Si Raksasa Kerdil dari Papua

Burung Kasuari Kerdil merupakan satwa berukuran raksasa paling mungil di antara sejenisnya. Kini statusnya terancam punah, menyusul berbagai ancaman yang mengikutinya.

Dewi Cholidatul

Seekor burung setinggi satu meter sedang berjalan-jalan di antara rerimbun pepohonan yang menjulang di Suaka Margasatwa Mamberamo Foja, Jayapura, Papua. Paruhnya yang berwarna biru gelap kehitaman mematuk-matuk hikmad ke bebuahan yang jatuh ke tanah, sembari mengeluarkan suara dengkuran yang rendah.

Sejurus kemudian, aktivitasnya terhenti. Seolah terbirit, ia kemudian menjauh dan menghilang di balik pepohonan saat suara “ckrek” kamera terdengar oleh telinganya yang sensitif.

Meski berikuran besar, satwa bernama latin Casuarius bennetti ini merupakan satwa paling kecil dibandingkan sepupu-sepupu dari spesies lainnya, seperti Kasuari Gelambir Tunggal dan Kasuari Gelambir Ganda. Tak heran, ia dijuluki Kasuari kerdil.

Bulu burung kasuari gunung ini tampak berwarna lebih legam dan mengkilat. Sementara kulit pada leher berwarna biru cerah dengan bagian samping leher berwarna merah.

Burung yang juga dikenal dengan nama moruk ini dapat dikenali dengan gelambirnya yang tidak menggantung. Selain itu, tanduknya yang berbentuk segitiga dengan bagian belakang yang pipih. Ukurannya yang mencapai 1-1,5 meter, membuat berat badannya bisa mencapai 17 – 26 kg.

Meski tampak tenang, satwa pemalu yang senang hidup berkelompok ini dapat pula bersuara keras menyerupai bunyi “mwaaaaaa”, saat merasa terancam atau diserang. Meski tak dianugerahi kemampuan untuk terbang, tetapi si burung raksasa paling mungil ini mampu berlari cepat hingga mencapai 48 km/jam di hutan lebat. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan bisa melompat, berenang, dan menendang ke depan dengan kuat.

Di balik sifat tenangnya, burung endemik Papua ini juga mempunyai sifat yang agresif dan cenderung galak jika diganggu. Meski cenderung pemalu, beberapa catatan menyebutkan, burung bergrnus Casuarius ini sangat galak dan pemarah dan tidak segan-segan mengejar ‘korban’ atau para pengganggunya. Ia tak akan segan menggunakan kakinya yang sangat panjang dan kuat untuk menendang dan merobohkan musuh-musuhnya, termasuk manusia, hanya dengan sekali tendangan. Bahkan konon, The Guinnes Book of Records memasukkan burung Kasuari sebagai burung paling berbahaya di dunia.

Berbeda dengan berbagai jenis burung lainnya, pejantan spesies ini justru mempunyai tugas menjaga dan mengerami telurnya.

Satwa dari keluarga Casuariidae ini menyukai buah-buahan yang jatuh di tanah. Uniknya, mereka memakan buah-buahan tanpa merusak bijinya. Biji-biji tersebut lantas akan dikeluarkan bersama kotoran, pada proses berikutnya. Tak heran, fungsi burung ini sangat penting bagi habitat dan ekosistem yang ditempatinya, yakni sebagai penyebar benih tanaman yang penting di hutan.

Selain di Suaka Marga Satwa Mamberamo Foja, burung yang dikenal dengan Dwarf Cassowary ini mendiami hampir seluruh pegunungan Papua dengan ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut (Indonesia dan Papua Nugini), pulau Seram, pulau Yapen, dan New Britania. Habitatnya adalah daerah hutan pengunungan dan perbukitan hingga dataran rendah.

Meski jumlah populasi fauna identitas provinsi Papua Barat itu tidak diketahui secara pasti, namun diduga mengalami penurunan populasi secara pesat. Penurunan populasi tersebut diakibatkan oleh perburuan dan rusaknya habitat. Ini dikuatkan dengan status terancam punah yang ditetapkan oleh IUCN Red List dan status perlindungan yang diberikan pemerintah Indonesia, berdasarkan PP. Nomor 7 Tahun 1999.

Sementara itu, Suaka Margasatwa Mamberamo-Pegunungan Foja, adalah rangkaian gunung yang terletak di sebelah utara Sungai Mamberamo di kawasan Papua. Kawasan yang memiliki titik tertinggi mencapai 2.193 meter di atas permukaan laut ini merupakan bagian dari daerah aliran sungai Mamberamo yang memasok air bersih di seluruh kawasan Papua bagian utara.

Sejumlah catatan ilmiah menyebutkan, suaka margasatwa seluas 1.442.500 hektare ini menyimpan berbagai kekayaan alam yang eksotis. Bahkan, sebuah ekspedisi yang dilakukan pada akhir tahun 2005 dan 2007 silam menemukan puluhan spesies baru, di antaranya Parotia berlepschi dan jenis burung penghisap madu, possum Cercartetus pygmy, dan tikus raksasa Mallomys, di hutan tropis terpencil di sekitar pegunungan.*

Leave a Reply

Top