Salju Menipis di Danau Habema

Populasi sejumlah satwa endemik di Taman Nasional Lorentz semakin menyusut menyusul menipisnya salju di beberapa lokasi di Taman Nasional itu.

Dewi Cholidatul

Tiga ekor puyuh salju seolah terbirit di tepi danau Habema, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Barat. Kakinya yang kurus dan pendek membuatnya tampak terseok saat berjalan secepat kemampuannya. Mereka menghilang di antara semak-semak lebat yang tumbuh di tebing gunung, sebelum sebuah kamera sempat mengabadikannya. Bulunya yang cokelat gelap membuatnya sulit dibedakan dengan semak-semak yang melindungi sarangnya.

Di tengah danau itu, sepasang Anas platyrhynchos sedang mandi, seolah mahfum dan tak terganggu dengan kehadiran tentangganya. Kepalanya yang berwarna hijau mengkilap bercampur hitam diceburkan ke dalam air yang dingin. Kejernihan air danau berpasir halus itu bahkan bisa memantulkan dasar danau yang berwarna kekuningan.

Puyuh pengunungan bernama latin Anurophasis monorthonyx ini besarnya sekitar 28 cm. Satwa ini banyak ditemukan padang rumput Alpine pegunungan tengah Papua, seperti di danau Behema. Anggota genus Anurophasis ini memiliki tanduk berwarna, kaki kuning dan iris coklat.

Perjumpaan dengan satwa yang juga dikenal sebagai The Snow Mountains Quail itu bisa dibilang istimewa. Ini karena satwa yang memiliki telur bertotol-totol gelap itu hanya dapat dijumpai di daerah yang tidak dapat diakses dengan mudah, yakni pada ketinggian lebih dari 3.000-4.000 meter di atas permukaan laut.

Keterpencilan habitat itu sebetulnya sangat menguntungkan bagi perkembangbiakan populasinya yang sedikit terlindungi. Namun, evaluasi yang dilakukan Lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) justru berkata lain. Lembaga tersebut bahkan memasukkannya dalam kategori ”nyaris terancam punah” karena populasinya yang menurun. ”Sekarang hewan itu sudah sulit sekali ditemui,” kata Program Manager Lorentz WWF Indonesia Petrus A Dewantoro.

Kondisi ini terjadi karena danau yang merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz ini tak lagi dihiasi salju. Konon, pemanasan global menjadi penyebab utamanya, meskipun suhu di tempat ini rata-rata 8 derajat celsius. “Dulu juga masih ada hujan butiran es di Habema, tapi 4-5 tahun terakhir ini sudah tak ada lagi,” kata anggota staf lapangan Taman Nasional Lorentz, Jimmi Pamassangan.

Pemanasan global berdampak pada menipisnya salju ini tak hanya berdampak pada merosotnya populasi si Puyuh Salju. Beberapa satwa unik yang dulu sering ditemukan di sekitar Habema, kini sudah sulit sekali terlihat, seperti kanguru pohon, dan burung cendrawasih elok yang seolah menghilang. “Padahal, beberapa tahun lalu burung cantik nan langka itu masih dengan mudah dijumpai beterbangan di hutan-hutan di jalan akses Wamena-Habema.”

Pemanasan global ini diperparah dengan terusiknya hutan-hutan yang menjadi habitat alami satwa di Taman Nasional terluas di Asia Tenggara ini. Kondisi merisaukan bahkan terlihat dengan telanjang. Suara gergaji mesin pembalak liar memekakkan telinga tak hentinya bersahut-sahutan. Puluhan pondok penebang kayu berdiri di kanan-kiri jalan dengan kayu-kayu hasil tebangan yang siap didistribusikan.

Maraknya penebang liar itu berbarengan dengan pengerasan jalan yang dilakukan sekitar setahun terakhir ini. Jalan yang mudah diakses ditengarai membuat makin banyak orang bisa leluasa masuk hutan untuk mengambil kayu.

“Kondisi ini juga mengancam ekosistem Danau Habema. Dua jalan paralel yang saat ini tengah dibangun itu berpotensi memutus jalur hidrologi danau yang berada di tengah. ”Hal ini dikhawatirkan bisa membuat debet danau menyusut,” kata Jimmi.

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Taman seluas 2.450.000 hektare itu membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju dengan ketinggia 5.030 meter di atas permukaan laut, hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.

Luasnya bentang alam ini membuat lokasi ini mengoleksi spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah. Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya keanekaragaman hayati dengan berbagai kekhasan dan keunikan, seperti adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem. Taman Nasional Lorentz merupakan surga bagi 630 jenis burung serta dan 123 jenis mamalia.*

Top