Berburu Gaharu di Giam Siak Kecil

Perambahan hutan di Cagar Biosfer Giam Siak kecil-Bukit Batu, Riau, tidak hanya menjadikan pohon gaharu sebagai target. Lahan-lahan yang ditebang dan dihanguskan bahkan dialih-fungsikan menjadi perkebunan sawit.

Dewi Cholidatul

Seekor burung berwarna kelabu berhenti berkoak saat mendengar raungan mesin gergaji di kejauhan. Matanya mengerjap. Mesin itu pasti tengah melukai salah satu batang pohon gaharu yang menjulang di tinggi di hutan rawa gambut yang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu Riau ini.

Sejenak, terbersit keinginan untuk menolong sang pelindung dari spesies Aquilaria beccariana ini. Tapi ia tahu. Menampakkan diri merupakan ancaman bagi diri sendiri. Salah-salah, ia menjadi sasaran peluru senapan angin yang kerap dibawa para perambah. Atau ia justru diterjang si bunga merah yang sengaja ditebar untuk menghanguskan habitatnya.

Pohon dari keluarga Thymelaeaceae ini merupakan salah satu keanekaragaman hayati di cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu ini. Ia sebetulnya adalah salah satu indikator bagi hutan rawa yang terdapat di cagar biosfer.

Pohon ini bertajuk bulat, lebat, dengan percabangan yang horisontal. Daunnya tunggal, berbentuk lonjong memanjang dengan panjang, dengan ujung yang meruncing dan mengkilap.

Sementara bunganya berukuran mini berwarna hijau atau kekuningan. Bunga mungil ini akan muncul di ujung ranting atau di atas dan bawah ketiak daun. Bunga tersebut akan tumbuh menjadi buah berbentuk bulat telur berukuran 5 x 3 cm. Buah yang mengandung biji dengan bulu-bulu halus berwarna kemerahan ini menjadi penerus generasi.

Tinggi pohon yang mampu mencapai 40 meter menjadikannya sebagai pohon inti sebuah hutan. Apalagi dengan diameter batang lebih dari 60 cm. Kondisi ini semakin disempurnakan oleh batangnya yang lurus, tidak berbanir, dan berkayu keras. Kulitnya halus, berwarna coklat keputihan.

Kondisi tersebut membuat pohon dari ordo Malvales ini banyak diburu orang. Penyebabnya yaitu tingginya nilai ekonomis dari kayu gaharu itu sendiri. Ketenarannya hanya mampu disaingi oleh kayu cendana, menyusul kegunaannya sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis wewangian yang dipakai manusia.

Wewangian dari gaharu didapat dari gubal yang terbentuk akibat terinfensi kapang parasit dari sejenis jamur yang bernama Phaeoacremonium parasitica. Gubal inilah yang menjadikan kayu gaharu menjadi khas, unik, dan beraroma wangi, serta dihargai sangat mahal di pasar internasional.

Batangnya yang lurus dan kayunya yang keras membuat pohon ini juga diincar sebagai bahan bangunan.

Konon, kayu ini merupakan komoditas andalan Kerajaan Sriwijaya dalam mengendalikan jalur perdagangan antara Tiongkok dan India selama lima abad, 7-12 Masehi. Ia dijual bersama komoditas lainnya seperti cengkih, pala, gading gajah, kepulaga, emas dan timah, diperdagangkan hingga ke Tiongkok atau India.

Sejumlah peneliti mengatakan hampir setiap wilayah rawa gambut di pesisir timur Sumatera. terutama yang berdekatan dengan penemuan situs pemukiman Kerajaan Sriwijaya.

“Kemungkinan besar gaharu ini ditanam atau dibiarkan tumbuh karena digunakan oleh masyarakat Sriwijaya pada masa lalu, juga dijadikan komoditas yang diperdagangkan ke luar negeri pada masa itu,” kata arkeolog dari Balai Arkeolog Sumatera Selatan, Nurhadi Rangkuti.

Banyaknya manfaat yang dimiliki pohon ini membuatnya semakin rentan punah di alam bebas. Hal itu disebabkan minimnya jumlah bibit gaharu akibat minimnya upaya pelestarian kayu tersebut. Kondisi ini membuat konvensi internasional CITES memasukkannya dalam daftar Appendix II, dimana perdagangannya secara intenasional diawasi secara ketat termasuk pemberlakuan kuota di masing-masing negara.

Ancaman terhadap pohon ini juga terjadi di kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu Riau. Di kawasan yang terletak di dua kabupaten, yakni Bengkalis dan Siak ini, kayu gaharu dirambah secara sporadis oleh warga.

Kondisi ini membaut Cagar Biosfer yang telah ditetapkan sejak 2009 ini sudah tidak terjaga keasliannya. Bahkan, penjarahan terhadap kawasan hutan warisan dunia yang ditetapkan UNESCO itu sudah terjarah sejak tahun 2002.

Penjarahan terhadap pohon gaharu tersebut belakangan berubah bentuk menjadi penjarahan lahan dengan cara membakar hutan untuk diubah menjadi lahan sawit. Kebakaran Lahan dan Hutan yang terjadi pada April lalu, misalnya, membakar ribuan hektar kawasan hutan. Pembakaran yang diduga dilakukan oleh masyarakat pendatang itu belakangan berubah fungsi menjadi lahan sawit. Pembakaran dan perambahan yang telah terjadi sejak 2002 ini tidak hanya menyebabkan adanya “kabut asap abadi” di atas provinsi tersebut, tetapi menjajah negara tetangga.

“Seluruh perkebunan sawit akan kita musnahkan. Masyarakat akan kita pulangkan ke kampung halamannya masing-masing,” kata Bupati Siak, Syamsuar.

Ini diketahui setelah dilakukan pemantauan di lapangan. Di kawasan lebih dari 160 ribu hektar itu terhadap ratusan rumah masyarakat perambah hutan. Mereka bahkan membangun fasilitas umum seperti sekola dan rumah ibadah. “Untuk rumah ibadah dan sekolah, nantinya kita minta masyarakat untuk membongkarnya sendiri. Sedangkan untuk perkebunan sawitnya, akan kita musnahkan.”

Padahal, cagar biosfer yang terletak di Provinsi Riau itu merupakan rumah bagi 189 spesies tanaman. 29 di antaranya diklasifikasikan sebagai tanaman hutan rawa gambut yang langka dan terancam punah. Kawasan ini juga merupakan rumah bagi sejumlah satwa langka seperti gajah sumatera, harimau Sumatera, beruang madu, macan tutul, kucing marmer, tapir, beberapa spesies burung, dan ikan.*

Leave a Reply

Top