar. Ia terletak 80 kilometer dari kota Pontianak. Sejak zaman kolonial Belanda 1936, kawasan ini telah ditetapkan sebagai wilayah lindung.

Berbagai jenis tumbuhan hidup di kawasan ini. Selain tengkawang, kawsan ini juga mengoleksi jelutung, keladan, dan kebaca. Untuk fauna, hidup juga beruang madu, kancil, binturong, musang, landak, dan burung enggang.

Kawasan ini memiliki beberapa tipe ekosistem, mulai dari rawa gambut, hutan kerangas, maupun hutan tropis dataran rendah. Keberadaan ekosistem tersebut sangat mendukung keragaman jenis tumbuhan dan satwa. “Ada 15 jenis anggrek dan 8 jenis kantung semar. Cagar alam ini merupakan habitatnya anggrek hitam,” kata Bidang Analisis Bencana Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Subyantoro Tri Pradopo.

Namun, keindahan bentang alam Cagar itu kini menjadi cacat. Selain didesak oleh kelapa sawit, di kawasan tersebut juga terdapat penambangan emas tanpa izin (PETI). Lubang-lubang menganga di atas hamparan pasir putih tampak bertebaran.

Sejak lama wilayah ini dikenal akan emasnya sehingga disebut gunung emas. Awal eksploitasi bermula saat kedatangan warga Tiongkok bernama Lo Fong Pak pada 1772. Hingga kemudian, Panembahan Mempawah diikuti Opu Daeng Manambon mendatangkan pekerja tambang asal Tiongkok. Kongsi disepakati dengan pembagian hasil antara penambang dengan kerajaan. “Hingga kini, PETI masih mengancam kawasan tersebut.”

Berbagai kegiatan operasi penertiban yang digalakkan tidak membuat para pelaku kapok. Kegiatan tersebut semakin gencar dilakukan setelah melibatkan sejumlah perusahaan dengan dalih normalisasi air.*

Leave a Reply

Top