Si Hidung Mancung yang Tersisih

Populasi Bekantan semakin menyusut menyusul kerusakan hutan mangrove di Taman Nasional Gunung Palung

Dewi Cholidatul

Seekor monyet kecil berhidung mancung ‘berlari-lari’ di cabang-cabang pohon mangrove di tepian muara sungai, kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Di atas pohon tepat di tepian sungai itu, ia berhenti. Perutnya berkeriuk minta diisi. Tapi, pucuk-pucuk daun di pohon itu telah tandas, dihabiskan saudara-saudaranya.

Nasalis larvatus lainnya telah naik ke dahan lebih tinggi dan melompat ke seberang sungai. Ia harus segera menyusul, agar tak ketinggalan koloni. Sungai mengalir perlahan. Warnanya coklat. Di bawah sana, diantara aliran sungai yang tenang, sepasang mata buaya siam mengawasinya, menunggu hari sialnya untuk jatuh ke bawah atau kecerobohannya melihat kepiting atau ikan-ikan kecil.

Satwa yang menjadi maskot Dunia Fantasi ini senang hidup di dekat wilayah berair di dekat muara sungai atau hutan bakau. Selain lihai melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, ia juga pandai berenang. Bahkan, mereka bisa juga menyelam. Ini karena jari-jari mereka berselaput kecil. Ahli biologi juga mendeskripsikan si ‘Monyet Belanda’ ini memiliki katup penutup pada hidungnya.

Jumlah bekantan dalam 5-10 tahun terakhir turun drastis, dari 20 ribu ekor menjadi tujuh ribu ekor. Studi terbaru yang dilakukan dua tahun silam menunjukkan bahwa hanya terdapat 5.907 ekor bekantan yang tersisa. Sejumlah peneliti bahkan memprediksi si Monyet Belanda ini diproyeksikan akan punah, 12 tahun dari sekarang.

Di Taman Nasional seluas 90 ribu hektare ini, Crocodylus siamensis merupakan predator utama bagi Bekantan. Namun, kekhawatiran utama yang memperburuk populasi satwa ini bukanlah para pemangsa. Berkurangnya hutan mangrove di Indonesia justru dinilai sebagai penyebab utama, akibat pembukaan lahan untuk pemukiman penduduk, penggunaan lahan untuk tambak dan berbagai aktivitas manusia lainnya.

Di Taman Nasional Gunung Palung sendiri, kerusakan hutan mangrove diperkirakan mencapai separoh dari total lahan mangrove yang ada. Padahal, hutan mangrove sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan yang terjalin dalam ekosistem tersebut. Selain menyediakan keanekaragaman hayati, ekosistem mangrove juga sebagai plasma nutfah dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya.

Secara biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak, tempat memijah, dan mencari makanan untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan udang. Habitat berbagai satwa liar, seperti Selain Bekantan, mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, serangga, dan sebagainya. “Hutan mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun air untuk bermukim dan berkembang biak,” kata Kepala Bidang Perencanaan TNGP Ibrahim Sumardi.

Akibat alih fungsi hutan ini, keberadaan bekantan semakin terdesak. Di beberapa tempat lainnya, sekumpulan bekantan bahkan harus bermigrasi dan berkeliaran di lingkungan permukiman manusia. “Akhir-akhir ini kita sering menemukan bekatan berkeliaran di sekitar lingkungan permukiman warga, padahal sebelumnya hewan hidung panjang tersebut merupakan hewan yang sangat pemalu,” kata Pengendali Ekosistem Hutan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Heri Sofyan.

Bukan hanya beradaptasi dengan lingkungan permukiman, hewan yang sebelumnya hanya pemakan tumbuhan itu kini mulai mau makan buah-buahan seperti pisang. Kondisi lingkungan yang terus berubah menyebabkan satwa endemik Kalimantan tersebut juga terus beradaptasi. “Ini tentu berdampak kurang baik. Terutama terkait identitas satwa itu sendiri. Bekantan akan kehilangan sifat aslinya.”

Di tengah hutan yang sedang berubah menjadi lahan tanpa pepohonan, karena kayunya dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi daerah dan nasional, atau sebagai bahan pemasukan penduduk lokal, monyet mancung ini berjuang melawan kepunahan. Ia sedang menghadapi perubahan di lingkungan habitatnya yang sangat berpengaruh pada populasinya.

Untuk itu, pihak Taman Nasional sendiri mengajak masyarakat untuk menjaga hutan mangrove. Ini dilakukan dengan harapan jangka panjang bahwa populasi Bekantan ikut terjaga. “Kita sudah membentuk tujuh kelompak masyarakat yang saat ini sudah memulai ingin mengembalikan keberadaan dan fungsi hutan mangrove di kawasan mereka,” kata Ibrahim.

Taman Nasional Gunung Palung sendiri merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki keaneka-ragaman hayati bernilai tinggi. Di tempat ini terdapat tujuh tipe ekosistem antara lain hutan mangrove, hutan rawa, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan pamah tropika, dan hutan pegunungan yang selalu ditutupi kabut.

Taman nasional ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar.

Sedikitnya tercatat sekitar 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia yang berperan sebagai pemencar biji tumbuhan di hutan. Semua keluarga burung dan kemungkinan besar dari seluruh jenis burung yang ada di Kalimantan, terdapat di dalam hutan taman nasional ini.*