Menyelamatkan Gambut, Menyelamatkan Satwa

Lahan gambut di Taman Nasional Berbak menjadi proyek pertama restorasi hidrologi perubahan iklim di Indonesia.

Dewi Cholidatul Ummah

Seekor tapir tengah menikmati rerimbun dedaunan yang menjalar di pinggir sungai Air Hitam Dalam, Taman Nasional Berbak. Perutnya yang buncit mulai keroncongan minta diisi. Seharian tadi, ia tertidur pulas di kubangan

Moncongnya yang serupa trenggiling terus mengendus, Menjulur-julurkan lidahnya yang mengunyah sambil memilah. Saat dedaunan yang dikonsimnya dirasa kurang ‘asin’ atau sedikit kandungan mineral, maka kakinya akan terus berjalan. Tak heran, jangkauan jelajah satwa yang memiliki bentuk tubuh seperti babi ini sangat luas, untuk menemukan lokasi yang kaya akan garam mineral.

Sinar matahari yang meremang tak lagi menyilaukan mata si satwa liar bernama latin Tapirus indicus ini. Mahluk berwarna hitam-putih yang kontras ini merupakan warga nokturnal, yang selalu beraktivitas di malam hari. Tapi ia bukan satu-satunya. Di kejauhan, ada sepasang mata memandang dan menunggu saat-saatnya lengah, sebelum beranjak tidur.

Salah satu warga Taman Nasional Berbak ini umumnya dijumpai pada hutan dataran rendah, mulai dari hutan primer, sekunder, hingga campuran. Namun, pembakaran hutan dan perubahan fungsi hutan yang terjadi beberapa tahun belakangan membuat satwa sepanjang nyaris dua meter ini pun sering terlihat hadir di kebun sawit atau melintasi pemukiman penduduk. Kehadirannya di tengah masyarakat tentu saja menimbulkan berbagai reaksi, termasuk konflik dengan masyarakat awam.

Perilaku ini ternyata tak hanya dilakukan oleh tapir. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat, sedikitnya ada 150 kasus konflik antara manusia dan satwa di perbatasan Taman Nasional Berbak dan beberapa daerah lainnya di Jambi, sepanjang 2015 lalu. “Itu terjadi karena hutan tempat jelajah satwa berubah jadi lahan perkebunan atau jalan umum,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jambi Musri Nauli.

Nauli mengatakan, musim kemarau juga menjadi salah satu pemicu berbagai satwa tersebut masuk kampung, sebab ketersediaan air dan makanan sudah kritis. Terbatasnya ruang jelajah membuat populasi harimau berkurang. “Harimau-harimau tidak bisa lagi bermain di hutan-hutan di luar wilayah jelajahnya, dan kemungkinan terjadi insect, yang menyebabkan populasi tidak bagus dan banyak menimbulkan penyakit,” katanya.

Perubahan fungsi hutan yang terjadi di Taman nasional seluas 142.750 hektare ini tak hanya menghadap-hadapkan manusia dengan satwa liar dilindungi, namun juga menyebabkan fungsi lahan gambut yang sedianya sangat bermanfaat bagi kehidupan semesta ikut terganggu. Padahal, keunikannya taman nasional ini berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terbentang luas di pesisir Timur Pulau Sumatera.

Lahan gambut secara global menyimpan setidaknya 550 gigaton karbon, setara dengan seluruh biomas terestrial lainnya, mulai dari hutan, rerumputan, perdu, dan lainnya. Selain itu, gambut mampu menyerap karbon dua kali lipat dari seluruh karbon yang tersimpan di hutan secara global. “Di wilayah tropis sendiri, lahan gambut memiliki simpanan karbon 10 kali lipat dari jumlah karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah mineral,” kata Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Nyoto Santoso.

Khusus di Asia Tenggara, termasuk yang terdapat di Taman Nasional Berbak, lahan gambut memiliki kepentingan khusus, yakni untuk kelangsungan hidup berbagai jenis satwa, seperti orangutan, harimau sumatera, badak sumatera, serta jenis-jenis lain yang sudah terancam punah secara global, seperti mentok rimba dan buaya senyulong yang memiliki populasi kecil dan terbatas pada ekosistem hutan rawa gambut. Di samping itu, habitat air hitam tropis memiliki keanekaragaman hayati ikan dan satwa aquatik lain yang me miliki tingkat keunikan yang tinggi. “Secara otomatis, kerusakan lahan gambut di Taman Nasional Berbak berarti mengancam berbagai satwa yang ada di dalamnya, termasuk satwa aquatik lainnya.”

Untuk menanggulangi berbagai persoalan yang telanjur terjadi, Pemerintah pusat memasukkan Taman Nasional Berbak di Jambi dalam proyek pertama restorasi hidrologi perubahan iklim di Indonesia. Progam yang turut didanai oleh Amarika Serikat sebesar Rp232,8 miliar ini akan menjadikan Taman Nasional tersebut menjadi kawasan pelestarian hutan rawa terbesar di kawasan Asia Tenggara.

“Restorasi sistem ini pada akhirnya akan membantu mengurangi prevalensi kebakaran gambut di daerah tersebut. Proyek Berbak ini juga akan menyediakan pelatihan untuk meningkatkan produksi pertanian setempat serta memfasilitasi sertifikasi petani kelapa sawit kecil dan sistem energi terbarukan dari limbah pabrik kelapa sawit berbasis masyarakat,” kata Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert Blake.

Taman Nasional Berbak sendiri merupakan kawasan pelestarian alam untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara yang belum terjamah oleh eksploitasi manusia. Keunikannya berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir Timur Sumatera.

Ratusan bahkan ribuan burung migran dapat dilihat di taman nasional ini, yang dapat menimbulkan kekaguman apabila burung-burung tersebut terbang secara berkelompok. Taman Nasional ini tidak saja dilindungi secara nasional, tetapi juga secara internasional yaitu dengan ditetapkan sebagai Lahan Basah Internasional dalam Konvensi RAMSAR pada tahun 1992.*

Top