Si Raksasa Jinak Diambang Kepunahan

Tingkat vertilitas yang rendah pada ikan Manta tak sebanding denga tingginya eksploitasi yang dihadapinya. Mitos tentang kemampuan insang di bidang kosmetik dan kesehatan membuat satwa raksasa ini diburu.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan pari berenang tergesa di perairan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Tubuhnya yang raksasa membuatnya sempat merasa putus asa, karena terkesan lamban.

Tapi ia tak punya pilihan lain. Tak ada gigi tajam atau pun sengat yang bisa membantunya menghadapi predator yang telah mengejarnya sejak sepuluh menit yang lalu, Galeocerdo cuvier. Maka, ia hanya mengandalkan pada kemampuan berenagnya.

Saat mencapai permukaan air, ikan bernama latin Manta birostris itu melompat. Baginya, ini adalah satu-satunya kelebihan yang dimilikinya untuk selamat dari maut.

Salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia ini memiliki lebar tubuh dari ujung sirip dada ke ujung sirip lainnya mencapai hampir 6-9 meter. Bobot terberat manta sendiri yang pernah diukur mencapai sekitar 3 ton.

Ikan berbentuk berlian ini memiliki sirip dada yang lebar serta ekor kecil seperti cambuk. Ia bergerak memakai sirip dadanya dengan cara mengombakkannya dari bagian dekat kepala hingga ke belakang tubuh sehingga saat dilihat, pari manta seolah-olah sedang terbang di dalam laut.
Keluarga Mobulinae ini sejatinya adalah hewan yang berperilaku tenang. Ia juga menunjukkan perilaku bersahabat dengan para penyelam sehingga penyelam yang kebetulan berada di dekatnya bisa memegang dan bahkan menungganginya. Ia juga biasa terlihat di dekat permukaan laut dan di sekitar terumbu karang yang kaya akan plankton, sebagai makanan favoritnya.

Ikan yang memiliki sepasang “tanduk” di dekat mulutnya ini dapat ditemukan di lautan tropis di seluruh dunia. Persebarannya yang luas dan penampilannya yang unik menyebabkan ikan ini begitu terkenal di kalangan penyelam dan nelayan. Di Indonesia, para pehobi selam dapat menemui ikan ini di banyak tempat. Selain di Taman Nasional Komodo, ia juga dapat dijumpai di perairan Nusa Penida Bali, sangalaki-derawan, Raja Ampat, Alor, Kalimantan, Maluku dan Suwalesi.

“Dia sangat jinak. Yang istimewa, manta ini bisa mengetahui ada manusia dan bisa berinteraksi dengan kita,” kata ahli pari manta dari Conservation International (CI) Indonesia Abam Sianipar.

Namun, kondisi tersebut tak lantas membuat pari manta atlantik ini selamat dari kepunahan. Sejak 2014, Ikan Pari Manta Oseanik ini dimasukkan dalam daftar Appendix II oleh lembaga konservasi lingkungan internasional, CITES.

Ikan ini belakangan juga berkategori “menuju kepunahan” oleh IUCN, karena perkiraan penyusutan populasinya yang terus-menerus, di masa mendatang. Ini bisa dilihat dari data dugaan biota tersebut yang didaratkan untuk diambil insangnya atau untuk keperluan lain. Pada 2005, jumlah yang didaratkan sebanyak 272 ekor, pada 2012 menurun jadi 120 ekor, dan pada 2014 hanya bisa 14 ekor saja.

“Selain hanya melahirnya satu anak dalam dua sampai lima tahun, populasi manta di Indonesia semakin menurun. Populasi manta menurun 70-95 persen dalam 10 tahun terakhir,” kataKepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Eko Hari Irianto.

Populasi pari manta dianggap dekat dengan bahaya karena tingginya kegiatan perikanan dan kondisi laut yang semakin terpolusi, sementara siklus kelahiran mereka rendah. Selain itu, rumor yang menyebutkan insang pari manta bisa sangat bermanfaat bagi kosmetik, menyebabkan perburuan pari manta masih gencar dilakukan di beberapa tempat, termasuk di Indonesia.

“Untuk insang manta, itu harganya bisa mencapai Rp 6 juta. Itu sangat dicari oleh negara seperti Tiongkok. Katanya, insang dikonsumsi dan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kanker. Saya tidak tahu itu karena belum ada riset ilmiahnya.”

Padahal, manta adalah hewan kharismatik yang memiliki potensi besar untuk menyumbangkan pemasukan melalui industri pariwisata. Sebuah studi dari lembaga O’Malley pada tahun 2013 menyatakan, bahwa ikan yang bisa mencapai ukuran lebih dari enam meter ini dapat menyumbang pemasukan mencapai US$ 1 juta. Sedangkan, jika dibunuh dan diperdagangkan seluruh bagian tubuhnya hanya akan bernilai kurang dari US$ 460.

Artinya, konservasi ikan Manta ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi saat dimanfaatkan dalam pariwisata Indonesia. Nilainya bahkan jauh lebih besar ketimbang penjualan ingsangnya. “Bisa mencapai Rp 1,7 triliun sepanjang ikan itu masih hidup,” kata Direktur Program Kelautan Conservastion International Indonesia, Victor Nikijuluw.*

Leave a Reply

Top