Rumah Terakhir Mentok Rimba

Satwa bernama Latin Asarcornis scutulata ini menghadapi ancaman hidup yang tak kalah genting dengan burung Maleo. Namun, upaya konservasinya masih kalah gaung dengan beberapa hewan besar lainnya.

Dewi Cholidatul

Sepasang bebek berukuran sekitar 80 cm tengah berenang di hutan rawa Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Kepalanya yang berwarna putih terang tiba-tiba dimasukkan ke dalam air, hingga hanya tampak sedikit ekor di permukaan. Saat kepalanya kembali ke permukaan, mulutnya telah membawa serta seekor ikan yang menjadi makanan pembukanya, senja itu.

Satwa bernama latin Asarcornis scutulata itu berbulu gelap dengan penutup sayap tengah abu-abu kebiruan. Sementara, kepala serta leher bagian atas berwarna putih. Itik hutan yang dulunya masuk dalam marga Cairina ini termasuk hewan crepuscular, yaitu cenderung lebih aktif saat fajar dan senja. Ia kerap mencari makan di perairan dangkal atau rawa-rawa. Makanan kegemarannya termasuk biji-bijian, tumbuhan air, ikan, dan hewan air yang berukuran kecil.

Di Indonesia burung yang semula masuk dalam genus Cairina ini semula dapat dijumpai di Sumatera dan Jawa. Namun, belakangan, burung jenis ini diduga telah punah di Jawa. Sementara, di Sumatera dan daratan Asia wilayah sebarannya kini terfragmentasi karena makin berkurangnya lahan basah yang dekat hutan dataran rendah. Habitat yang terfragmentasi ini membuat burung yang biasa bersarang di lubang pohon ini rentan terhadap kepunahan.

Habitat Mentok Rimba secara global hanya tersisa di Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia, India, dan Bangladesh, dengan jumlah populasi tidak mencapai 1000 ekor. Di Indonesia sendiri, semula burung jenis ini dapat dijumpai di Jawa dan Sumatera. Namun belakangan bebek yang juga sering disebut Serati ini telah punah di Jawa.

“Di Taman Nasional Way Kambas, populasinya tinggal 150 ekor, salah satu habitat Mentok Hutan yang tersisa di Indonesia,” kata aktivis Bird Conservation Oficer Burung Indonesia, Jihad.

Tekanan terhadap populasi mentok hutan ini sangat besar. Pembangunan listrik tenaga air dan polusi manusia menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Ini karena sebagian besar wilayah hidup mereka di lahan basah. Selain itu, penurunan polulasinya juga diakibatkan oleh kerusakan, degradasi, dan gangguan habitatnya termasuk kehilangan koridor hutan di tepi sungai.

“Maraknya perburuan telur dan anakan jenis ini untuk makanan maupun peliharaan, turut memperparah penurunan populasi si bebek istimewa ini.”

Kondisi tersebut menjadikan salah satu anggota ordo Anseriformes ini berstatus genting oleh IUCN Redlist, yang berarti terancam kepunahan. Sayangnya, sejauh ini, upaya penyelamatan spesies ini masih kalah gaung dengan penyelamatan satwa-satwa besar seperti gajah, harimau ataupun badak Sumatera.

Di Taman Nasional Way Kambas, si bebek hutan ini bertetangga baik dengan berbagai jenis burung antara lain Bangau Tongtong, Sempidan Biru, Kuau raja, Burung Pependang Timur, dan beberapa burung lainnya.

Taman Nasional yang terletak di bagian selatan pulau Sumatera ini juga merupakan pusat konservasi gajah pertama yang ada di Indonesia. Di tempat ini juga tedapat International Rhino Foundation yang bertugas menjaga spesies badak agar tidak terancam punah.

Kawasan yang banyak ditumbuhi Api-api, Pidada, Nipah dan pandan ini juga menjadi penting karena keberadaan berbagai hewan yang hampir punah lainnya, seperti Harimau sumatera, dan Buaya sepit. Begitu pentingnya kawasan ini membuat ASEAN menetapkannya sebagai kawasan Taman Warisan ASEAN (ASEAN Heritage Park).

“Ini menjadi tanda bahwa Taman Nasional Way Kambas bukan milik Indonesia saja tapi milik dunia, karena Taman Nasional Way Kambas memiliki keanekaragaman hayati dan keanekaragaman endemik,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tachrir Fathoni.

Penetapan kawasan perlindungan ke-36 di ASEAN ini merupakan bentuk kepercayaan dunia internasional kepada komitmen Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Di samping itu juga untuk memastikan pemanfaatan spesies dan ekosistem secara berkelanjutan, melestarikan keragaman genetik, menjaga keindahan alam, budaya, dan mendukung pendidikan, penelitian, serta pariwisata di TNWK.

“Tujuannya, agar pengelolaan kawasan lestari dapat memberikan manfaat yang optimal, tidak hanya manfaat ekologis, tetapi juga sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan,” kata Direktur Eksekutif Pusat Keanekaragaman Hayati ASEAN Y Roberto V Oliva.

Selain Taman Nasional Way Kambas di Lampung, terdapat tiga Taman Warisan ASEAN lain di Indonesia, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Lorentz, dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Leave a Reply

Top