Saat Banjir Melanda Kaziranga

Banjir tahunan yang melanda Taman Nasional Kaziranga, India, mengancam ribuan satwa langka dan di lindungi. Semua, bermuara pada perambahan hutan yang mengubah habitat di dalamnya.

Dewi Cholidatul

Air yang turun dari langit tak terlalu lebat. Hanya sesekali terdengar suara guntur yang lemah. Namun tangisan langit itu tak berhenti, sejak pertengahan bulan lalu. Sementara mendung yang menggelayut tak juga ingin beranjak dari langit Negara Bagian Assam, wilayah timur-laut India.

Seekor badak mulai gelisah, menatap ke awan berwarna kelabu yang tak beranjak dari Taman Nasional Kaziranga, Assam. Sementara di bawahnya, genangan air mulai menyentuh lebih dari separoh badannya. Arus deras yang seharusnya hanya berada di aliran sungai Brahmaputra dan tiga sungai lainnya, kini melebar. Membentuk aliran-aliran baru, genangan-genangan baru.

Kerabat Badak Jawa ini harus segera menyeberang menuju bukit-bukit Mikir. Kakinya terus berjalan-setengah berenang, meski tubuhnya mulai diserang dingin yang menusuk-nusuk kulit tebalnya. Mencari tempat yang lebih tinggi. Tak jauh darinya, seekor rusa terhanyut, terbawa arus. Ia tak mau bernasib sama.

Banjir ini banjir yang tak biasa. Ia dipicu oleh curah hujan tinggi yang tak pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, genangan air merendam banyak bagian Taman Nasional Kaziranga dan Suaka Alam Pobitora. Sedikitnya 200 hewan liar mati akibat banjir itu.

“Bangkai 13 badak telah ditemukan sejauh ini di Kaziranga. Lebih dari 152 rusa juga mati akibat banjir,” kata Petugas Divisi Taman di Taman Nasional Kaziranga, Subhasis Das.

Banjir ini bahkan memengaruhi lebih dari 1,8 juta orang di 22 distrik di negeri itu. 28 nyawa terenggut, sementara sisanya terpaksa berlindung di kamp penampungan.

Sejumlah hewan liar termasuk gajah terlihat harus berenang dan berjuang mencapai dataran tinggi. Namun sebagian dari hewan tersebut tak berhasil dan hanyut. “Lebih dari 80 persen kawasan taman nasional itu direndam air.”

Sejauh ini, para petugas hanya mampu menyelamatkan setidaknya 100 hewan liar, termasuk sembilan badak yang dilindungi.

Taman Nasional Kaziranga seolah menjadi target beberapa bencana alam dan buatan manusia dalam beberapa dekade terakhir. Banjir yang disebabkan oleh meluapnya sungai Brahmaputra ini akibat dari perambahan hutan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab di sepanjang pinggiran aliran sungai itu. Kondisi ini menyebabkan tutupan hutan semakin berkurang, dan pada akhirnya menghilangnya habitat di sekitarnya.

Tiga musim yang seharusnya menjadi berkah di kawasan seluas 429 km persegi ini, kini mengandung bencana. Sejumlah catatan menyebutkan, musim hujan yang terjadi pada Juni hingga September 2012 silam, menyebabkan 540 hewan, termasuk 13 badak, rusa dan sebagian besar babi hutan tewas. Namun, musim kering juga menciptakan masalah, seperti kekurangan pangan dan sesekali kebakaran hutan.

Taman Nasional yang terletak di kabupaten Golaghat dan Nagaon ini sejatinya menjadi tuan rumah bagi dua-pertiga badak bercula satu yang ada di dunia. Ini karena di kawasan ini, populasi badak mencapai 2.401 ekor. Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi harimau Asia, juga rumah bagi gajah Asia, kerbau liar, dan rusa. Ia bahkan dianggap penting bagi persebaran populasi burung endemik dan lahan basah bagi beberapa burung migran di dunia.

Kawasan yang terletak di sebelah timur gunung Himalaya ini juga sangat kaya akan keanekaragaman hayati, mulai dari tanaman keras hingga kecil. Pamandangan kawasan ini dipercantik dengan hamparan rumput gajah yang tinggi dan luas, rawa, dan hutan hujan tropis yang lebat. Kawasan ini dialiri empat sungai besar, termasuk Brahmaputra, yang menyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Berbagai kekayaan yang terkandung di dalam Taman Nasional yang resmi berdiri sejak 1968 ini membuat UNESCO menetapkannya sebagai salah satu situs warisan dunia.

Untuk melindungi berbagai kekayaan alam tersebut, pemerintah setempat telah mengeluarkan berbagai aturan perlindungan maksimal terhadap kawasan Taman Nasional tersebut, bahkan sejak 1891. Pemerintah setempat bahkan mengeluarkan peraturan khusus mengenai perburuan badak bercula satu, menyusul menurunnya tren populasi satwa langka tersebut selama beberapa tahun terakhir. Langkah-langkah pencegahan pun dilakukan, seperti pembangunan kamp anti-perburuan dan pemeliharaan yang sudah ada, patroli, pengumpulan intelijen, dan kontrol atas penggunaan senjata api di sekitar taman nasional.

Sejak tiga tahun silam, taman nasional tersebut bahkan menggunakan kamera drone untuk memantau seluruh kawasan, guna melindungi badak dari para pemburu.

Top