Saat Ajal Menjemput Dua Bayi Penguasa Hutan

Dua anak harimau yang mati di Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan menambah daftar panjang potret buram salah satu wisata andalan kota Bukittinggi.

Dewi Cholidatul

Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan tampak sepi menjelang lebaran, tahun ini. Hanya satu-dua petugas yang datang untuk memeriksa keadaan. Sementara pengunjung nyaris nihil. Semuanya berfokus pada hari kemenangan.

Senyap ini juga dirasakan Thamrin dan Sarinah. Dua bayi Panthera tigris Sumatrae yang baru lahir pertengahan Januari lalu. Hanya gemuruh dari dalam perut yang terus menguras isinya. Keluar dalam bentuk cairan tak sedap.

Beberapa hari sebelumnya, keduanya sempat dibawa ke pusat kesehatan Hewan, di Padang Panjang. Para ahli di sana mengungkap adanya kelainan genetis dalam tubuh keduanya. Kelainan yang belum sempat diketahui musababnya itu pula yang menarik nyawa Thamrin untuk berpulang, sebelum sempat mendengar kumandang takbir bertalu di seluruh pelosok negeri.

“Dan satu lagi mati pada Selasa kemarin,” kata salah satu petugas Taman Margasatwa atau Kebun Binatang Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kematian kedua anak harimau hasil perkawinan si Bancah dan Sean ini menambah daftar panjang kematian satwa di kebun binatang ini. Sebelumnya, dua anak macan dahan (Neofelis diadi) juga mati dengan musabab yang tak jelas, pada April dan Mei lalu.

“Dari hasil pemeriksaan awal dokter hewan kita, kedua anak macan dahan ini mengalami kelainan genetik,” kata Kepala Bidang TMSBK Bukittinggi, Ikbal.

Menurutnya, kelainan anak macan dahan sebenarnya diketahui sejak dalam kandungan. “Induk macan dahan memiliki tiga anak dalam kandungan, satu mati, satu prematur, dan satu lumayan sehat namun tak bertahan lama.”

Sementara, kondisi kedua anak harimau yang mati belakangan diketahui menurun drastis sampai akhirnya menemui ajalnya di dalam kandang. Petugas Suaka Marga Satwa menolak jika kematian dua anak harimau tersebut akibat mengalami tindak kekerasan oleh oknum pawang, hingga menyebabkan cidera tulang punggung. Jasad keduanya bahkan tidak dikubur, melainkan diawetkan untuk menambah objek wisata di lokasi tersebut.
“Ini harus dibuktikan lewat visum. Cidera punggungpun Bisa jadi hanya sebagai pemicu kematian, tak sertamerta disebut penyebab utama kematian (bukan primer),” kata Dokter hewan Idham Fahmi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar.

Ini karena, menurutnya, secara teori dan pengalaman, harimau cedera punggung tak langsung mati, bahkan proses bisa berlangsung lama. Harimau cedera punggung akan mengalami fase lumpuh dan berdampak pada respon lambung dan usus. Tentu, akan terjadi penurunan nasfu makan berakibat kondisi fisik dan kesehatan menurun.

“Tetapi, jika terbukti kematian karena kekerasan, pelaku dapat dijerat UU Kehutanan, bahkan diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.”

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait profesionalitas petugas Taman Margasatwa Bukittinggi mengingat banyak satwa dilindungi dititipkan di sana, serta tingginya angka kematian. “Apakah ada indikasi kekerasan, kita masih menunggu hasil autopsi,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I, Margo Utomo.

Organisasi berbasis lingkungan, WWF, mencatat kebun binatang Bukittinggi memiliki catatan yang buruk terkait penanganan kesehatan hewan, sehingga harus mendapat pembenahan serius. “Kelayakan Kebun Binatang Bukittinggi kurang, sudah waktunya dipindahkan ke tempat lebih bagus,” kata Sumatera Regional Leader WWF Indonesia Suhandri.

Taman Margasatwa yang terletak di atas Bukit Cubadak Bungkuak ini juga merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Ia dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an, dengan nama Stormpark. Pada tahun 1935, di area kebun binatang ini dibangun Rumah Adat Baanjuang (Rumah gadang) bergonjong gajah maharam, yang mempunyai 9 ruang dengan anjungannya di bagian kanan dan kiri.

Salah satu objek wisata andalan kota Bukittinggi ini dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh dengan objek wisata benteng Fort de Kock. Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota, menjadikan kebun binatang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang mengunjungi kota Bukittinggi.*

Leave a Reply

Top