Kisah Sedih si Labi-Labi Moncong Babi

Labi-labi moncong babi menjadi incaran perdagangan internasional. Bentuk hidungnya yang lucu serta berbagai khasiat yang dipercaya melekat padanya semakin mengancam populasi di alam bebas.

Dewi Cholidatul

Seekor labi-labi berenang-renang mengikuti irama air yang mengalir di anak sungai Baliem yang merupakan bagian dari Taman Nasional Wasur, Papua. Dua lubang hidungnya menjorong ke luar, nyaris seperti moncong babi. Kejernihan air serta lebatnya pepohonan yang melindungi pinggiran sungai “Amazone ala Indonesia” itu membuat kepercayaan dirinya meningkat. Ia tak akan terkecoh oleh kehadiran buaya yang kerap memangsanya.

Tapi, kepercayaan dirinya surut saat melihat jejaring yang tiba-tiba menghambat gerakan renangnya. Beberapa hari yang lalu, saudara lelakinya juga terjerat jejaring yang sama sebelum akhrinya dibawa pergi oleh beberapa manusia yang menunggu di kejauhan.

Satwa bernama latin Carettochelys insculpta ini sangat mudah dikenali karena moncongnya yang nyaris seperti babi. Panjang tubuhnya antara 46-70 cm dengan berat rata-rata 22,5 kg.

Satwa yang kerap disebut kura-kura ini memiliki cangkang yang tidak keras dan lebih menyerupai kulit tebal. Tekstur tempurung tersebut kasar, dengan warna bervariasi mulai coklat hingga abu-abu gelap. Sedangkan bagian bawah tubuh hingga perut berwarna krem.

Salah satu reptil asli Indonesia ini memiliki kaki yang berwarna abu-abu gelap menyerupai sirip. Kayuhannya agak lebar dengan masing-masing dua cakar yang kuat. Rahangnya kuat dan ekor pendek.

Hewan omnivora ini menyukai buah, daun, moluska, krustasea, hingga serangga. Umur di habitat asli tidak diketahui namun yang di penangkaran mampu hidup hingga berusia 38 tahun.

Makhluk dua alam ini lebih banyak menghabiskan waktunya di air. Bahkan, pejantannya tak pernah sedetikpun meninggalkan air. Sementara sang betina akan naik ke permukaan jika harus bertelur di tepi sungai. Selain di sungai, ia mendiami air tawar dan muara air, meski sesekali dapat ditemui di daerah pantai berpasir atau di hamparan rumput rawa, danau, air payau, dan mata air panas.

Persebsaran satwa dilindungi ini hanya terbatas di Papua bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Selain itu dijumpai juga di sebagian Papua Nugini bagian selatan dan Australia bagian utara.

Satwa yang populer dengan sebutan Pig-nosed Turtle ini menjadi salah satu reptil langka dan terancam kelestariannya di Indonesia. Meski populasi pastinya tidak diketahui, namun diperkirakan mengalami penurunan populasi yang drastis.

Ancaman utamanya adalah perburuan liar untuk diperdagangkan baik sebagai hewan peliharaan ataupun dikonsumsi daging dan telurnya. Jenis bulus ini merupakan salah satu kura-kura yang paling banyak dieksploitasi dan diselundupkan ke luar negeri, selain terancaman akibat kerusakan habitat.

Ini terbukti dari banyaknya kasus penyelundupan yang berhasil digagalkan para petugas, sejak awal hingga pertengahan tahun ini. Upaya penyelundupan ini dilakukan melalui berbagai jalur, baik darat, laut maupun udara. Angkanya pun sangat fantastis, mulai dari 1.200 ekor hingga 7.000 ekor, sekali kirim.

Beberapa pakar menyatakan, meski kura-kura dan penyu sudah bertahan selama 220 juta tahun di Bumi, cangkang kerasnya tidak lagi jadi pelindung yang tepat. “Cangkang bekerja efektif melawan predator alam tapi bukanlah tandingan melawan niat manusia yang ingin memakan mereka,” kata Deputi dari Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group, Peter Paul van Dijk.

Tak heran, salah satu anggota ordo Testudines ini masuk dalam Daftar Merah IUCN dengan status rentan, sejak 16 tahun silam. Status tersebut dikuatkan oleh CITES yang menempatkannya dalam daftar Appendix II, yakni hanya boleh diperdagangkan secara internasional dengan pengawasan khusus dan ketat. Sedangkan di Indonesia, Labi-labi Moncong Babi menjadi salah satu hewan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 dan UU Nomor 1990.

Kerusakan lingkungan yang menjadi habitat alami sang kura-kura juga turut memperparah penyusutan populasi satwa ini. Kondisi ini juga diperparah berbagai regulasi yang kurang mendukung pelestariannya. Dinas Kehutanan Provinsi Papua, misalnya, baru-baru ini mengusulkan memasukkan satwa tersebut sebagai salah satu jenis satwa buru, dalam peraturan menteri terkait.

“Dengan ditetapkan sebagai satwa buru, maka kami dapat mempelopori dibentuknya kelompok atau koperasi masyarakat adat untuk memanfaatkan kura-kura moncong baik agar memberikan pendapatan secara legal,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Jan Jap Ormuseray.

Dia menuturkan selain dapat memberikan pemasukan dan menyejahterakan masyarakat, bisa juga meningkatkan pendapatan asli daerah di tempat habitat aslinya. “Hal ini juga dapat mengurangi kasus-kasus penyelundupan kura-kura moncong babi ke luar,” kilahnya.*kura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Kami

Multimedia tentang warisan budaya dan alam Indonesia.