Saat Terumbu Karang Memutih

Kekhawatiran melanda gerombolan terumbu karang yang menghiasi sejumlah pantai di Indonesia, menyusul adanya fenomena super elnino yang diperkirakan terjadi sejak April-Agustus mendatang.

Dewi Cholidatul

Gerombolan karang meja sepanjang teluk Permisan, Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi. Warnanya yang hijau lumut seolah pudar dan berubah menjadi warna putih, tersengat matahari. Seekor ikan hias berenang mengitari coral yang hidup di perairan tersebut.

Perubahan warna yang terjadi pada terumbu karang di kawasan Taman Nasional Meru Betiri itu telah terjadi beberapa hari terahir. Selain di kawasan tersebut, pemutihan warna tersebut juga menjadi fenomena di tempat lain, terutama di perairan Laut Selatan Jawa, perairan di sekitar Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Kondisi itu terjadi, karena saat ini terjadi peningkatan suhu di perairan lepas yang menandai dimulainya musim Super El Nino,” kata Ahli Peneliti Utama Bidang Terumbu Karang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Soeharsono. Terjadinya bleaching karena suhu air mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 derajat di atas normal.

Kondisi tersebut dapat berdampak buruk, terutama matinya terumbu karang di sejumlah kawasan perairan. Padahal, seharusnya suhu perairan di Indonesia relatif stabil dan tidak berubah karena termasuk daerah tropis. Tapi, akibat perubahan suhu di air sedikit saja, stabilitasnya akan terganggu. Kondisi ini kemudian berdampak pada terancamnya terumbu-terumbu karang yang ada seluruh perairan di Indonesia.

“Indonesia ini kan negara terumbu karang, bisa dibilang ibukotanya di dunia, tapi dengan adanya Super El Nino, maka ancamannya sangat tinggi. Ini yang sedang kita tangani bersama.”

Bencana ‘kematian’ terumbu karang tidak hanya mengintai terumbu-terumbu karang di selatan Jawa, tetapi juga seluruh Indonesia, sehingga potensi kehilangan terumbu karang dengan jumlah banyak sangat mungkin terjadi.

Karenanya, hingga kini pemerintah tengah memetakan kondisi lebih riil dan faktual. Hal itu, karena biasanya Super El Nino itu terjadi mulai April sampai Agustus.

Namun, beberapa catatan lain menyebutkan bahwa terumbu karang yang ada di Indonesia sudah memiliki sifat adaptif terhadap perubahan suhu air akibat El Nino. Sifat tersebut mulai muncul, setelah Indonesia dilanda bencana serupa pada 1982, 1997, 1998, dan 2010.

Kondisi tersebut juga bisa dikurangi jika kawasan perairan kondisi tutupannya masih baik. Tetapi, jika kondisinya sudah tinggal 30 persen atau bahkan tinggal 15 persen, maka itu pasti akan terjadi bleaching. Proses bleaching juga terjadi di wilayah perairan Kabupaten Banyuwangi, termasuk di Pantai Permisan dan Pantai Bangsring, tak jauh dari Taman Nasional Baluran. Tapi di kawasan tersebut terjadi pemutihan hanya sebatas di permukaan air saja. Sementara, di bawah permukaan hingga kedalaman 5 meter lebih, kondisinya masih baik.

“Kondisi itu bisa terbantu karena kawasan perairan itu adalah Selat Bali yang di bawahnya menjadi pertemuan arus deras dari dua perairan dan tutupannya masih baik,” kata Sekretaris Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Dermawan.

Taman Nasional Meru Betiri sendiri terletak di pantai selatan Jawa Timur dengan luas mencapai 50.000 hektare. Selain keindahan terumbu karang, tempat ini juga menyajikan pesona lima jenis penyu yang kerap menyambangi pantai ini. Menurut laporan penelitian WWF (World Wide Fund for Nature), Penyu hijau yang paling umum bersarang di Sukamade. Dan dari data kadang ada ada beberapa jenis yang absen bertelur selama beberapa tahun, namun kemudian kembali lagi.

Kawasan ini juga masih menyimpan harimau Jawa yang dikabarkan telah punah, selain banteng, macan tutul, kijang, dan berbagai jenis monyet. Dari jenis burung terdapat burung merak, berbagai elang dan rangkong.

Leave a Reply

Top