Pertaruhan Taman Nasional Zamrud

Taman Nasional Zamrud menjadi kawasan konservasi ke-52 yang ditetapkan pemerintah. Posisinya menjadi pertaruhan diantara kepentingan konservasi dan kandungan 50 juta barel minyak di dalamnya.

Dewi Cholidatul

“Dziiii, dzi…”

Seekor burung mungil berwarna hijau berkicau parau di antara pepohonan dataran rendah di Danau Zamrud, Kawasan Taman Nasional Zamrud, Siak, Riau. Panjang tubuhnya yang hanya sekitar 12 cm membuat gerakannya tampak lincah saat mematuk-matuk bebuahan di dedahan pohon.

Di Kepalanya terdapat bercak berwarna biru. Bercak lainnya yang mencuat di sekitar tenggorokan berwarna merah. Ini menjadi penanda bahwa burung bernama latin Loriculus galgulus itu berkelamin jantan. Pada betina, warna bulunya tampak lebih kusam.

Burung khas Riau Burung ini hanya seberat 28 gram. Paruhnya yang bengkok berwarna gelap. Mata, iris dan kakinya seragam, berwarna cokelat.

Burung famili Psittacidae ini sering terlihat terbang maupun bertengger dalam kelompok kecil. Kebiasaannya sangat aktif memanjat dan berjalan di ranting pohon ketimbang terbang. Di samping itu, burung serindit terlihat sering menggantungkan badan ke bawah saat beristirahat. Sementara, makanan favorit sayuran hijau, buah-buahan, padi-padian dan berbagai jenis serangga kecil.

Secara global, populasi burung ini tidak diketahui dengan pasti. BirdLife memperkirakan hingga kini jumlahnya masih sekitar 10.000 ekor dewasa dengan tren populasi yang stabil.

Salah satu penghuni Taman Nasional yang baru diresmikan beberapa hari lalu ini merupakan burung asli Indonesia yang menyebar di pulau Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta di ujung barat pulau Jawa (Banten). Ia juga bisa ditemukan di Semenanjung Malaya, mulai dari Singapura, Malaysia, dan Thailand, serta di Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam.

Selain dihuni sirindit melayu, kawasan rawa gambut Taman Nasional Zamrud juga didiami sedikitnya 12 spesies burung yang dilindungi dalam daftar IUCN. Selain itu ada juga Siamang, macan kumbang, harimau, tapir, rusa dan buaya air tawar.

Kawasan yang terletak sekitar 90 km dari pusat kota Pekanbaru ini juga dideteksi sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Ia merupakan habitat asli dari beberapa flora dan fauna. Diantaranya, pohon meranti, rengas, ramin, durian hutan, pinang merah, burung elang, burung bangau, ikan arwana dan beberapa jenis lainnya.

Tanah gambut yang menjadi ciri khasnya membuat Danau Zamrud yang terdapat di kawasan ini dikelilingi hutan yang masih asri dengan air berwarna hitam kebiruan. Tak heran, ia dijuluki “The Black Water”. Di dalam danau tersebut terdeteksi 14 jenis ikan, delapan di antaranya memiliki nilai ekonomi penting, seperti Sipimping, Selais, Kayangan, Tapah, Baung, Tomang, Balido, dan Gelang.

Danau Zamrud merupakan gabungan dari dua danau yang terletak di hutan rawa gambut basah. Kedua danau itu, bersisian satu sama lain. Yaitu Danau Besar dengan luas 2.416 hektare, dan Danau Bawah dengan luas 360 hektare. Dua pulau itu juga dihuni oleh ribuan kalelawar berikut kera tanpa ekor atau beruk.

Konon, pulau-pulau yang ada di danau ini sering berpindah, sehingga sering disebut pulau hanyut. Berdasarkan cerita rakyat setempat, ini terjadi karena pulau-pulau ini terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan. Sehingga pada saat-saat tertentu pulau tersebut dapat berpindah ke tempat-tempat yang berbeda. “Mengenai kebenarnya, silakan saksikan sendiri,” kata seoang pengemudi boat sekaligus warga setempat, Yanro.

Kawasan yang dulunya merupakan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar atau Danau Bawah ini memiliki luas kurang lebih 30 hektare. Ia ditopang oleh dua sungai yang menjadi penyangga air kawasan di sekitarnya, Sungai Kampar dan Sungai Siak.

Berbagai kekayaan alam tersebut menjadikan kawasan ini menjadi incaran para penjarah hutan. Apalagi, beberapa catatan menyebutkan kawaan ini memiliki kandungan minyak bumi hingga 50 juta barrel. Bahkan, beberapa perusahaan telah membuat pipa-pipa penyedot minyak yang siap beroperasi di kawasan ini, meskipun izin tambangnya belum keluar. Beberapa ruas jalan mengarah ke tempat ini bahkan telah dikeraskan, meskipun belum diaspal.

Pemerintah menetapkan kawasan ini menjadi Taman Nasional sebagai upaya melindungi kawasan tersebut dari para penjarah hutan. “Danau rawa ini kan termasuk keajaiban dunia. Mudah-mudahan dengan dikukuhkan menjadi Taman Nasional, keberadaan Zamrud ini bisa dimanfaatkan, baik untuk pariwisata, penelitian, pendidikan dan juga sebagai kawasan suaka margasatwa di Kabupaten Siak,” kata Bupati Siak Syamsuar.

Untuk menopang kelestarian Taman Nasional Zamrud sebagai kawasan konservasi untuk melindungi flora dan fauna yang hampir punah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melepaskan 56 ikan arwana golden red dan dua ekor elang brontok sebagai upaya pelestarian satwa langka ke habitat aslinya.

“Ini merupakan restocking pertama kali di daerah Taman Nasional Zamrud. Saya berharap arwana ini berkembang biak karena memang di sini habitat aslinya sudah diuji kualitas airnya. Termasuk juga untuk elang brontok yang kabarnya kerap dijerat warga,” kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni.*

Leave a Reply

Top