Saat Sang Predator Diburu

Keberlangsungan hidup reptilia yang menjadi predator ganas ini semakin langka, menyusul semakin banyaknya pemangsa bermotif ekonomi yang menginginkan kulit serta empedunya.

Dewi Cholidatul

Badan lelaki berbaju gelap itu menegak saat seekor satwa merayap perlahan di antara cabang pohon ramping tak jauh dari tempatnya berpijak. Degup jantungnya mulai tak beraturan. Bulu kuduknya pun mulai meremang. Rimbun pepohonan menjulang di hutan primer Taman Nasional Bukit Barisan, Lampung, ikut menambah rasa gentar yang mulai merayapi hatinya.

Tapi, Ia tak mungkin meninggalkan momen itu. Saat tubuh panjang itu menggeliat, memperlihatkan corak unik perpaduan abu-abu dan hijau-kekuningan. Apalagi, ditambah fakta bahwa satwa dari spesies Sumatran pitviper ini salah satu penghuni taman nasional yang jarang ditemui.

Ia mulai menyusun beberapa strategi. Menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. Bagaimanapun, satwa ini bukan pemangsa biasa. Meski hanya memangsa katak, tikus hutan, dan beberapa jenis burung lainnya, tapi satwa bernama lain Sumatran tree viper ini menyimpan bisa yang mematikan di lidahnya.

“Di Sumatera, sudah sulit dijumpai spesies ini. Dulu mungkin cukup sering, sekarang sudah jarang,” kata lelaki itu yang merupakan peneliti dari WWF, Ridwan Setiawan.

Spesies yang juga dikenal sebagai Trimeresurus sumatranus itu memang bukan spesies baru. Tapi jelas, ia tergolong langka. Meskipun, menurut beberapa catatan, hewan nokturnal yang aktif pada malam hari itu sebenarnya menyebar mulai dari Sumatera, Mentawai, Nias, Borneo, hingga ke Semenanjung Malaysia hingga Thailand.

Ditemukannya kembali ular yang biasa berhibernasi di cabang pepohonan tersebut di Taman Nasional yang berbatasan dengan 3 provinsi ini dianggap sebagai habitat yang cocok untuk Sumatran pitviper. Selain karena temperaturnya yang lembab, beragam satwa mangsa pun banyak ditemukan di tempat itu. “Kondisinya lembab dan kaya sumber pangan bagi ular.”

Saat ini, satwa berekor kemerahan ini menghadapi berbagai ancaman. Mulai dari perburuan untuk kulit dan toksinnya, perambahan hutan, serta perubahan iklim. Selain diambil kulitnya, ular diburu untuk diambil toksinnya (empedu). Beberapa catatan menyebutkan, paling tidak sebanyak 20 ribu lembar kulit ular diekspor.

“Berarti, sebanyak 20 ribu individu ular terbunuh. Semakin banyak ular yang dibunuh untuk dikomersilkan, makin terganggu mata rantai dan lingkungan,” kata ahli herpetologi LIPI, Amir Hamidy, saat digelar digelar Festival Amfibi Reptil Kita, beberapa waktu lalu.

Padahal, satwa berbahaya ini sangat berguna bagi alam semesta, terutama bagi keberlangsungan hidup manusia. Makin hilangnya pemangsa hewan yang dianggap hama seperti tikus, katak, ulat, burung, wereng dan beberapa jenis lainnya menjadi salah satu penyebab kegagalan panen padi dan tanaman pertanian lainnya.

“Keberadaan tikus dan ular atau hewan-hewan lain di sawah, menjadi hal wajar, sebuah rantai makanan yang normal. Jika salah satu rantai putus, akan mengganggu bekerjanya rantai tersebut.”

Sementara, Taman Nasional seluas 324.000 hektare ini menjadi ekosistem yang penting untuk melindungi hutan hujan tropis pulau Sumatra beserta kekayaan alam hayati yang dimilikinya. UNESCO bahkan menjadikannya sebagai Warisan Dunia. Ini karena kawasan ini memiliki peringkat habitat darat, air tawar dan laut di bumi yang paling mencolok dari sudut pandang biologi yang dibuat oleh WWF. Taman ini disorot sebagai daerah prioritas untuk pelestarian tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia, seperti gajah Sumatera, badak Sumatera, dan harimau Sumatera.

Leave a Reply

Top