Yang Terserak dari Ranukumbolo

Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru menghadapi persoalan sampah yang dibawa para pengunjungnya dan mengancam ekosistem yang telah terbentuk di dalamnya.

Dewi Cholidatul

Seorang pendaki baru saja mendirikan tendanya di tepi danau Ranu Kumbolo, kaki Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Ia baru saja sampai di tempat itu, saat matahari hanya meninggalkan seberkas cahaya yang meremang di sebelah barat.

Udara dingin mulai menyergap saat malam mulai senyap. Perlahan, ia bakar selembar kertas yang disiapkannya untuk membakar ranting-ranting kering yang dikumpulkannya dalam perjalanan. Saat segelas cokelat panas siap menemaninya, ia melihat hamparan Milky Way bertabur bintang di langit menyuguhkan siluet deretan pegunungan Bromo Tengger Semeru. Menemani perjalanannya yang sendiri. Ia tak lagi merasa sepi, meski mendengar kehangatan riang tawa dan petikan gitar dari beberapa tenda di seberang sana.

Sayangnya, pemandangan indah itu hanya terjadi semalam. Saat siang hari, tebaran sampah terlihat mengotori pinggiran danau yang menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru itu. Botol bekas minuman dan bungkus mi instan berserakan di salah satu sudutnya. Rupanya, gerombolan pendaki meninggalkannya begitu saja tanpa ada yang berinisiatif membawanya ke tempat pembuangan di bagian bawah gunung.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki. Bahkan, saat libur panjang yang lalu tumpukan sampah para pendaki Semeru itu bisa mencapai mencapai 1,5 ton. “Artinya, di Gunung Semeru ada sekitar 250 kilogram sampah per hari,” kata humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Khairunissa.

Padahal, di kawasan tersebut telah disediakan tiga truk sampah untuk membawa turun sampah-sampah yang berserakan. Masing-masing truk tersebut mengangkut antara 400-500 kilogram sampah sekali angkut. Tapi jumpah tersebut seolah tak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah, seiring semakin ‘terkenalnya’ Ranu Kumbolo sebagai salah satu destinasi pilihan wisata. Namun, trukt-truk sewaan tersebut tak bisa dioperasikan setiap hari karena keterbatasan dana dan anggaran. “Nggak mungkin setiap hari, kita nggak punya anggaran untuk itu.”

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan lembaga swadaya berbasis lingkungan ProFauna selama beberapa tahun terakhir, kesadaran para pengunjung untuk membuang sampah di tempat yang sudah dialokasikan sangat rendah. Kondisi ini juga diperparah dari belum siapnya manajemen taman nasional yang ingin mengembangkan wisata dengan meningkatkan kuota pengunjung per hari, namun tidak diimbangi dengan kesiapan mengolah sampah.

“Dengan kesadaran pengunjung yang lemah ditambah sarana dan prasarana yang sangat kurang, sehingga taman nasional dan gunung-gunung kini menjadi tempat pembuangan sampah,” kata Rosek Nursahid, pegiat lingkungan dari lembaga ProFauna.

Menyaksikan bagaimana keterbatasan pengelola gunung dan taman nasional dalam mengelola sampah, sekelompok pendaki memutuskan untuk mendirikan komunitas peduli sampah gunung, Trashbag Community. Mereka bahu-mambahu mengangkut sampah yang berserak di sepanjang jalur gunung yang mereka lalui sambil berkampanye tentang bahaya sampah plastik bagi keberlangsungan hidup dan ekosistem yang telah terjaga.

Dalam temuannya, komunitas yang didirikan pada 2011 itu bahkan pernah mengangkut sampah botol plastik buatan 1987 dalam kondisi utuh. “Padahal, aksi pengangkutan sampah dari gunung telah dimulai para relawan bertahun-tahun lalu,” kata ketua umum Transhbag Community, Ragil Budi Wibowo.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sendiri memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun. Tiga tipe ekosistem ini membuat tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional ini beragam, seperti jamuju, cemara gunung, eidelweis, berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka.

Taman Nasional juga mencatat sekitar 137 jenis burung yang hidup di kawasan tersebut, berikut 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Sejumlah satwa langka yang hidup dan dilindungi di kawasan tersebut seperti luwak, rusa, kera ekor panjang, kijang, ayam hutan merah, macan tutul, dan ajag.

Saat kantuk mulai menyapa, seekor bintang jatuh melaju dari arah timur, jatuh tepat di pelupuk matanya. Doa tidur pun dipanjatkan. Semoga keelokan taman ini masih bisa dinikmati anak-cucunya, tanpa buntalan sampah yang berserak.*

 

Leave a Reply

Top