Si Hiu Gergaji dari Danau Sentani

Populasi Hiu Gergaji di Danau Sentani mengikuti trend kerabatnya di laut lepas. Jumlahnya terus menyusut seiring eksploitasi dan perubahan iklim secara global.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan sepanjang 2 meter ‘berjalan-jalan’ mengelilingi 22 pulau kecil di danau Sentani, Papua. Tubuhnya yang ramping dengan dua sirip di dada membuatnya sangat lincah bergerak, mengikuti gerakan air yang diterpa angin dari arah Pegunungan Cycloops di sebelah utara. Pepohonan hijau di daratan seolah ikut menari.

Ikan bernama latin Pristis microdon ini memiliki moncong panjang mirip mata pisau. Moncong itu dilengkapi serangkaian gigi gergaji bermata dua. Gerigi berjumlah sekitar 20 pasang ini berguna untuk melumpuhkan mangsa, sebelum menjadi santapannya.

Beberapa ahli menyebutkan pandangan mata hiu gergaji tidak terlalu baik, bahkan cenderung buram. Meski begitu, mereka dianugerahi daya penciuman yang sangat tajam. Penciuman ini dimaksimalkan untuk mencari mangsa.

Penghuni air tawar dan menyukai daerah tropis ini merupakan salah satu ikan predator dan ikan laut yang telah beradaptasi dengan perairan air tawar. Hasil penelitian Balitbang Kelautan dan Perikanan tahun 2005 menunjukkan bahwa jenis ikan yang banyak terdapat di Danau Sentani merupakan ikan karnivora yang berdasarkan pengamatan kebiasaan mencari makannya menunjukkan sebagai pemakan udang kecil dan ikan-ikan kecil. Karena itu, ia tidak berbahaya bagi manusia.

Ikan yang berkembang biak dengan cara ovovivipar ini merupakan satu-satunya jenis hiu air tawar di dunia yang keberadaannya hampir punah. Penyebabnya antara lain penangkapan yang berlebihan, perubahan iklim global, degradasi habitat akibat pembangunan bendungan, pencemaran limbah, introduksi ikan asing, eksploitasi komersial, persaingan penggunaan air. dan terutama penggunaan jaring insang (gill net) yang dinilai kurang memperhatikan kelestarian alam.

Sejumlah data menyebutkan, pada medio tahun 1969-1971, penggunaan jaring insang mampu menangkap 151 ekor hiu Sentani. Tetapi tahun 1974 hiu Sentani hanya tertangkap 1 ekor dan bertahun-tahun berikutnya tidak pernah ada lagi.

Seperti banyak spesies lain, hiu secara umum menghadapi ancaman besar akibat perubahan iklim. Situs Discovery News melansir, peningkatan suhu global akibat gas efek rumah kaca menyebabkan hiu yang berada di samudera yang lebih hangat dan asam terpaksa harus beradaptasi dengan lingkungan. Perubahan yang cepat ini dinilai membahayakan kehidupan hiu, apalagi ditambah dengan fakta rendahnya angka evolusi para hiu yang dinilai sebagai lambannya spesies ini dalam merespon perubahan iklim.

“Semua leluhur makhluk hidup telah terpapar kondisi lingkungan yang telah sangat berubah dari waktu ke waktu,” kata seorang ahli Biologi hiu Samuel Gruber.

Khusus di Indonesia, ancaman kepunahan terhadap hiu berlipat-pipat ganda akibat belum adanya pengelolaan yang baik. Selain itu, bulum ada regulasi yang jelas tentang pengendalian dan pemanfaatannya. Kondisi ini diperparah dengan laju pertumbuhannya yang sangat lambat. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi hiu terbesar di dunia.

“Salah satu spesies yang berstatus punah di Indonesia adalah ikan hiu gergaji. Ikan hiu jenis ini saat ini sudah sangat langka didapatkan,” kata Kepala Sub Bagian Perlindungan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syamsul Bahri.

Hasil survei Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Pontianak Satuan Kerja Balikpapan bulan lalu menyebutkan bahwa hiu dan pari dibombardir berbagai jenis eksploitasi, terutama untuk konsumsi masyarakat. Mereka banyak disajikan sebagai makanan dalam bentuk diasinkan, diasap, maupun dipanggang, selain diekspor ke daerah lain, bahkan ke luar negeri.

“Survei tersebut mengungkap bahwa nelayan menangkap setidaknya 700 ikan hiu dan 170 ikan pari dari berbagai jenis dalam sehari,” kata Kepala Satker Balikpapan Andi Muh. Ishak Yusma. Dalam sehari, beberapa jenis hiu yang ditangkap paa nelayan seperti hiu hitam, hiu martil, hiu macan dan gergaji. Selain itu juga ada pari lontar selain berbagai jenis pari lainnya.

Berbagai jenis ancaman terhadap ikan ini membuat Konvensi Perdagangan Internasional Terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/CITES) memasukkan beberapa spesies hiu dalam daftar Appendix II. Perdagangan internasional terhadap jenis ikan ini akan diawasi secara ketat baik dalam kondisi hidup, mati, atau bagian tubuhnya. Sebelumnya, daftar merah IUCN juga menyematkan status terancam punah pada keluarga Pristidae ini. Khusus di Indonesia, ikan hiu gergaji Sentani merupakan satu-satunya jenis hiu air tawar di dunia yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan melalui SK Mentan No.716/Kpts/Um/10/80 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Masyarakat sekitar Danau Sentani sendiri memiliki kearifan dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Aturan tidak boleh menangkap ikan pada wilayah tertentu pada waktu tertentu dengan pembentukan tanda larangan serta adanya batas-batas penangkapan menurut adat dengan luas bervariasi dan penangkapan tersebut tidak boleh melanggar batas wilayah lain.

Berbagai pagar perlindungan ini diharapkan mampu mengurangi ancaman terhadap si hiu gergaji dalam kehidupan mendatang.

Leave a Reply

Top