Lebih Dekat dengan Gajah Sumatera

Taman Wisata Alam Seblat menjadi salah satu tempat yang menyuguhkan interaksi langsung dengan berbagai jenis binatang liar Khas Sumatera.

Dewi Cholidatul

Langit malam bersih dari awan. Menyajikan gemintang yang berkerlap-kerlip, membentuk barisan dan gugusan. Beberapa diantaranya tak terlihat, tertutup rerimbun dahan yang menjulang.

Di kejauhan, terdengar suara beberapa ekor gajah yang belum tidur. Bersahut-sahutan dengan gemercik air yang mengalir di sungai Seblat. Sayup-sayup, angin malam pun bergemuruh, menembus celah-celah rumah kayu.

Rumah kayu itu sengaja dibangun di tengah hutan, Taman Wisata Alam Seblat, Bengkulu Utara. Rumah itu bisa disewa oleh wisatawan lokal maupun asing yang ingin lebih dekat dengan alam liar Sumatera.

Kawasan seluas 7.000 hektar itu merupakan rumah bagi sekitar 100 ekor gajah sumatera, harimau sumatera, beruang madu, tapir, burung rangkong, dan jenis fauna lain. Kawasan di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu itu juga menjadi habitat asli bunga terbesar di dunia, endemis Sumatera, Rafflesia arnoldii. Semuanya bisa dinikmati oleh para pelancong yang berkunjung ke tempat itu.

Kantong populasi terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu itu juga berfungsi sebagai Pusat Latihan Gajah (PLG). Sedikitnya 19 gajah sumatera dibina di taman ini. Di tempat ini, para pelancong dapat langsung berinteraksi dengan gajah-gajah binaan tersebut, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga membawa gajah masuk hutan untuk mencari makan.

“Kami tak menawarkan pertunjukan binatang, melainkan pemanfaatan gajah jinak untuk wisata,” kata Koordinator PLG Seblat, Ernie Suyanti Musabine.

Selain menikmati sensasi alam Sumatera, para wisatawan yang datang juga mendapatkan edukasi seputar hutan dan keanekaragaman hayati di kawasan itu. Tidak seperti obyek wisata yang menyuguhkan alam dan satwa liar sebagai atraksi utama, tempat ini justru menitikberatkan pada interaksi langsung antara wisatawan dengan satwa liar tanpa batasan, mulai dari pagi hingga malam.

”Tengah malam begitu penerangan dari genset dimatikan, semuanya jadi gelap gulita. Hanya suara satwa dalam hutan yang menemani,” kata seorang relawan untuk anak gajah sumatera asal Australia, Amanda French.

Karena itu, selama ini, pengunjung tempat ini masih didominasi oleh relawan, mahasiswa, dokter hewan, atau rombongan anak sekolah. “Lebih banyak warga negara asing yang berkunjung dibandingkan dengan turis domestik.”

Selain menikmati interaksi langsung dengan berbagai satwa liar, tempat wisata ini juga menyuguhkan sensasi berperahu melintasi Sungai Seblat. Sungai tersebut selebar sekitar 30 meter dapat dilintasi dengan perahu kayu milik warga atau menaiki gajah binaan.

Taman Wisata Alam Seblat kini mulai bergeliat. Secara bertahap, kamp di kawasan ini terus diperbaiki agar lebih nyaman ditinggali oleh pengunjung. Promosi pun dilakukan tidak hanya kepada publik dalam negeri, tetapi juga luar negeri. “Ke depan, wisatawan yang datang juga bisa menikmati seni budaya dan keramahtamahan warga setempat. Wisatawan pun bisa tinggal di rumah warga,” kata Erni.

Taman Wisata Alam ini bisa dicapai dari Kota Bengkulu, paling lama lima jam melalui jalan lintas barat Sumatera ke arah utara. Permukiman warga dan hamparan kebun kelapa sawit akan menyambut kita sebelum sampai di tepi Sungai Seblat.*

Leave a Reply

Top