Menepati Janji di Ritual Kasada

Ritual Kasada 2016 tetap digelar masyarakat adat suku Tengger, meski abu vuklanik terus meletup dari bibir Kawah Gunugn Bromo. Semua, hanya demi menepati sebuah janji pada sang penguasa gunung, Jaya Kusuma.

Dewi Cholidatul

Kepulan asap semakin menebal lelaki berbaju putih itu menaburkan kemenyan di atas anglo di Pura Agung, sekitar satu kilometer dari kawah Bromo. Keningnya yang sebagian tertutup ikat kepala khas Suku tengger mengerut, pertana khusyu. Sementara mulutnya komat-kamit merapal mantra dan doa. Di kanan-kirinya, beberapa lelaki berpakaian serupa ikut merapal.

Berbagai jenis buah dan makanan sesaji dihaturkan pada Jaya Kusuma, Sang penguasa gunung Bromo. Tak ketinggalan penganan berupa raka genep, penganan yang terbuat dari tepung jagung. Penganan ini memiliki simbol lelaki, perempuan dan anak, itu merupakan wujud kerukunan keluarga.

“Ini dibuat di masing-masing desa, berisi hasil bumi yang ditanam,” kata Dukun Desa Ngadiwono, Tosari, Pasuruan, Puja Pramana.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar iringan musik tradisi Suku Tengger berkumandang dari Pendapa Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Musik itu mengiringi perjalanan ribuan umat Hindu Tengger beserta wisatawan nusantara dan mancanegara yang berarak sejauh lima kilometer, mendekati para tetua yang tengah berdoa.

Cuaca dingin yang menggigit kulit diiringi rintik hujan tak dihiraukan. Mereka terus berjalan. Menantang kepulan asap dari kawah Bromo. Ikut larut dalam perayaan upacara Yadnya Kasada, ritual khas Suku Tengger.

Ritual itu dilanjutkan dengan pembacaan legenda masyarakat tengger oleh Dukun Pandita Sutomo, menjelang subuh. Ritual yang dibacakan dalam bahasa tengger ini didasarkan pada cerita legenda masyarakat Tengger yang merupakan keturunan pasangan Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah bertahun-tahun menikah tak memiliki anak, keduanya bertapa dan berdoa kepada Tuhan. Mereka berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya atau mempersembahkan ke kawah Gunung Bromo.

Akhirnya mereka dianugerahi 25 anak yang disayanginya, tetapi lupa dengan janjinya mengorbankan salah satu anaknya. Semua anaknya menolak dikorbankan, namun si sulung Jaya Kusuma bersedia dikorbankan menemui sang Dewa Brahma atau Bromo untuk melunasi janji kedua orangtuanya.

Jaya Kusuma menyampaikan agar masyarakat keturunan Roro Anteng dan Joko Seger atau Tengger memberikan persembahan hasil bumi ke kawah Bromo pada tanggal 14 bulan Kasada sesuai penanggalan Tengger. “Masyarakat Tengger kini tak berani berjanji, ucapan dan tindakannya menyatu,” kata sutradara sendra tari Roro Anteng dan Joko Seger yang juga dipentaskan dalam acara itu, Heri Lentu.

Usai ritual Yadnya Kasada di Pura Agung, mereka bergegas memanggul ongkek berisi hasil pertanian. Mereka berjalan beriringan menuju kawah Gunung Bromo yang tak henti mengeluarkan abu vulkanis. Aroma belerang tercium menyesakkan dada. Sesampai di bibir kawah Bromo, seluruh hasil bumi dilempar ke dalam kawah. “Kami juga berdoa semoga erupsi berakhir,” katanya.

Ritual Kasada tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya telah memberi peringatan serta menaikkan status Bromo menjadi waspada atau level 2. Bandara di Kota Malang pun buka tutup karena letupan materialnya ke udara. Salah satu rekomendasinnya, warga sekitar Bromo dan pengunjung tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif gunung.

Pemerintah setempat bahkan memasang banyak spanduk dan baliho terkait berbagai peringatan dan larangan keras untuk mendekati kawan gunung ataupun standar keselamatan bagi masyarakat sekitar. Sementara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru mendirikan beberapa pos di sejumlah titik untuk menghalau beberapa pengunjung yang nekad naik ke atas. Mayoritas pos berlokasi di lautan pasir atau kaldera Bromo, yaitu di Watu Ungkuk, batas sungai, Pengol, sabana, Dingklik, puncak Penanjakan, dan kaki Gunung Batok, ditambah pos di Coban Trisula dan Jemplang, Desa Ngadas.

Tapi ritual ini tak bisa dihentikan. Para tetua adat khawatir jika janji tak ditepati, sang penguasa akan lebih mengamuk. Untuk itu, berbagai rambu-rambu larangan pun dipasang, terutama bagi yang tidak punya kepentingan dengan ritual Kasada.

“Statusnya naik, tapi pengunjung tetap naik, petugas vulkanologi cenat cenut,” kata Kepala Resort Pengelolaan Nasional Tengger Laut Pasir bagian dari Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, Agus Dwi Andono. Menurutnya sebelum Februari kawasan gunung Bromo sempat ditutup total namun dibuka kembali ketika aktivitas vulkanik menurun.

Kebijakan atau aturan kesiapsiagaan kebencanaan tak bisa mutlak diterapkan di Indonesia, ketika tradisi sosial budaya dan keyakinan lokal masih kuat. Para pemburu rejeki atau disebut marit ini, misalnya, tak gentar berada di dalam kawah, berteman asap dan abu erupsi. Mereka adalah para penangkap sesajen berupa makanan, hasil pertanian, ternak, dan uang yang dilempar warga Tengger saat ritual Yadnya Kasada. Mereka bisa hampir dua hari tinggal sementara dengan tutup terpal di lereng kawah.

“Tidak pernah ada yang jatuh ke lubang kawah, aman-aman saja,” kata Saitun, 65 tahun, warga setempat. Ia hanya dilindungi dengan jas hujan tipis hijau dan topi untuk menghalau abu erupsi dan hujan yang datang di ritual Kasada ini.

Sebuah survei yang dilakukan Kompas pada 2011 silam menemukan fakta bahwa mayoritas masyarakat melihat bencana secara tradisional. Dari sekitar 800-an responden yang dilibatkan, sekitar 48 persen cenderung menilai bencana tak bisa dihindari, sementara sisanya sudah berpikir transformatif dengan mengakui mekanisme alam dan bisa melakukan pencegahan.

“Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mendorong transformasi pengetahuan lokal tentang kebencanaan untuk mengubah perilaku. Banyak teks-teks atau budaya lisan tentang tanda-tanda bencana di Indonesia,” kata pelaksana Ekspedisi Cincin Api koran Kompas, Ahmad Arif.

Ini bisa dilihat dari berkembangnya pengetahuan lokal dari masyarakat Pulau Simeulue. Nyanyian atau dongeng tentang smong atau ombak laut (tsunami) yang diceritakan secara turun temurun dapat menyelamatkan warga dari bencana tsunami pada 2004 silam. Meskipun ribuan rumah rusak tapi “hanya” 7 warga meninggal karena sebagian besar sudah lari ke gunung.

Bagaimanapun, Bromo memang memberi banyak untuk warga sekitar, tak hanya dari beberapa desa dekat gunung, tetapi juga kawasan yang meliputi Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Lahan-lahan pertanian terlihat subur dan ada sekitar 50 ribu hektar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan aneka satwa dan bentang pasirnya yang menjadi arena petualangan.*

Top