Macaca Ochreata yang Tergusur

Kelaparan dan berkonflik dengan manusia di Tahura Nipa-Nipa membuat kawanan monyet hitam ini “bermigrasi” ke Alun-Alun kota Kendari. Tapi malang, selongsong senapan angin justru menembus bagian perutnya.

Dewi Cholidatul

Tubuh legam seukuran lengan orang dewasa itu tergeletak tak berdaya di trotoar alun-alun Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Bulu-bulu yang menyelimuti sekujur tubuhnya ikut luruh bersama nyawa yang terlepas dari raga. Pada bagian perutnya terdapat bekas luka tembak senapan angin.

Beberapa orang yang melintas tak berani bertindak. Hanya menonton. Mereka tak mau disalahkan, meski merasa iba. Sementara empat kawanannya yang lain memilih tetap bergelantungan ke pepohonan trembesi. Tak berani mendekat, apalagi menyentuh tanah.

Kawanan monyet hitam khas Sulawesi ini diduga berasal dari kawasan pegunungan Tahura Nipa-Nipa yang membentang dari wilayah Kota Kendari sampai wilayah Kabupetan Konawe.

“Biasanya kalau hewan-hewan ini masuk kota itu karena habitatnya terdegradasi oleh gangguan manusia atau alam juga satwa-satwa ini kelaparan akibat kekurangan pasokan makanan,” kata salah satu petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Sulawesi Tenggara, Prihanto, saat mengamankan bangkai kera malang itu.

Sementara, empat kawanan satwa yang terancam punah itu berusaha ditangkap untuk selanjutkan dirawat dan dilepaskan liarkan kembali ke habitatnya. Namun, proses evakuasi tersebut tidak mudah dilakukan, karena mengundang perhatian masyrakat luas. Petugas tidak berani menembak menggunakan senapan bius karena khawatir hewan tersebut akan pingsan dan jatuh dari ketinggian.

“Kita evakuasi secepatnya karena kalau di sini kelaparan dan stress karena ditonton terus sama masyarakat,” katanya.

Satwa bernama latin Macaca ochreata itu memiliki panjang tubuh antara 50-59 cm. Sementara ekornya sepanjang 35-40 cm. Satwa pemakan buah ara, tunas, dan beberapa hewan invertebrata itu termasuk binatang diurnal yang menghabiskan sebagian besar kehidupannya di atas pohon.

Spesies ini hanya ditemukan di Sulawesi bagian tenggara, dan di pulau-pulau yang berdekatan dari Muna, Butung, dan pulau Palau Labuan Blanda. Selain di Indonesia, satwa langka ini sempat ditangkarkan di Catoctin Wildlife Preserve dan Kebun Binatang di Thurmont, Maryland, pada 1960. Hingga kini, sudah empat generasi yang tinggal di sana.

Organisasi konservasi internasional (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources/IUCN) memasukkan Macaca ochreata dalam daftar merah, dengan status rentan punah. Ini karena penurunan populasi yang terus terjadi, dan diperkirakan lebih dari 30 persen selama 40 tahun ke depan. Penurunan ini terjadi karena ekspansi hutan tanaman industri seperti kelapa sawit, perkebunan kakao dan kapas serta pemukiman manusia yang terus menggilas hutan alami yang menjadi habitat asli satwa ini.

Pemerintah Indonesia pun telah menetapkan status perlindungan kepada satwa ini, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Pelaku pembunuhan hewan langka terancam hukuman lima tahun penjara. Kita sedang memburu si penembak,” katanya.

Selanjutnya, BKSDA setempat berencana kembali melepasliarkan satwa endemik itu di kawasan konservasi di Tanjung Peropa, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Kelompok hutan Tanjung Peropa ini ditunjuk sebagai suaka margasatwa karena merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dengan vegetasi hutan non Dipterocarpacea, hutan belukar, hutan pantai dan hutan bakau.

Berdasarkan hasil penelitian pusat konservasi tumbuhan-Kebun Raya Bogor, sedikitnya terdapat 52 jenis tumbuhan liar. 30 jenis diantaranya berpotensi sebagai tanaman obat. Selain itu tercatat sedikitnya 14 jenis anggrek langka yang mendiami kawasan ini, salah satunya adalah Vandopsis lissochiloides.

Tempat ini merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi seperti anoa, rusa, monyet hitam Sulawesi, dan kuskus. Kawasan ini juga mengoleksi sedikitnya 34 jenis burung.

Selain itu, kawasan ini juga berfungsi sebagai pengatur tata air bagi wilayah Tanjung Peropa dan sekitarnya. Mata air dari kawasan itu mengalirkan air ke sungai, mulai dari Ulusena, Maretumbo, Rodaroda, Lambangi, Langgapulu serta sungai Laonti yang dimanfaatkan oleh sekitar 13 desa di wilayah tersebut.

“Kalau dikembalikan ke Tahura, mereka belum tentu bisa hidup dengan layak. Sudah banyak penduduk di kawasan tersebut dan mereka sering dianggap sebagai hama. Sementara, Suaka Margasatwa ini masih menyediakan berbagai pakan alami bagi mereka,” katanya.