Kala Es Mencair di Puncak Jaya

Pemanasan Global yang terjadi bulan lalu, tak hanya melelehkan es di kutub Utara. Puncak Cartensz, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz, Papua, turut menjadi korbannya.

Dewi Cholidatul

Sege Home menyalak gelisah. Matanya memandang ke Puncak Cartensz, Taman Nasional Lorentz, Papua. Ini tak biasa. Kulitnya terlampau sensitif untuk merasakan hawa panas yang menyerukan beberapa hari belakangan. Panas itu bahkan berhasil melelehkan es di puncak pegunungan Jaya Wijaya.

Beberapa catatan ilmiah menyatakan bulan lalu menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah. Hal ini sehingga menyebabkan mencairnya es di kutub utara. Dampak pemanasan global itu ternyata juga dirasakan di Indonesia. Beberapa kabupaten yang memiliki pantai dan mengalami rob atau kenaikan air laut cukup tinggi seperti terjadi di Jakarta, Semarang dan Banyuwangi.

“Untuk Papua, dampaknya terjadi pencairan salju di puncak Jaya, tentunya ini harus jadi perhatian kita semua,” kata Dirjen Pengendalian Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tutik Hendrawati Mintarsih.

Meskipun Papua memiliki hutan yang luas bukan berarti tidak berdampak apa-apa. Apalagi, berbagai macam eksploitasi terus mengancam kawasan tersebut. Beberapa catatan ilmiah menyebutkan, lapisan es di Puncak Cartenz tak lagi abadi, karena terjadinya penyusutan secara drastis dari tahun ke tahun.

“Saljunya sudah tidak terlihat, sekarang sudah habis. Kehijauan mewah sudah tidak ada,” kata Mama Yosepha Alomang tokoh perempuan Suku Amungme, Papua. Suku Amungme merupakan salah satu suku di Papua yang mendiami lembah-lembah di Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya.

Bagi Suku Amungme alam adalah sumber kehidupan. Suku ini tak pernah mencari nafkah kecuali di tanah milik leluhur mereka. Tanah digambarkan sebagai sosok seorang ibu. Dia memberi makan, memelihara, mendidik dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia hingga akhirnya mati.

Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun dan berburu. Sedangkan pemakaman, gua, gunung dan air terjun dianggap sebagai tempat keramat. “Itu tempat arwah-arwah moyang kami. Dulu udaranya dingin, kini semakin panas,” kata tokoh Suku Amungme lainnya, Thomas Wanmang.

Foto dari satelit NASA yang dirilis beberapa waktu lalu oleh NASA juga menunjukkan hilangnya gletser di Cartensz Pyramid, yang merupakan bagian dari Barisan Sudirman. Catatan lain menyebutkan, penyusutan luas permukaan es ini diperkirakan terjadi sejak 1850 hingga 1980, dari 20 kilometer persegi menyusut menjadi 16,4 kilometer persegi.

“Pada 1989, ada lima gletser di Ndugu-Ndugu tersebut. Namun, pada 2009, dua dari lima gletser itu hilang sama sekali. Sedangkan sisa tiga gletser lainnya berkurang secara drastis,” kata peneliti dari Department of Atmospheric and Oceanic Science University of Maryland, College Park, Amerika Serikat, Dwi Susanto.

Padahal, Carstenz Pyramid masuk sebagai tujuh puncak tertinggi di dunia. Bersama dengan Gunung Kilimanjaro (Tanzania, Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Denali (Amerika Utara), Vinson Massif (Antartika), dan Everest (Nepal, Asia).

Dengan kondisi suhu Bumi saat ini, NASA memprediksi seluruh gletser di Papua akan musnah pada 20 tahun mendatang. Para peneliti juga menyebutkan, hal ini terjadi karena berbagai faktor. Seperti perubahan suhu, kelembapan, hujan, dan pergerakan awan. Kondisi iklim dan penggundulan hutan juga turut berpartisipasi.¬†“Perkiraan salju di Puncak Pegunungan Jayawijaya bakal hilang dua atau tiga dekade lagi,” katanya.

Untuk mencegah perubahan iklim lebih lanjut bisa dilakukan beberapa hal, baik secara kolektif maupun individu. Kolektif bisa berwujud gerakan masyarakat yang diwadahi pemerintah. Sedangkan gerakan individu dimulai dengan perubahan gaya hidup yang lebih “hijau.”

Mencairnya puncak Cartensz juga menjadi ancaman serius bagi Sege Home, Canis lupus. Satwa serupa serigala yang dipercaya menjadi penjaga sang puncak Cartensz hanya dapat ditemui di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut. Di tempat setinggi itu, ia hidup rukun bersama bersama satwa lainnya, Dingiso (Dendrolagus mbaiso), yakni satwa sejenis koala.

Anjing liar dari keluarga Canidae ini dikeramatkan oleh beberapa masyarakat adat Suku Moni dan beberapa suku lainnya yang mendiami lembah-lembah di pegunungan tersebut. Di beberapa tempat lainnya, satwa juga lebih dikenal dengan nama Dingo ini hidup di kawasan Australia dan Asia Tenggara.

Leave a Reply

Top