Pesona Cagar Alam Bekutuk

Salah satu cagar alam yang terletak di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ini memiliki berbagai macam kekayaan alam yang unik. Ia sempat menjadi korban penjarahan, sehingga mempengaruhi berbagai ekosistem yang terbentuk di dalamnya.

Dewi Cholidatul

Seekor Alap-alap sedang bertengger di pepohonan jati, Cagar Alam Bekutuk. Iris matanya yang berwarna kelam semakin memberikan kesan ganas. Penglihatannya bahkan tak terganggu oleh temaram senja yang mulai ditinggalkan matahari, saat mengawasi seekor tikus. Dalam hitungan detik, tikus yang malang itu telah menjadi santapannya.

“Keeeeeeekkk…” pekiknya. Seolah mengumumkan kemenangannya.

Keluarga Falconidae ini merupakan salah satu jenis burung pemangsa. Ia memiliki sayap yang sempit dan runcing, dibandingkan sesama pemangsa lainnya dari famili Accipitridae. Paruhnya pendek dan melengkung, sementara kepalanya membulat.

Burung seukuran 25 cm ini sering menampilkan gaya-gaya akrobatis saat terbang di angkasa. Meski begitu, ia tak ketinggalan waktu, karena terbangnya memang sangat cepat.

Salah satu satwa sahabat petani ini dikenal sebagai burung pemburu yang paling menakutkan karena memiliki kemampuan menukik dengan kecepatan yang sangat tinggi. Penglihatan yang tajam menjadi pendukung yang sempurna. Jika burung ini sudah menargetkan makanan, sang mangsa takkan diberikan persiapan melarikan diri. Beberapa jenis dari burung ini tercatat sebagai hewan tercepat di dunia. Ini karena satwa ini dapat terbang dengan kecepatan tertinggi hingga 389km/jam.

Di hutan yang ditetapkan sebagai cagar alam sejak 2004 silam itu, Alap-alap bertetangga baik dengan beberapa satwa lainnya, seperti Kutilang, Tekukur, Trocokan, Tokek Hutan, Babi hutan, Elang Bido, Merak Hijau, dan Biawak.

Kawasan ini juga merupakan tempat transit bagi 19 jenis burung migran, seperti Kuntul Putih, Bangau Tongtong, Belibis Batu, Bambangan Merah, dan Cangak Merah.

Satu dari tiga cagar alam yang terdapat di Kabupaten Blora Jawa Tengah ini memiliki perpaduan hamparan hutan jati seluas 25,4 hektare, rawa seluas 16 hektar, savana 79,9 h ektar, dan sumber lumpur 10 hektar. Kawasan ini juga mengoleksi sumber lumpur Kesongo seluas 105,9 hektar.

Cagar Alam Bekutuk terletak di daerah dataran rendah berkapur dengan ketinggian sekitar 60 meter di atas permukaan laut. Topografinya berupa kawasan datar dengan sedikit bergelombang dan berbukit. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan ini memiliki tipe iklim D dengan rata-rata curah hujan sekitar 2.000–2.200 mm/tahun. Sementara suhu udara berkisar 21 -30 C dengan kelembaban 40 persen.

Namun, meski terletak di daerah berkapur, cagar alam yang terletak di Kesatuan Pemangku Hutan Randublatung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ini juga mengoleksi tujuh mata air yang menjadi sumber air masyarakat.

Sayangnya, kawasan ini sempat terkena penjarahan massal sehingga banyak pohon jati berukuran besar yang ditebang pencuri. Kondisi ini sempat membuat berbagai jenis satwa tersebut menyusut secara populasi, termasuk menyurutkan sumber mata air yang terkandung di dalamnya.*

Leave a Reply

Top