Ada Harapan untuk Badak Sumatera

Harapan perbaikan populasi badak Sumatera kian besar saat “Anak Amerika” bernama Harapan itu pulang ke Kampung halamannya.

Dewi Cholidatul

Harapan berjalan-jalan sendiri di hutan dataran rendah. Menikmati tanah basah sisa tetesan embun, pagi tadi. Juga hijaunya rerimbun hutan yang dipenuhi pepohonan api-api, pidada, nipah, gelam, hingga ketapang.

Setelah lelah berjalan-jalan ia bermain-main dengan menandai tanah dengan kakinya. Beberapa ranting pepohonan kecil yang menjulur-julur di hadapannya dipelintir hingga membentuk pola. Tak lupa, ia meninggalkan kotorannya seolah berkata: Inilah daerah kekuasaanku.

Telah beberapa bulan ia menetap di kampung halaman nenek moyangnya, di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ia dikirim pulang, untuk mewujudkan harapan keberlangsungan hidup Dicerorhinus sumatrensis di habitat aslinya, Sumatera. Delapan tahun lalu, ia lahir dan dibesarkan di Cincinnati Zoo, Ohio, Amerika Serikat.

Meski lahir dan dibesarkan di Amerika, tapi badak bercula dua itu asli Sumatera. Ia dilahirkan dari pasangan Emi dan Ipuh, dua badak Sumatera yang pernah ditangkap dan dikirim ke Amerika dalam program penangkaran badak sumatera di luar habitat (ex situ), pada periode 1980-1994.

Konon, program yang digagas bersama Sumatran Rhino Trust itu untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup satwa berkulit coklat keabu-abuan atau kemerahan ini. Deforestasi hutan serta keusilan manusia sering kali menjadikannya sasaran untuk diambil cula, hingga dagingnya.

Tapi, sebagian besar dari 40 badak yang dikirim ke Amerika tersebut mati dan tidak ada keturunan yang dihasilkan selama hampir 20 tahun. Harapan adalah bagian dari program yang nyaris gagal itu.

Harapan sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi kembali dengan habitat aslinya. Bulu-bulu yang memanjang pada sekujur tubuhnya dan berfungsi sebagai penahan dingin di negeri empat musim, kini membuatnya gerah. Rambut-rambut tersebut pun mulai rontok. Ia bahkan belum bisa beradaptasi dengan beberapa jenis makanan alaminya di hutan Sumatera. Akibatnya, bobot tubuhnya sempat menurun hingga puluhan kilogram.

“Dalam sehari, dari 7 hingga 8 jenis makanan yang diberikan, ia memang masih menyantap jenis tertentu. Ini wajar dalam tahap penyesuaian,” kata Dokter Hewan Ni Made Ferawati yang menangani satwa setinggi satu meter lebih itu.

Masalah lainnya adalah parasit. Di lingkungan hutan tropis, Harapan harus beradaptasi dengan berbagai jenis serangga parasit, seperti sejenis kutu penghisap darah yang umum dijumpai di lingkungan hutan tropis. Berdasarkan laporan dari dokter hewan di Cincinnati Zoo, Harapan sebelumnya tidak berkutu.

Meski tak mudah, tetapi “anak Amerika” itu mulai bisa menyesuaikan diri. Ini terlihat dari bobot tubuhnya yang mulai meningkat hingga 30 kg, sebulan sejak dia dipulangkan. Saat dijumpai, bobot tubuhnya adalah 730 kilogram. Idealnya untuk badak sumatera jantan berusia 8 tahun bobot tubuhnya adalah sekitar 820 kilogram. Dalam sehari, ia memakanan sekitar 10 persen dari total berat tubuhnya.

“Sejauh ini, Harapan baik-baik saja. Habitatnya sesuai, suasananya nyaman. Pemantauan dilakukan 24 jam penuh termasuk pengecekan darah, urine, dan fesesnya. Bila tidak ada kelainan dia akan terus bertumbuh dengan sehat.”

Kondisi ini sekaligus memberikan optimisme dan harapan akan keberlangsungan hidupnya. Harapan diharapkan akan mampu meneruskan generasi badak di masa yang akan datang.
Populasi badak Sumatera di alam teramat sedikit. Hitungan kasar jumlah badak ini di alam bebas hanya tinggal sekitar 100 individu saja. Tahun lalu, para peneliti bahkan mengumumkan bahwa badak sumatera timur di bagian utara Kalimantan, yakni Sabah, Malaysia, telah punah.

Rencananya, Harapan akan dipertemukan dengan Rosa, saat musim kawin berikutnya. “Pejantan badak hidup soliter dan hanya bertemu dengan betina pada saat memasuki masa birahi. Dengan demikian, di alam pun tingkat fertilitas badak amat rendah.”

Tantangan pengembangbiakan badak berukuran paling mini ini tak hanya datang dari Harapan. Mengawinkan badak merupakan proses yang tak mudah, karena masa subur betina untuk benar-benar siap dibuahi pejantan hanya dalam kisaran jam dan hari. Aktivitas ini sering gagal saat betina menolak kehadiran badak jantan, yang ditandai dengan perkelahian. “Memang tak mudah, tapi segala upaya terus dilakukan,” katanya.

Taman Nasional Way Kambas sendiri merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang atau semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera.

Selain badak Sumatera, Taman Nasional seluas 125 ribu hektar ini memiliki 50 jenis mamalia lainnya, 406 jenis burung, berbagai jenis reptilia, amfibia, ikan, hingga insekta.

Tempat ini juga dijadikan sebagai pusat latihan gajah yang didirikan pada tahun 1985. Sampai saat ini telah berhasil mendidik dan menjinakan gajah sekitar 290 ekor.*’

 

Top