Si Capung Langka dari Sahendaruman

Capung jarum menjadi salah satu indikator air bersih. Predator paling mengerikan di kerajaan hewan ini kini tercancam punah karena karena polusi dan perburuan para kolektor.

Dewi Cholidatul

Seekor capung bersembunyi di balik daun sebatang pohon yang menjulang di sekitar aliran sungai yang terdapat di kaki Gunung Sahendaruman di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Matanya yang seperti memakai kacamata awas memperhatikan lalat buah yang terbang di sekitar buah busuk di atas tanah. Sayapnya tegak, agar tak menimbulkan bunyi dan gerakan.

Melihat calon mangsanya lengah, satwa bernama latin Protosticta rozendalorum itu langsung melesat dan menukik. Mulutnya segera menjulur dan melumat mangsanya tanpa harus mendarat di bumi.

Satwa yang sudah ada sejak jaman dinosaurus ini selalu memukau dari warnanya yang indah dan beragam. Satwa bertubuh jenjang dan ramping seperti jarum ini termasuk serangga terbang yang canggih. Mereka bisa melayang-layang di udara, menyelam di air, terbang mundur dan terbalik, berputar 360 derajat dengan tiga kali kepakan sayap.

Ia memegang predikat serangga dengan rekor terbang tercepat. Capung mampu terbang dengan gerakan sayap yang dinamis dan dengan kecepatan rata-rata 30-60 km/jam. Beberapa jenis lain bahkan mampu terbang hingga 90km/jam. Satwa inilah yang mengilhami Igor Sikorsky saat membuat helikopter.

Di balik penampilan “ramah”nya, satwa mungil yang banyak disukai oleh manusia ini ternyata merupakan predator udara yang sangat rakus. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan Universitas Rutgers di Amerika Serikat menunjukkan, capung menjadi pemburu yang paling brutal sekaligus efektif dalam kerajaan hewan. Satwa ini mampu menangkap nyaris seluruh mangsanya dengan tingkat keberhasilan mencapai 95 persen. Bahkan capung kerap memakan mangsanya sembari tetap terbang, tanpa perlu repot hinggap ke daun atau ranting pohon.

“Capung akan merobek-robek tubuh mangsanya dan terus mengunyahnya sampai berbentuk gumpalan sebelum akhirnya mereka menelannya,” kata seorang profesor emeritus entomologi di Rutgers, Michael L. Mei.

Selera makan capung bisa dibilang tak berujung. Ia mampu menyantap habis 30 ekor lalat buah secara berturutan. Sejumlah penelitian menyebutkan tentang fitur kunci otak, mata, dan sayap capung yang memungkinkan serangga itu memburu mangsanya tanpa ragu. Kapasitas sistem saraf serangga itu hampir sama seperti manusia, terutama untuk perhatian selektif. Artinya, capung mampu fokus pada mangsa tunggal yang disasar, meski mangsa itu terbang di tengah gerombolan serangga lain yang beterbangan. “Capung akan terus makan selama masih ada makanan,” kata peneliti biomekanik di Universitas Harvard, Stacey Combes.

Sementara, teknik berburu milik capung berbeda dengan yang dilakukan oleh predator kebanyakan. “Capung datang dari arah yang tidak disadari oleh mangsanya.”

Habitat satwa yang masuk dalam ordo Odonata ini tersebar luas mulai dari sepanjang aliran air, kolam, rawa, hutan, sawah, hingga pekarangan rumah. Ia bahkan bisa ditemui di pantai ataupun daerah dengan ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut.

Siklus hidupnya pun tak bisa lepas dari air. Capung dewasa menaruh telurnya di air. Telur itu kemudian menetas menjadi nimfa yang akan tetap tinggal dalam air. Mereka baru akan terbang setelah menjadi capung dewasa, meskipun dipastikan tak akan jauh dari aliran air.

Namun, capung tak hidup di sembarang perairan. Capung hanya hidup di air bersih. Satwa purba ini berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia dijadikan sebagai indikator air bersih dan lingkungan yang sehat. Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan hingga tahun.

Saat menjadi larva, capung juga memangsa jentik-jentik nyamuk sehingga dapat mengurangi populasi nyamuk. Ia bahkan menjadi sahabat petani, karena menjadi predator alami hama yang mengganggu tanaman padi. Selain itu, capung juga menjadi sumber makan bagi hewan-hewan perairan lain seperti burung, ikan, katak, atau kumbang air.

Berbagai bentuk pencemaran dan polusi telah merusak habitat capung. Populasi capung banyak berkurang begitu pula jenisnya. Beberapa catatan ilmiah juga mencatat beberapa species dari keluarga Odonata terancam punah, tak terkecuali si capung jarum dari Kepulauan Sangihe.

Organisasi Internasional berbasis lingkungan, IUCN bahkan mengkategorikan keluarga Platystictidae ini dalam status terancam punah (critically endangered), sejak 2009. Spesies yang hanya terbatas di pulau Sangihe ini kian terdesak oleh berbagai perubahan fungsi hutan menjadi areal persawahan yang sebenarnya tak cocok bagi komunitas satwa ini. Di gunung Sahendaruman, habitat hidup satwa ini hanya tersisa tak lebih dari 10 km².

Kondisi ini semakin diperburuk dengan mulai maraknya perburuan satwa tersebut oleh para kolektor serangga dari berbagai belahan dunia. Capung-capung eksotik dan langka milik Indonesia berpindah ke negara lain tanpa terdeteksi. Ini terjadi karena minimnya perhatian pemerintah maupun masyarakat terhadap keberadaan capung itu sendiri.

“Kita sudah banyak kecolongan. Banyak orang datang ke Indonesia dengan izin turis tapi mereka melakukan riset capung,” kata peneliti dan pemerhati capung dari Indonesia Dragonfly Society, Magdalena Putri Nugrahani.

Meski Indonesia memiliki keragaman capung yang sangat tinggi, yaitu 15 persen dari total sekitar 5.680 spesies di seluruh dunia, namun pengetahuan mengenai capung di Indonesia masih sangat kurang. Mayoritas publikasi mengenai capung ditulis oleh peneliti asing.

Upaya pelestarian keanekaragaman capung di Indonesia saat ini berkejaran dengan cepatnya laju pembangunan. Seringkali, kegiatan pembangunan berdampak pada hilangnya tempat hidup mereka. Sebagaimana halnya yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, di mana lahan basah mayoritas sudah hilang dan berubah menjadi perkebunan ataupun areal penggunaan lain.

“Sulawesi dan Maluku juga penting untuk kita pantau karena aktifitas penambangan cukup tinggi namun eksplorasi keragaman spesies capung masih sangat kurang,” kata peneliti capung dan serangga air lainnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pungki Lupiyaningdyah.

Hutan lindung Gunung Sahendaruman sendiri terletak di Kepulauan Sangihe yang memilki berbagai jenis spesies endemik, namun terancam oleh berbagai faktor. Pulau seluas 58.200 hektare itu menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa endemis, seperti celepuk sangihe, serindit sangihe, udang-merah sangihe, anis-bentet sangihe, seriwang sangihe, kacamata sangihe, serta burung-madu sangihe.*