Keahlian Baru si Ikan Karang

Ikan karang jenis Dameselfish dinilai mampu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim akibat pemanasan global, satu dekade terakhir.

Dewi Cholidatul

Seekor ikan karang menjilati serumpun Alga merah jenis Polysiphonia yang melekat di karang tak berbentuk di pantai Sukamade, bagian dari Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, Jawa Timur. Warna tubuhnya yang kelabu muda membuat ikan ini tak terlalu mencolok dibandingkan warna-warni anemon yang ikut menari ‘tertiup’ arus air.

Ikan bernama latin Stegates nigircans ini merupakan salah satu ikan karang yang banyak ditemui di pantai Sukamade, selain di beberapa kawasan lainnya. Ia memiliki panjang rata-rata 9 cm, meskipun dapat mencapai panjang 14 cm. Ikan yang masuk dalam kategori dameselfish ini berbibir putih. Sementara siripnya berwarna cokelat dengan bagian dada gelap. Ia juga memiliki 12 duri dorsal, dan 15-17 dorsal pada punggungnya.

Bulan ini seharusnya telah memasuki musim kemarau. Tapi mendung masih terus di langit, jauh di atas sana. Meski begitu, arus air tetap terasa lebih hangat, dibanding bertahun-tahun yang lalu. Tak ayal, kandungan oksigen pada air pun terasa lebih minim. Tapi hidup terus berjalan.

Semuanya, hanya karena campur tangan manusia yang gemar sekali melakukan pembakaran dengan menggunakan bahan bakar fosil. Limbahnya, karbon dioksida, dibuang begitu saja ke udara, sehingga membentuk asam lemah saat tercampur dengan air. Tak ayal, kehidupannya di laut bersama ekosistem yang terbentuk di dalamnya terancam bahaya.

“Pengasaman menimbulkan risiko mendasar terhadap terhadap ekosistem laut, jika emisi gas rumah kaca naik ke tingkat sedang hingga tinggi pada abad ini,” demikian kata sejumlah ilmuwan dari panel iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2 tahun silam.

Tak ada jalan lain, selain membuat ‘kesepakatan-kesepakatan’ baru dengan alam. Alam, yang entah bagaimana, begitu cepat berubah, begitu cepat panas dan menguapkan oksigen yang dibutuhkannya.

Ia tak mau seperti koleganya, si terumbu karang, yang tiba-tiba memutih akibat tak kuat pada gempuran panas yang terjadi di hampir semua belahan dunia. Pengasaman bahkan membuat tetangganya, seperti kerang atau lobster sulit menumbuhkan cangkang pelindung. Studi yang dilakukan beberapa ilmuwan lainnya juga menunjukkan hal tersebut juga dapat mengganggu sifat ikan, mulai dari hiu hingga salmon.

Beruntung, ia adalah sejenis ikan karang yang tak mudah menyerah. Kemampuannya untuk beradaptasi jauh di atas rata-rata biota lainnya. Perubahan kimia lautan yang terjadi akibat pemanasan global di hadapinya dengan pertahanan tubuh seperti yang mereka gunakan pada malam hari, ketika air laut tidak ramah bagi mereka.

Sejumlah peneliti menyatakan hampir semua jenis ikan mampu menyesuaikan tubuh mereka setiap hari karena tingkat karbon dioksida alami di laut memuncak pada malam hari. Kandungan CO2 tersebut akan menurun saat siang hari ketika alga, rumput laut dan tumbuhan lain menyerapnya untuk menghasilkan energi. Namun, damselfish atau ikan betok berduri ini ternyata mampu beradaptasi dengan mengatasi level karbon dioksida di air dan menghasilkan keturunan dengan jam tubuh fleksibel yang membantu mereka berdaptasi dengan pengasaman.

“Tampaknya keturunan yang toleran mungkin menyesuaikan jam sirkadian mereka seolah-olah selalu malam,” kata salah satu peneliti dari King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi, Timothy Ravasi, dalam sebuah hasil penelitian yang terbit di jurnal Nature Climate Change, baru-baru ini.

Penelitian ini dilakukan dengan cara memelihara ikan betok abu-abu dan putih di air dengan tingkat karbon dioksida sebanding dengan yang diperkirakan terjadi dalam beberapa dekade ke depan. Mereka memeriksa perubahan gen dan protein di otak mereka.

Meski begitu, para peneliti tersebut mengaku masih memerlukan lebih banyak studi lanjutan untuk melihat sejauh mana gen yang menguntungkan itu dapat diturunkan. “Ini juga harus mempertimbangkan faktor perusak lainnya yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti kenaikan suhu laut yang dapat membuat ikan berhenti berkembang biak,” kata penulis lainnya dari James Cook University, Australia, Philip Munday.

Kemampuan dameshlfish menyesuaikan diri juga telah dibuktikan oleh para ilmuwan Jepang, sebelumnya. Ikan dari spesies Stegates nigircans ini ternyata juga mampu secara selektif ‘memangkas’ alga tertentu di karang, dan membiarkan jenis alga merah kesayangannya, untuk tumbuh. Kegiatan ‘berkebun’ ini sebuah temuan baru keterkaitan mutualistik antara alga Polysiphonia dan ikan karang ini.

“Mereka membiarkan Polysiphonia dan memakan alga-alga lain. Dan ketika Polysiphonia sudah cukup lebat, mereka panen,” kata sejumlah peneliti dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Ehime, Jepang.

Leave a Reply

Top