Rafflesia, Si Bunga Raksasa yang tak Berdaya

Dibalik ukuran raksasanya, Rafflesia sangat bergantung pada pohon inang yang melindunginya. Keberadaannya di alam bebas kian tergerus oleh berbagai perubahan alam dan campur tangan manusia.

Dewi Cholidatul

Matahari masih malu-malu menembus Hutan Lindung Bukit Daun, Kapahiang, Bengkulu, pagi itu. Cahayanya perlahan menguapkan sisa embun yang masih menyelimuti rerumputan. Tapi sekuntum Rafflesia arnoldii sudah tak sabar menyapa dunia. Perlahan tapi pasti, enam kelopaknya menggeliat. Merekah. Menyapa alam sekitarnya. Seolah berkata, Selamat Pagi.

Beberapa serangga yang baru terbangun dari tidurnya pun langsung tersedot, mendekat. Pada bau bangkai yang menguar dari sumur di tengah-tengah bunga. Juga pada warna merah pekat berbercak yang mempercantik penampilannya.

Mekarnya bunga raksasa ini tak hanya menarik bagi para serangga. Sejumlah peneliti dan wisatawan pun berduyun-duyun menyaksikan keelokal bunga yang mekar hingga berdiameter 70 cm ini. Apalagi, ditambah dengan keunikan spesies ini yang berkelopak enam.

“Umumnya bunga Rafflesia memiliki lima kelopak yang mekar sempurna pada hari kedua sejak terbuka. Dan sangat jarang ditemukan bunga Rafflesia enam kelopak,” kata Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu, Sofian Ramadhan di Bengkulu, beberapa waktu lalu.

Bunga ini pertama kali ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818. Ia lantas dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu.

Pada beberapa spesies, terutama Rafflesia arnoldii, diameter bunganya bisa mencapai lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm.

Secara umum, bunga dari ordo Malpighiales ini adalah genus tumbuhan bunga parasit. Flora endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma ini menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota.

Sejumlah catatan menyebutkan, selama 200-an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae ini sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.

Bunga yang tak memiliki batang, daun ataupun akar sesungguhnya ini hanya menyebar di Asia Tenggara, terutama di semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Dari 25 jenis rafflesia yang ada di dunia, sebanyak 12 jenis dapat dijumpai di Indonesia dengan 10 diantaranya ditemukan di Sumatera. Beberapa jenis bunga Rafflesia yang ada di Indonesia seperti selain jenis arnoldii, seperti Rafflesia hasseltii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia bengkuluensis, dan beberapa jenis lainnya.

Dibalik ukuran raksasanya, Rafflesia sangat bergantung pada pohon inang yang melindunginya. Sampai saat ini, tanaman ini tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya, kecuali Rafflesia patma yang berhasil hidup da mekar di Kebun Raya Bogor. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.

Perubahan alam yang terjadi secara cepat akibat pemanasan global dan ulah manusia membuat flora dari jenis ini banyak mengalami kematian dan perkembangan yang terganggu. Rafflesia magnifica, misalnya, telah ditetapkan berstatus nyaris punah (critically endangered) oleh IUCN Redlist, sejak 2008 sialm. Sementara, Rafflesia bengkuluensis, tercatat sebagai jenis yang mengalami laju kematian tertinggi, bahkan sebelum berkembang. Tingkat kematian jenis ini berkisar 80-100 persen, di habitatnya.

“Kuncupnya dapat mati semua dalam jangka waktu dua bulan,” katanya.

Perlindungan rafflesia penting dilakukan mengingat tidak semua habitatnya berada di kawasan taman nasional, cagar alam, atau hutan lindung. Namun juga, tersebar luas di lahan masyarakat. Oleh karena itu, konservasi habitat asli rafflesia penting dilakukan.

“Ada tiga ancaman kelestarian rafflesia di lahan penduduk. Lahan dikonversi menjadi perkebunan, perusakan atau pemotongan inang, dan banjir atau longsor,” kata Agus Susatya, Peneliti Rafflesia Universitas Bengkulu.

Umumnya, habitat rafflesia di lahan penduduk berada di lahan yang terjal atau curam, berukuran tidak begitu luas, dan kurang produktif. Hal ini sehingga pemilik lahan yang menjadi faktor penentu keberhasilan hidup rafflesia.

Untuk menyelamatkan flora jenis ini agar tetap hidup di lahan masyarakat, Agus menawarkan teknik zonasi. Yaitu, membagi lahan menjadi empat wilayah: zona inti, transisi, penyangga, dan zona produktif. Teknik ini dilakukan untuk memenuhi kepentingan ekologi dan ekonomi.

Pada zona inti, campur tangan pemilik lahan dibuat seminim mungkin. Ini diperlukan untuk menjaga komunitas tumbuhan dan lingkungan yang cocok untuk rafflesia. Lahan untuk zona inti tidak harus luas, bisa kurang dari 0,1 hektare. Lahan yang pernah ditemukan rafflesia yang ditetapkan menjadi zona ini.

Zona transisi bisa melibatkan campur tangan pemilik lahan sedikit intensif. Pemanfaatan lahan sudah bisa dilakukan, namun terbatas. Pada zona ini, pemilik lahan dapat berperan menjaga struktur dan komunitas tumbuhan semirip mungkin dengan zona inti.

Sementara di zona penyangga, campur tangan pemilik lahan bisa semakin intensif. Di wilayah ini, pemilik lahan dapat mencampurkan beberapa tanaman dengan komposisi tanaman pertanian atau perkebunan lebih dominan. Sedangkan pada zona produktif, pemilik lahan bisa memanfaatkannya secara leluasa.

“Tapi, pendekatannya memang sangat personal, persuasif dan dengan pemberian bantuan bibit atau semacam kompensasi. Kalaulah dilakukan penghitungan, kemungkinan biaya yang dikeluarkan tidak besar.”

Upaya konservasi in-situ rafflesia dengan teknik zonasi ini dapat diintegrasikan dengan kegiatan ekowisata. Namun, rafflesia hendaknya tidak dianggap sebagai satu-satunya objek wisata, meskipun tetap sebagai objek utama yang dikaitkan dengan objek lainnya.

“Langkah mengintegrasikannya memang tidak mudah. Perlu melibatkan penduduk dan banyak pihak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Namun, bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan.”*

Leave a Reply

Top